SENSITIF! 

Sama seperti rasa haus, sensitifitas itu penting dimiliki oleh setiap manusia. Hanya saja, untuk situasi yang bagaimana ia patut dihadirkan? Banyak persoalan hidup terselesaikan dengan hadirnya sensitifitas. Namun banyak juga masalah timbul karena kita salah menggunakan keberadaannya. Salah tempat, salah orang, salah sasaran. Semakin dewasa seseorang, sebaiknya semakin pula ia mengerti bagaimana CARA TEPAT memaknai dan mengolah rasa ini dalam kehidupannya. Perasaan sensitif yang dimunculkan pada waktu dan kondisi yang kurang tepat hanya akan melukai diri sendiri. 
Tak ada cara khusus untuk mengasah kepandaian dalam mempergunakan rasa ini, selain melatih diri untuk fokus pada hal-hal yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Mari pikirkan semua itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaKU – kata Tuhan nih, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.
Yuk “melek rasa”. Pinteran dikit mengolah sensitifitas untuk hal-hal yang lebih mulia. Belajar me-manage perasaan untuk hal-hal yang lebih berguna. Pakai rasa haus dan lapar untuk pengetahuan, pembelajaran demi peningkatan kualitas diri. Pakai rasa sensitif untuk lebih berempati pada kesulitan hidup orang lain dan pada kebutuhan sesama untuk dikasihi, dilindungi dan dibahagiakan. Bukan sensi untuk hal-hal yang kurang penting, tidak jelas atau kekanak-kanakan. Tuhan udah mau datang say! Fokuuuussss okheeyyy…

Advertisements

MERDEKA UNTUK DEWASA

Jadilah manusia yang merdeka seutuhnya, dengan TIDAK TAKUT untuk menjadi diri sendiri baik melalui pikiran, perasaan, perbuatan maupun penampilan. Karena dunia ini berwarna bukan karena kita sama, tetapi karena kita unik dan berbeda. 

Sekitar dua minggu yang lalu, negara kita baru saja merayakan Hari Kemerdekaannya. Saat kecil, perayaan ini tak memiliki arti apapun bagi saya pribadi. Saya hanya selalu gembira menyambut hari ini. Karena pertama, itu adalah hari ulang tahun ayah saya. Dan kedua, ada banyak acara menarik di kota saya saat tujuh belasan. Favorit saya: lari karung dan tarik tambang.
Semakin dewasa, saya semakin bisa menghargai arti kemerdekaan yang sebenarnya. Tidak hanya secara umum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun lebih dari itu, mewujudkan kemerdekaan yang dapat saya aplikasikan dalam kehidupan pribadi sehari-hari. Saya semakin yakin, bahwa kemerdekaan itu memang HAK SEGALA BANGSA (aka: setiap umat manusia). Tetapi kemerdekaan seperti apa? Tentu saja yang bertanggung jawab. 
Dengan semakin bertambahnya usia, saya merasa HARUS mempraktekkan KEMERDEKAAN dengan lebih nyata dalam hidup saya. Diantaranya adalah:


1. Merdeka dari tekanan. 

Saya menolak untuk menjadi seorang yang hidup dibawah tekanan / pressure yang tidak perlu. Seperti omongan orang, pendapat orang yang sok tahu dan keliru tentang diri saya, fitnah, gossip dan hal-hal sejenis lainnya. Saya melepaskan diri dari keinginan untuk selalu MEMBUKTIKAN bahwa saya benar. Saya memilih untuk tidak peduli saat orang berkata-kata yang jahat tentang saya. Itu hak mereka, dan merupakan hak saya juga untuk memilih diam dan tak peduli. Saya hanya tidak ingin suhu hati saya ditentukan oleh mulut orang yang tidak bertanggung jawab.


2. Merdeka dari tuduhan.

Tuduhan tak melulu datang dari pihak luar lho! Tuduhan terbesar dan terberat dalam hidup justru datang dari diri sendiri. Seringkali tanpa sadar, hati saya menuduh diri sendiri tentang banyak hal. Mulai dari soal penampilan, sikap, cara saya melakukan atau mengatasi sesuatu dan masih banyak lagi.

