INNER BEAUTY

Lebih dari itu, saya sama sekali tidak melihat inner beauty sebagai “PASRAH” menerima kondisi fisik kita yang jelek, jerawatan, kumel, dekil, (maaf) berlebihan berat badan, berbau mulut, bau badan, dengan model rambut jaman batu, fashion yang entah dari planet mana, dan seterusnya. Lalu berkata: “Aku mah emang gini orangnya. Kan yang penting inner beauty.”

Apa sih inner beauty itu menurut kalian? Bukannya saya nggak ngerti. Tapi saya agak bingung melihat beberapa orang yang ‘religious’ (terlepas dari agama apapun) dalam mengartikan inner beauty sebagai hidup tanpa usaha – terutama soal mengusahakan penampilan, attitude dan sikap. Saya punya beberapa kawan yang, mohon maaf, setiap kali saya coba ajarkan sesuatu, serta-merta ia akan menjawab: “Ah, buat apa. Yang penting kan inner beauty. Aku mah terima apa adanya.” Well, sekilas pernyataan ini terdengar sangat benar dan sangat rohani. Tetapi coba kita pikir-pikir lagi, apakah ada dalam firman Tuhan (di kitab agama manapun) yang menista aktifitas merawat diri? Saya yakin tidak ada.

Jikapun ada, satu-satunya “kesalahan” yang dianggap keji bagi Tuhan adalah apabila kita HANYA memikirkan penampilan fisik dan tidak mempedulikan hal-hal lain, itu adalah kesalahan mutlak seorang wanita. Ada sebuah ayat didalam kitab suci saya yang berkata: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:19-20).

Kesadaran penuh bahwa Roh Kudus ada dan berdiam didalam diri kita haruslah menjadi awal pertobatan kita dalam memperlakukan tubuh, jiwa dan roh kita. Ada batasan yang harus kita buat, demi menyadari bahwa ada sosok yang begitu kudus dan mulia yang berdiam didalam diri kita. Tentu saja hal-hal serupa berzinah, merusak diri dengan NARKOBA atau hidup tanpa tanggung jawab terhadap kesehatan SUDAH SELAYAKNYA menjadi perhatian utama bagi kita (untuk dijauhi dan tidak dilakukan). Tetapi banyak orang hanya berhenti sampai disini saja. Padahal saya percaya, ada BANYAK HAL lain yang ‘kelihatannya kecil dan tidak penting’, yang HARUS kita perhatikan dan lakukan demi menghargai tubuh yang telah TUHAN beri.

Dulu saya sangat anti dengan wanita-wanita rohani. Mengapa? Karena saya memiliki gambaran / image tersendiri tentang penampilan dan attitude mereka. Sejujurnya, mereka membuat saya muak dan antipati. Pengalaman saya bersentuhan atau bergaul dengan mereka jarang sekali berakhir indah. Karena kelompok wanita yang (mengaku) KUDUS ini adalah sekumpulan orang yang berpenampilan mengerikan! Kuno, dekil, sombong, sok suci, kata-kata yang dikeluarkan dari mulut mereka tidak sopan, sinis dan begitu penuh penghakiman terhadap saya (yang saat itu masih tercatat sebagai kaum elite kerajaan disko! LOL..) Saya jadi malas mengenal mereka. Saya melihat mereka sebagai sosok aneh serupa alien. Karena mereka hidup dalam dunia yang serba: “Ini dosa. Itu dosa. Ini tidak boleh. Itu tidak boleh.” Sambil menunjuk-nunjuk pada setiap orang yang dilihat atau dianggapnya kurang senonoh dalam berpenampilan.

Oh hellow! Saat itu saya hanya berpikir satu hal: “Lebih baik saya sampai mampus nggak kenal sama kalian. Nggak gaul sama kalian. Kalau begini cara kalian merepresentasi diri. Begitu kuno, norak, kampungan dan sinis.” Tapi tentu saja Tuhan tidak membiarkan saya terus berada dalam pemikiran seperti itu. Sampai suatu saat, saya sendiri mengalami jamahan Tuhan dan memutuskan untuk hidup sesuai rencanaNya. Bertobat dari kehidupan lama saya dan memulai sebuah kehidupan baru yang lebih baik. Tapi satu tekad saya: “Saya tidak akan pernah sudi berpenampilan seperti mereka. Saya akan hidup sesuai firmanNya, tetapi saya akan membuat diri saya menjadi seorang yang berpenampilan baik, kekinian, menyenangkan dan (kalo boleh…) menjadi inspirasi bagi banyak perempuan lain.”

