SENSITIF! 

Sama seperti rasa haus, sensitifitas itu penting dimiliki oleh setiap manusia. Hanya saja, untuk situasi yang bagaimana ia patut dihadirkan? Banyak persoalan hidup terselesaikan dengan hadirnya sensitifitas. Namun banyak juga masalah timbul karena kita salah menggunakan keberadaannya. Salah tempat, salah orang, salah sasaran. Semakin dewasa seseorang, sebaiknya semakin pula ia mengerti bagaimana CARA TEPAT memaknai dan mengolah rasa ini dalam kehidupannya. Perasaan sensitif yang dimunculkan pada waktu dan kondisi yang kurang tepat hanya akan melukai diri sendiri. 
Tak ada cara khusus untuk mengasah kepandaian dalam mempergunakan rasa ini, selain melatih diri untuk fokus pada hal-hal yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Mari pikirkan semua itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaKU – kata Tuhan nih, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.
Yuk “melek rasa”. Pinteran dikit mengolah sensitifitas untuk hal-hal yang lebih mulia. Belajar me-manage perasaan untuk hal-hal yang lebih berguna. Pakai rasa haus dan lapar untuk pengetahuan, pembelajaran demi peningkatan kualitas diri. Pakai rasa sensitif untuk lebih berempati pada kesulitan hidup orang lain dan pada kebutuhan sesama untuk dikasihi, dilindungi dan dibahagiakan. Bukan sensi untuk hal-hal yang kurang penting, tidak jelas atau kekanak-kanakan. Tuhan udah mau datang say! Fokuuuussss okheeyyy…

Advertisements

MERDEKA UNTUK DEWASA

Jadilah manusia yang merdeka seutuhnya, dengan TIDAK TAKUT untuk menjadi diri sendiri baik melalui pikiran, perasaan, perbuatan maupun penampilan. Karena dunia ini berwarna bukan karena kita sama, tetapi karena kita unik dan berbeda. 

Sekitar dua minggu yang lalu, negara kita baru saja merayakan Hari Kemerdekaannya. Saat kecil, perayaan ini tak memiliki arti apapun bagi saya pribadi. Saya hanya selalu gembira menyambut hari ini. Karena pertama, itu adalah hari ulang tahun ayah saya. Dan kedua, ada banyak acara menarik di kota saya saat tujuh belasan. Favorit saya: lari karung dan tarik tambang.
Semakin dewasa, saya semakin bisa menghargai arti kemerdekaan yang sebenarnya. Tidak hanya secara umum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun lebih dari itu, mewujudkan kemerdekaan yang dapat saya aplikasikan dalam kehidupan pribadi sehari-hari. Saya semakin yakin, bahwa kemerdekaan itu memang HAK SEGALA BANGSA (aka: setiap umat manusia). Tetapi kemerdekaan seperti apa? Tentu saja yang bertanggung jawab. 
Dengan semakin bertambahnya usia, saya merasa HARUS mempraktekkan KEMERDEKAAN dengan lebih nyata dalam hidup saya. Diantaranya adalah:


1. Merdeka dari tekanan. 

Saya menolak untuk menjadi seorang yang hidup dibawah tekanan / pressure yang tidak perlu. Seperti omongan orang, pendapat orang yang sok tahu dan keliru tentang diri saya, fitnah, gossip dan hal-hal sejenis lainnya. Saya melepaskan diri dari keinginan untuk selalu MEMBUKTIKAN bahwa saya benar. Saya memilih untuk tidak peduli saat orang berkata-kata yang jahat tentang saya. Itu hak mereka, dan merupakan hak saya juga untuk memilih diam dan tak peduli. Saya hanya tidak ingin suhu hati saya ditentukan oleh mulut orang yang tidak bertanggung jawab.


2. Merdeka dari tuduhan.

Tuduhan tak melulu datang dari pihak luar lho! Tuduhan terbesar dan terberat dalam hidup justru datang dari diri sendiri. Seringkali tanpa sadar, hati saya menuduh diri sendiri tentang banyak hal. Mulai dari soal penampilan, sikap, cara saya melakukan atau mengatasi sesuatu dan masih banyak lagi.

“Duh kamu tuh, liat deh! Udah gendut. Gimana sih? Ntar jelek lho kalo pake baju…”

“Masa menyelesaikan masalah segitu aja nggak bisa? Ibu macam apa kamu? Istri macam apa kamu? Teman macam apa kamu?”

“Liat tuh! Si A bilang kamu begini. Sana gih, bela diri… Jangan terima dong dikatain begitu.”

Tentu kita akrab dengan kalimat-kalimat diatas. Dan seringkali perkataan-perkataan itu justru datang dari dalam diri sendiri. Karena sesungguhnya, musuh terbesar kita adalah diri, pikiran dan perasaan kita sendiri! Semakin kemari, saya merasa semakin membutuhkan ketenangan hati dan pikiran. Untuk itulah saya perlu memerdekakan diri dari segala bentuk tuduhan. The older I get, the more careful I am in choosing the battle in my daily life. I dont want to fight for things that are not worthy of my time and energy. 

3. Merdeka dari ketakutan untuk berjalan sendiri.

Saat memasuki usia 30-an, saya belajar satu hal penting tentang persahabatan dan hubungan dengan orang-orang di sekitar saya (diluar hubungan keluarga). Saya belajar bahwa, pada akhirnya, pertemanan itu sifatnya selalu datang dan pergi. Ada kawan yang hilang, ada kawan baru datang. Ada teman yang pergi, lalu ada teman baru yang hadir. Hal ini adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan. 

Sejak itu saya berhenti untuk ‘berusaha keras’ menyenangkan semua orang dan memutuskan untuk, “Saya hanya akan berusaha menjadi teman yang baik. Diluar itu, saya tidak akan ambil pusing.” Pemikiran seperti ini membuat hidup saya jauh lebih tenang dan damai. Saya tidak pernah harus ‘terpaksa’ untuk menyenangkan semua orang, saya bisa tampil apa adanya sesuai karakter diri sendiri. Saya bebas mengekspresikan diri saya (melalui penampilan, pola pikir, mengekspresikan perasaan, dsb). 

Saya berhenti merasa takut kehilangan teman. Saya memerdekakan diri dari kebutuhan untuk DIAKUI oleh kelompok tertentu dan BERJUANG untuk diterima. Tidak! Kehidupan kita akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kawan-kawan yang kita miliki sekarang. Yang datang, biarlah datang. Yang pergi, biarkan pergi. Karena teman sejati akan tersaring dengan sendirinya. Mereka adalah orang-orang yang akan TINGGAL TETAP walaupun harus mengalami berbagai situasi serusuh dan segila apapun!
Tiga hal ini rasanya cukup mewakili pemikiran saya tentang mengartikan kemerdekaan bagi diri sendiri. Saya hanya ingin kita semua dapat menjadi orang yang benar-benar merdeka. Bebas namun bertanggung jawab, tegas tapi penuh belas kasihan. Teguh namun pemaaf. Mengasihi sesama tapi tak mudah dipermainkan. Jadilah manusia yang merdeka seutuhnya, dengan TIDAK TAKUT untuk menjadi diri sendiri baik melalui pikiran, perasaan, perbuatan maupun penampilan. Karena dunia ini berwarna bukan karena kita sama, tetapi karena kita unik dan berbeda. (KarinaBDMN)