“Duh kamu tuh, liat deh! Udah gendut. Gimana sih? Ntar jelek lho kalo pake baju…”

“Masa menyelesaikan masalah segitu aja nggak bisa? Ibu macam apa kamu? Istri macam apa kamu? Teman macam apa kamu?”

“Liat tuh! Si A bilang kamu begini. Sana gih, bela diri… Jangan terima dong dikatain begitu.”

Tentu kita akrab dengan kalimat-kalimat diatas. Dan seringkali perkataan-perkataan itu justru datang dari dalam diri sendiri. Karena sesungguhnya, musuh terbesar kita adalah diri, pikiran dan perasaan kita sendiri! Semakin kemari, saya merasa semakin membutuhkan ketenangan hati dan pikiran. Untuk itulah saya perlu memerdekakan diri dari segala bentuk tuduhan. The older I get, the more careful I am in choosing the battle in my daily life. I dont want to fight for things that are not worthy of my time and energy. 

3. Merdeka dari ketakutan untuk berjalan sendiri.

Saat memasuki usia 30-an, saya belajar satu hal penting tentang persahabatan dan hubungan dengan orang-orang di sekitar saya (diluar hubungan keluarga). Saya belajar bahwa, pada akhirnya, pertemanan itu sifatnya selalu datang dan pergi. Ada kawan yang hilang, ada kawan baru datang. Ada teman yang pergi, lalu ada teman baru yang hadir. Hal ini adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan. 

Sejak itu saya berhenti untuk ‘berusaha keras’ menyenangkan semua orang dan memutuskan untuk, “Saya hanya akan berusaha menjadi teman yang baik. Diluar itu, saya tidak akan ambil pusing.” Pemikiran seperti ini membuat hidup saya jauh lebih tenang dan damai. Saya tidak pernah harus ‘terpaksa’ untuk menyenangkan semua orang, saya bisa tampil apa adanya sesuai karakter diri sendiri. Saya bebas mengekspresikan diri saya (melalui penampilan, pola pikir, mengekspresikan perasaan, dsb). 

Saya berhenti merasa takut kehilangan teman. Saya memerdekakan diri dari kebutuhan untuk DIAKUI oleh kelompok tertentu dan BERJUANG untuk diterima. Tidak! Kehidupan kita akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kawan-kawan yang kita miliki sekarang. Yang datang, biarlah datang. Yang pergi, biarkan pergi. Karena teman sejati akan tersaring dengan sendirinya. Mereka adalah orang-orang yang akan TINGGAL TETAP walaupun harus mengalami berbagai situasi serusuh dan segila apapun!
Tiga hal ini rasanya cukup mewakili pemikiran saya tentang mengartikan kemerdekaan bagi diri sendiri. Saya hanya ingin kita semua dapat menjadi orang yang benar-benar merdeka. Bebas namun bertanggung jawab, tegas tapi penuh belas kasihan. Teguh namun pemaaf. Mengasihi sesama tapi tak mudah dipermainkan. Jadilah manusia yang merdeka seutuhnya, dengan TIDAK TAKUT untuk menjadi diri sendiri baik melalui pikiran, perasaan, perbuatan maupun penampilan. Karena dunia ini berwarna bukan karena kita sama, tetapi karena kita unik dan berbeda. (KarinaBDMN)



THE STORY OF FEAR VS FAITH

In 2002, Ingrid Betancourt was campaigning to become president of Colombia when she was kidnapped by guerillas. She was held in the jungle for six years. With fear her constant companion, she learned how to use it and grow.

The first time I felt fear I was 41 years old. People have always said I was brave. When I was little, I’d climb the highest tree, and I’d approach any animal fearlessly. I liked challenges. My father used to say, “Good steel can withstand any temperature.”

And when I entered into politics in Colombia, I thought I’d be able to withstand anything. I wanted to end corruption; I wanted to cut ties between politicians and drug traffickers. The first time I was elected, it was because I called out corrupt and untouchable politicians by name. I also called out the president for his ties to the cartels.

That’s when the threats started. As a result, one morning I had to send my very young children, hidden in the French ambassador’s armored car, to the airport to stay out of the country. Days later, I was the victim of an attack but I emerged unharmed. And the following year, the Colombian people elected me with the highest number of votes. I thought people applauded me because I was brave. I, too, thought I was brave.