Inner beauty bagi saya adalah bagaimana kita melakukan dengan tulus setiap firman yang Tuhan katakan dan perintahkan. Mengasihi, menerima, memaafkan, mengerti dan tidak menghakimi orang lain merupakan ciri-ciri inner beauty yang harus sama-sama kita kejar dan lakukan setiap saat. Tentu saja sesekali kita tetap PERLU menegur saudara/i seiman yang melakukan hal tidak baik, tetapi tidak dengan penghakiman. Lebih dari itu, saya sama sekali tidak melihat inner beauty sebagai “PASRAH” menerima kondisi fisik kita yang jelek, jerawatan, kumel, dekil, (maaf) berlebihan berat badan, berbau mulut, bau badan, dengan model rambut jaman batu, fashion yang entah dari planet mana, dan seterusnya. Lalu berkata: “Aku mah emang gini orangnya. Apa adanya. Nggak perlulah berlebihan mendandani diri. Yang penting orang tahu hatiku kok. Kan yang penting inner beauty.” Never, ever come to me with that sentence.

“ANDA HARUS MEMBERI KESEMPATAN KEPADA INNER BEAUTY (KECANTIKAN BATHIN) MU UNTUK MUNCUL KE PERMUKAAN DAN DILIHAT /DIRASAKAN ORANG LAIN.” Tidak semua manusia berbakat menjadi seorang paranormal. Jadi jangan harap bahwa setiap orang yang bertemu dengan Anda serta-merta dapat tahu atau merasakan bahwa inner beauty Anda begitu luar biasa indahnya. Oh, please! Jika Anda datang dengan ciri-ciri MENGERIKAN seperti yang saya deskripsikan diatas, SAYA JAMIN, tidak ada seorangpun yang ingin mengenal Anda lebih jauh, apalagi ingin mengetahui inner beauty Anda. Karena mereka sudah keburu kabur melihat your ugly outer!

Oleh karena itu, mulai hari ini, marilah kita sama-sama bertobat dari penampilan kita yang mengerikan dan menggunakan kata inner beauty sebagai tameng. Mulailah memperbaiki diri secara perlahan. Jangan salah mengartikan penampilan cantik dan menarik sebagai biaya mahal atau roh konsumerisme. Karena berpenampilan baik modalnya hanyalah kepercayaan diri (untuk yakin bahwa saya bisa berubah dan terlihat lebih baik). Waktu, kesabaran dan biaya lah yang HARUS disesuaikan dengan kemampuan kita! Anda dapat kirim message kepada saya jika tidak tahu bagaimana cara berdandan dengan biaya minimalis. SAYA AHLINYA! Miliki hati yang mau belajar dan diajar. Milikilah semangat kekinian (dalam kadar normal dan untuk segala hal) agar kita dapat membaur dengan manusia di sekeliling kita. Mengetahui apa yang sedang trend bukanlah dosa. Karena tetap kitalah yang menjadi penentu terhadap apa yang cocok dan sesuai dengan kepribadian dan style kita.

Akhir kata, berhentilah menggunakan kata inner beauty untuk maksud dan pengertian yang salah. Dan berhentilah menjadi pribadi sinis yang menghakimi orang hanya karena kamu tidak mampu mengimbangi penampilan mereka yang (lebih) happening. Pribadi yang ramah dan menyenangkan itu jauh lebih mengesankan. Anyway, your outer self is as precious as your inner self, cause God create both your inner and outer beauty. So have some respect for them both. (KB)

Advertisements

SIAP DITOLONG!

Setiap kita dalam suatu waktu pastilah membutuhkan pertolongan. Entah itu untuk sebuah hal sederhana atau hal berat yang memang nyata-nyata tidak mampu untuk kita lakukan sendiri. Namun sadarkah kita, saat kita membutuhkan pertolongan, kita juga perlu memiliki sikap yang ‘siap untuk menerima pertolongan’? Seringkali, kita meminta tolong, namun sikap kita berkata lain.

Saya sering menerima curhatan dari teman-teman tentang berbagai hal. Soal rumah tangga, suami, anak, pekerjaan, pertemanan dan banyak lagi. Saat seorang teman mulai curhat, saya biasanya akan memperhatikan sikapnya dalam meminta tolong. “Aku harus gimana ya?” Begitu selalu awalnya. Saya akan memancing dengan sebuah solusi HANYA UNTUK MELIHAT sikap dia, apakah dia siap ditolong atau tidak.

