TENTANG SI PAHIT

Kesadaran adalah langkah pertama, dan kerendahan hati adalah yang utama. Orang yang tak sudi mencari dan tak bersedia menerima pertolongan mungkin memang membutuhkan waktu lebih untuk menyadari kesombongannya. Pertanyaannya: Sampai kapan? Karena WAKTU tentulah ada batasnya.
Pernah melihat seorang yang hidupnya dirundung rasa pahit namun tidak memiliki keinginan untuk keluar dari situasi tersebut? Biasanya orang seperti ini senang sekali menempatkan diri sebagai korban. Dan selalu menunjuk orang lain, keadaan atau kekurangan dirinya sebagai biang kerok atas keadaan hidupnya yang pahit.
“Gara-gara orangtua saya makanya saya begini…”
“Si A yang membuat saya begini. Coba kalo dia tidak begitu, pasti saya akan baik-baik saja.”
“Ya jelaslah kamu bisa bilang begitu. Kamu kan nggak di posisi saya. Coba kalo kamu jadi saya….”
Dan nggak cukup sampai disitu, biasanya Si Pahit akan mulai menunjuk-nunjuk setiap orang disekitarnya dan menyalahkan mereka karena merasa tidak menerima pertolongan yang SEHARUSNYA ia dapatkan. “Mereka kan tau saya begini. Harusnya mereka menolong saya…” Adalah ucapan yang sebenarnya kurang sinkron dengan sikapnya yang justru menjauh, menutup diri, tidak ingin disalahkan, tidak suka dikritik, tidak mau diperbaiki, membenci teguran (apalagi nasehat!) dan tidak suka diajar.
Ia ingin perubahan itu datang bak magic. Padahal kita semua tau, selain magic com dan magic jar, nggak ada satupun masalah hidup ini yang dapat diubah menjadi ‘cantik dan enak’ dalam 25 menit, jika tanpa usaha dari diri sendiri.
Buat temen-temen yang menghadapi seseorang yang seperti ini, bersabarlah. Dan ingat, kamu tidak bertanggung jawab atas keadaan mereka, karena itu semua adalah hasil dari pilihan hidup mereka. Jadi jangan pernah turut merasa bersalah karena tidak mampu menolong. Karena sejatinya, pertolongan itu diberikan kepada mereka yang membuka diri untuk ditolong. Banyak orang yang (sebetulnya) butuh pertolongan. Namun seringkali mereka tidak ingin ditolong.
Menggemaskan memang saat melihat mereka menunjuk-nunjuk wajah kita dan mempersalahkan kita karena (seolah) membiarkan mereka dalam kondisi seperti itu. Namun sesungguhnya, seseorang perlu disadarkan bahwa: “obat hanya bisa bekerja jika kita bersedia membuka mulut dan menelannya.”
Menyaksikan kehidupan Si Pahit tentu memprihatikan kita. Tapi jika mereka tak mau membuka diri untuk sembuh dan merdeka, jangan pernah menyalahkan diri kita. Tetaplah berdoa, tetaplah membuka diri untuk senantiasa dalam posisi “bersedia menolong”. Tapi jangan pernah memaksakan (apalagi merelakan) diri untuk masuk dalam kerumitan hidup mereka.

Karena sesungguhnya, mereka membutuhkan KESADARAN penuh untuk melangkah masuk dalam kesembuhan hidupnya. Kesadaran adalah langkah pertama, dan kerendahan hati adalah yang utama. Orang yang tak sudi mencari dan tak bersedia menerima pertolongan mungkin memang membutuhkan waktu lebih untuk menyadari kesombongannya.

Pertanyaannya: Sampai kapan? Karena WAKTU tentulah ada batasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s