But I wasn’t. I had simply never experienced true fear.

I went to sleep in fear every night — cold sweats, shakes, stomach aches — but worse than that was what was happening to my mind.

That changed on February 23, 2002. At the time, I was promoting my campaign agenda as a presidential candidate when I was detained by a group of armed men. They were wearing uniforms with military garments. I looked at their boots — they were rubber, and I knew that the Colombian army wore leather boots — so I knew these were FARC (Revolutionary Armed Forces of Colombia) guerrillas.

From that point on, everything happened very quickly. The commando leader ordered us to stop the vehicle. Meanwhile, one of his men stepped on an anti-personnel mine and flew through the air. He landed, sitting upright, in front of me. We made eye contact, and it was then that the young man understood: his rubber boot with his leg still in it had landed far away. He started screaming like crazy.

The truth is, I felt — as I feel right now, because I’m reliving these emotions — I felt at that moment that something inside of me was breaking and that I was being infected with his fear. My mind went blank and couldn’t think; it was paralyzed. When I finally reacted, I said to myself, “They’re going to kill me, and I didn’t say goodbye to my children.” As they took me into the deepest depths of the jungle, the FARC soldiers announced that if the government didn’t negotiate, they’d kill me. And I knew that the government wouldn’t negotiate.

I was suffering enormous behavioral changes, and it wasn’t just paranoia. It was also the urge to kill.

I went to sleep in fear every night — cold sweats, shakes, stomach aches, insomnia. But worse than that was what was happening to my mind, because my memory was being erased: all the phone numbers, addresses, names of very dear people, even significant life events. So, I began to doubt myself, to doubt my mental health. And with doubt came desperation, and with desperation came depression. I was suffering enormous behavioral changes, and it wasn’t just paranoia in moments of panic. It was distrust, it was hatred, and it was also the urge to kill.

This I realized when my captors had me chained by the neck to a tree. They kept me outside that day, during a tropical downpour. I remember feeling an urgent need to use the bathroom.

“Whatever you have to do, you’ll do in front of me, bitch!” the guard screamed at me.

And I decided at that moment to kill him. For days, I was planning, trying to find the right moment, the right way to do it, filled with hatred and fear. Suddenly, I rose up, snapped out of it, and thought, “I’m not going to become one of them. I’m not going to become an assassin. I still have enough freedom to decide who I want to be.”

Beyond my fear I felt the need to defend my identity, to not let them turn me into a thing or a number.

That’s when I learned that fear had brought me face to face with myself. It forced me to align my energies, and I learned that facing fear could become a pathway to growth. When I think back, I’m able to identify the three steps I took to do it.

The first was to be guided by principles. I realized that in the midst of panic and my mental block, if I followed my principles, I acted correctly. I remember the first night in the concentration camp that the guerrillas had built in the middle of the jungle. It had 12-foot-high bars, barbed wire, lookouts in the four corners, and armed men pointing guns at us 24 hours a day. The first morning, some men arrived and yelled: “Count off! Count off!”

My fellow hostages woke up, startled, and began to identify themselves in numbered sequence. But when it was my turn, I said, “Ingrid Betancourt. If you want to know if I’m here, call me by my name.”

The guards’ fury was nothing compared to that of the other hostages because they were scared — we were all scared –and they were afraid that, because of me, they would be punished. Beyond my fear I felt the need to defend my identity, to not let them turn me into a thing or a number. That was one of my principles: to defend what I considered to be human dignity.

The jungle is like a different planet — a world of shadows, bugs, jaguars, anacondas. But none of these animals did us as much harm as the humans.

But make no mistake. The guerrillas had been kidnapping for years, and they had developed a technique to break us, to defeat us and to divide us. So the second step was to learn how to build trust and unite.

The jungle is like a different planet. It’s a world of shadows, of rain, with the hum of millions of bugs, like majiña ants and bullet ants. While I was in the jungle, I didn’t stop scratching for a single day. Of course, there were also jaguars, tarantulas, scorpions, anacondas — I once came face to face with a 24-foot-long anaconda that could have swallowed me in one bite.

