THE ART OF GOSSIP

 

a99ecb1b-f673-48f9-8a30-56f1970f7ad8

Setiap wanita pasti PERNAH bergunjing. Sesuci apapun ia mencoba menjalani kehidupannya, bergunjing atau bergossip atau membicarakan orang lain atau ‘ngrasani orang’ pastilah pernah ia lakukan. Dan sebagian (besar) perempuan memang senang bergunjing. Walaupun saat orang lain ganti mengunjingkan dirinya, ia pasti akan marah 🙂

“Eh say, lo tau nggak sih?” Merupakan pembukaan wajib dari setiap kelompok wanita yang akan memulai pergossipan. Setelah itu, bisa ditebak, cerita meluncur bak roller coaster yang rem-nya blong. Semakin banyak yang menanggapi, semakin kencang dan deras air bah gossip mengalir ke permukaan. “Gila ya. Gue nggak sangka dia begitu!” atau “Kasian ya dia…” merupakan tutupan megah dari rentetan upacara bergunjing.

Kehidupan sayapun kerap bersentuhan dengan aktifitas ini. Entah sebagai korban atau sebagai tempat menceritakan atau juga bercerita. Hal terakhir – sejalan dengan usia, kadar bergunjing saya arahkan kepada hal-hal yang amat penting (crucial) dan hanya saya bagi kepada orang yang bersangkutan atau yang dapat memberi jalan keluar (tentu saja ia haruslah seorang yang mulutnya bebas dari kebocoran ember maupun atap). HAHA…

Apakah bisa seorang wanita hidup bersih dan bebas dari gossip? Saya rasa tidak bisa sepenuhnya bebas. Mengapa? Karena sifat dasar wanita itu ngemong, peduli dan kepo. Itu sudah mendarah daging. DNA wanita adalah sebagai caretaker atau perawat bagi seisi rumahnya dimana ia terbiasa mengatasi keadaan. Dan untuk mengatasi keadaan, ia memang harus mengembangkan spirit ingin tau. Sehingga ‘otot kepo’ nya pun  menjadi terlatih. Saya tak mengatakan bahwa semua wanita senang bergossip. Tentu tidak. Tapi sebagian besar wanita pasti pernah bergossip atau menjadi korban gossip.

Lalu, apa yang harus kita lakukan bila kita berada di kedua posisi tersebut? Setelah malang melintang di dunia ini cukup lama, saya mengambil kesimpulan bahwa: “Kita tidak akan pernah dapat menghentikan gossip atau orang yang bergossip. Karena ita tak punya kuasa untuk melakukan itu. Tapi kita punya kuasa untuk menjauhkan diri, menolak untuk berada dalam lingkaran gossip serta menangkis kesempatan untuk menjadi korbannya!”

Bagaimana caranya?

Kita bicara dari sisi korban gossip. Jika Anda adalah si korban, maka segala sesuatunya KEMBALI pada cara Anda mencerna, memahami, melihat latar belakang serta bagaimana harus bersikap terhadap gossip tersebut. Musuh gossip adalah ketidak pedulian. Jika Anda tahu bahwa gossip yang disebarkan tidak benar, jangan takut untuk mengambil sikap tidak peduli. Karena tidak ada gunanya menjelaskan atau berjerih lelah membela diri dihadapan kaum yang menggosipkan Anda. pikiran mereka sudah di-setting untuk bergossip, sehingga apapun yang kita coba jelaskan hanya akan dianggap sebagai usaha untuk membenarkan diri sendiri. And believe it or not, jika kita berusaha menjelaskan, maka penjelasan kita akan mereka gunakan untuk bergossip PART DEUX. LOL!

Yang berikutnya, bagaimana kalau kitalah biang keroknya? Seperti sudah saya ungkap diawal postingan ini, tak ada satu orangpun yang benar-benar TAK PERNAH bergossip. Benar kan? Jika kita adalah salah satu yang atau berada dalam kelompok bergunjing, meminta maaf merupakan satu-satunya jalan keluar. Jika kita tak bisa melakukannya secara langsung, menuliskan pesan melalui chat apps atau email merupakan ide baik. Karena kita dapat menyusun kata-kata dengan lebih detail dan santun, tanpa harus pusing mengatur nada bicara atau bahasa tubuh kita.

Lalu bagaimana kalau dia tidak bisa memaafkan kita? Well, the ball is in her hands. Tugas Anda adalah meminta maaf. Jika si korban tak memaafkan, masalahnya sudah bukan pada Anda. Tapi pada hati, pikiran dan perasaannya yang belum dewasa. Jangan merasa bersalah. Karena saat Anda meminta maaf, Anda telah menggenggam kemerdekaan. Jangan menyerahkan kemerdekaan Anda kepada rasa takut, sungkan, tidak enak hati dan perasaan negatif lainnya, hanya karena dia tak bisa atau belum memaafkan Anda. Dengan demikian Anda akan benar-benar lepas dari masalah ini.

Satu hal yang penting untuk diketahui, jika ada gossip tentang seseorang yang Anda kenal dekat, jangan didiamkan, dan jangan langsung terpengaruh dengan gossipnya. Taukah Anda, membiarkan gossip tentang kawan baik kita beredar merupakan sebuah tindakan yang jahat. Tanyakan kebenarannya pada orang yang bersangkutan, sehingga bila dilain waktu kisah itu muncul lagi, Anda dapat mengambil sikap untuk menangkis ketidak benaran itu. Bergaul dan berkawan memang sebuah kebutuhan, terutama bagi kaum Hawa. Tetapi menceburkan diri dalam lingkaran gossip adalah pilihan. Jadilah bijak dalam menentukan sikap dalam pergaulan. Sebisa mungkin, hindari diri dari bergunjing. Karena toh kita pernah juga merasakan sakitnya digossipkan. Jangan takut kehilangan teman. Jika memang Anda terpaksa menjauhkan diri dari kelompok pertemanan yang penuh racun dan senang bergunjing. Karena teman pasti ada dimana saja, relasi baru dapat dibangun kapan saja dan dengan siapa saja. (KB / Illustration by: Megan Hess)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s