Jika ia mendengar hanya untuk menjawab, selalu mencari-cari alasan dibalik sikapnya yang enggan berubah, merasa diri paling benar, dst, maka dipastikan orang ini tidak ingin ditolong. Dia hanya butuh tempat sampah untuk curhat. Lalu, apa saja sikap yang perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin ditolong dan menerima pertolongan, agar hidupnya BERUBAH? Beberapa hal berikut ini mungkin bisa menjadi checklist kita semua.

1. Sebuah pengakuan.

Seseorang yang benar-benar butuh pertolongan akan mengakui bahwa dirinya memang butuh, tidak sanggup lagi melakukannya seorang diri dan siap menerima bantuan. Ia sudah tidak berada di fase denial, dimana ia masih merasa mampu. Pengakuan seseorang bahwa ia membutuhkan pertolongan merupakan sebuah awal yang penting bagi terjadinya perubahan dalam hidup. So it’s a good sign.

2. Tidak merasa paling benar.

“Iya, saya sadar ini kesalahan saya. Oleh karena itu saya ingin memperbaikinya.” Ini adalah sebuah sikap keterbukaan diri yang perlu dimiliki seorang yang butuh pertolongan. Karena sikap ini menunjukkan bahwa ia mendengar nasehat untuk belajar, bukan untuk berdebat atau adu mulut. Orang yang selalu merasa dirinya paling benar akan sulit menerima pertolongan. Karena ia seperti mementahkan kembali setiap saran yang diterimanya dengan argumen-argumen yang dia katakan.

3. To do whatever it takes, WHOLEHEARTEDLY.

“Sudah! Saya sudah melakukan ini. Itu. Tapi tetap saja tidak berhasil.” Seorang yang berkata demikian DAPAT DIPASTIKAN bahwa ia melakukan usaha perbaikan namun tidak disertai dengan sikap positif. Ia melakukannya lebih karena terpaksa atau karena tak ada pilihan lain. Jika kita ingin melihat perubahan, lakukanlah segala usaha dengan tulus hati. Mengapa? Karena ketulusan hati tidak bisa bohong. Melakukan sesuatu dengan tulus akan terpancar di wajah, terdengar dalam nada suara dan terbaca lewat bahasa tubuh kita. Orang akan mengetahui apakah kita melakukan atau mengatakan sesuatu dengan segenap hati atau tidak. So be careful! And do everything WHOLEHEARTEDLY.

4. Mengusahakan segala sesuatu demi perubahan, bukan untuk menang sendiri.

“Oke. Aku ngalah! Tapi inget ya, aku ngalah bukan karena aku takut sama kamu. Tapi karena aku nggak mau ribut.”

“Oke. Sorry! Aku minta maaf. Sebenernya aku nggak merasa salah, tapi kalo menurut kamu aku salah, ya ok. Aku minta maaf.”

Dua ungkapan diatas menunjukkan dengan jelas bahwa mereka melakukan YANG BENAR bukan untuk mengalami atau membuat sebuah perubahan positif, tapi hanya untuk pamer dan menang sendiri. Apakah pihak lawan merasa dihargai dengan sikap tersebut? Tentu tidak! Apakah orang ini bersikap tulus dalam melakukan apa yang dia lakukan? Jelas tidak!

5. Fokus pada penyelesaian masalah.

“Mungkin ada baiknya kamu melakukan ini…”

“Aduh, udah say! Aku udah lakukan itu. Tapi tetep aja dia bla, bla, bla…”

Di dunia ini nggak ada hal yang instan. Jika kita melakukan atau mengusahakan sesuatu untuk mendatangkan sebuah perubahan positif, maka kita perlu melakukannya berulang-ulang, dengan gigih, dengan sikap hati yang benar, dengan penuh pengharapan bahwa suatu hari perubahan itu PASTI akan terjadi. Sikap seperti inilah yang dbutuhkan seseorang yang SIAP menerima pertolongan dan perubahan dalam hidupnya.

Jadi yuk kita berhenti mencari-cari alasan. Mulailah fokus pada perubahan yang ingin kita capai. Lakukan segala hal dengan tulus hati. Karena ketulusan hati itu terbaca melampaui perkataan hebat manapun! Jika kita tahu bahwa kita membutuhkan pertolongan untuk mengubah keadaan kita menjadi lebih baik, jadilah seorang yang mudah mendengarkan, mudah dajak untuk bekerjasama, memiliki hati yang mau diajar, dan yang paling penting, tidak mudah putus asa. Anda butuh pertolongan? Bersiaplah untuk menerima pertolongan dengan lebih dulu mengubah sikap Anda yang negatif. Maka perubahan positif akan segera terjadi dalam kehidupan Anda. (KB)