Still, I want to tell you that none of these animals did us as much harm as the humans. The guerrillas terrorized us. They spread rumors. Among the hostages, they sparked betrayals, jealousy, resentment and mistrust. The first time I escaped for a long time was with Lucho. Lucho had been a hostage for two years longer than me. We decided to tie ourselves up with ropes and lower ourselves into the dark water full of piranhas and alligators. During the day, we would hide in the mangroves, and at night, we would get in the water, swim, and let the current carry us. That went on for several days, until Lucho became sick. A diabetic, he fell into a diabetic coma, and the guerrillas captured us.

But after having lived through that with Lucho and after having faced fear together, united, nothing — not punishment, not violence — could ever again divide us. At the same time, all of the guerrillas’ manipulation was so damaging to us that even today, tensions linger among some of the hostages I was held with. It was passed down from all of the poison that the guerrillas created.

“Ingrid, you know I don’t believe in God,” said Pincho. I told him, “God doesn’t care. He’ll still help you.”

The third step was to learn how to develop faith — it is very important to me. Jhon Frank Pinchao was a police officer who had been a hostage for more than eight years. He was famous for being the biggest scaredy-cat of us all. But Pincho — I called him “Pincho” — had decided he wanted to escape, and he asked me to help him. By that point, I basically had a master’s degree in escape attempts.

We were delayed because, first, Pincho had to learn how to swim, and we had to carry out our preparations in total secrecy. When we finally had everything ready, Pincho came up to me and said, “Ingrid, suppose I’m in the jungle, and I go around and around in circles, and I can’t find the way out. What do I do?”

“Pincho, you grab a phone, and you call the man upstairs,” I said.

“Ingrid, you know I don’t believe in God,” he said.

I told him, “God doesn’t care. He’ll still help you.”

That evening, it rained all night. The following morning, the camp woke up to a big commotion because Pincho had fled. The guerrillas made us dismantle the camp, and we started marching. During the march, the head guerrilla told us that Pincho had died, and they’d found his remains eaten by an anaconda. Seventeen days passed — and believe me, I counted them, because they were torture for me — and on the seventeenth day, the news exploded from the radio: Pincho was free and obviously alive.

And this was the first thing he said: “I know my fellow hostages are listening. Ingrid, I did what you told me. I called the man upstairs, and he sent me the patrol that rescued me from the jungle.”

That was an extraordinary moment. Obviously, fear is contagious. But faith is, too. Faith isn’t rational or emotional. Faith is an exercise of the will. It is the discipline of the will. It’s what allows us to transform everything that we are — our weaknesses and our frailties — into strength and power. It’s truly a transformation. It’s what gives us the strength to stand up in the face of fear, look above it, and see beyond it. I know we all need to connect with that strength we have inside of us during the times when there’s a storm raging around our boat.

Yes, fear is part of the human condition, but it’s also the guide by which each of us builds our identity and our personality.

Many, many, many, many years passed before I could return to my house. But when they took us, handcuffed, into the helicopter that finally brought us out of the jungle, everything happened as quickly as when they had kidnapped me. In an instant, I saw the guerrilla commander at my feet, gagged, and the rescue leader, yelling, “We’re the Colombian army! You are free!” And the shriek that came out of all of us when we regained our freedom continues to vibrate in me to this day.

Now I know they can divide all of us; they can manipulate us all with fear. The “No” vote on the peace referendum in Colombia; Brexit; the idea of a wall between Mexico and the United States; Islamic terrorism — they’re all examples of using fear politically to divide and recruit us. We all feel fear. But we can all avoid being recruited by using the resources we have — our principles, unity, faith. Yes, fear is part of the human condition as well as being necessary for survival. But above all, fear is the guide by which each of us builds our identity and our personality.

I was 41 years old the first time I felt fear, and feeling it was not my decision. But it was my decision what to do with it. You can survive by crawling along, filled with fear. But you can also rise above that fear, spread your wings, and soar. You can fly high — so high until you reach the stars, where all of us want to go.

ANDA SUDAH MENIKAH? PERHATIKAN ATURAN MAIN BERSOSIAL MEDIA.

Ada pasangan yang santai, ada yang tidak peduli. Ada yang amat percaya, ada pula yang sangat sensitif. Semua itu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari Anda. Apa yang menurut Anda tidak penting, belum tentu tak penting bagi pasangan Anda. Apa yang remeh bagi Anda, bisa saja itu merupakan sumber sakit hati bagi pasangan Anda. Bijaksanalah dalam bersosial media. 

Bagi sebagian orang, sosial media mungkin masih dianggap sebagai sarana hiburan yang kurang penting. Tetapi bagi sebagian besar lainnya, sosial media saat ini telah menduduki posisi yang cukup serius dalam banyak bidang. Sebut saja seorang yang memiliki sebuah usaha, ia akan menggunakan sosial media sebagai portfolio bisnisnya. Atau seorang yang sedang melamar sebuah pekerjaan, pihak HRD sudah mulai memasukkan pertanyaan berikut sebagai sebuah pertanyaan wajib: “Anda memiliki akun sosial media apa saja?” 

Sebagai seorang yang menggeluti dunia sosial media sejak tahun 2003 (Oh, hello Friendster! Haha…), saya melihat fenomena yang luar biasa dalam dunia ini. Sosial media yang awalnya dianggap hanya hiburan biasa, bisa berubah menjadi ajang pertikaian, permusuhan, perpecahan, bahkan… perceraian! Tak percaya? Sebut saja si A, yang saat diam-diam berkencan dengan selingkuhannya, sejenak lupa diri, berfoto wefie bersama sang pacar, lalu tanpa atau dengan sengaja, sang pacar mengunggahnya ke sosial media. Foto itu kemudian di like oleh salah satu kawan yang ternyata berkawan juga dengan sang istri. Dapat dipastikan kemunculan foto itu di kolom explore menjadi sebuah ajang pertikaian seru yang berakhir tragis. 
Demikian luar biasanya efek sosial media. Melihat fenomena ini, saya pikir, ada baiknya pasangan yang telah menikah memahami aturan main bersosial media, agar terhindar dari keributan yang tak seharusnya terjadi. Menurut saya, ada 5 (lima) hal yang perlu diperhatikan dalam bersosial media bagi pasangan menikah:

1. Follow

Kita memang tak bisa mengontrol followers. Namun kita bisa mengontrol SIAPA yang kita follow. Hati-hati saat mem-follow akun lawan jenis. Pastikan Anda memiliki alasan tepat saat mengikuti akun tersebut. Temankah? Artis idola? Seseorang yang memiliki kesamaan hobi? Seseorang yang dapat menjadi sumber inspirasi? atau sumber informasi bermanfaat? Semoga hal-hal inilah yang menjadi alasan mengapa Anda mengikuti sebuah akun. Diluar itu? Sebaiknya jangan. Hindari mem-follow akun lawan jenis yang sering mengunggah foto-foto tak layak yang dapat menjadi sumber bencana dalam hubungan Anda. Ingat: Pasangan Anda akan sangat merasa sakit hati dan dilecehkan saat mengetahui pasangannya mengikuti akun lawan jenis dengan feed yang kurang senonoh. Last but not least, mem-follow akun pasangan Anda adalah sebuah KEWAJIBAN, bukan PILIHAN 🙂

2. Like

Masih berhubungan dengan akun lawan jenis. Poin ini terkesan sepele, namun ternyata, banyak pasangan yang akhirnya bertengkar karena masalah ini. “Kenapa sih akun si A selalu kamu like, sementara akun aku nggak pernah kamu like?” Bisa jadi, ini merupakan pertanyaan awal munculnya sebuah MUSIBAH GUNUNG MELETUS yang sebaiknya Anda sikapi dengan benar. Menyukai foto atau postingan pasangan Anda merupakan sebuah tindakan autopilot yang sebaiknya kita lakukan – bagus atau tidak bagus gambarnya – demi ketentraman hidup bersama. Haha… (Lagipula, apa susahnya? Tinggal click. Anda tak perlu mengeluarkan tenaga dan uang bukan?)

3. Comment

Satu lagi sumber malapetaka yang (ternyata) telah terbukti! Hati-hati meninggalkan komentar pada akun lawan jenis. Terutama apabila orang tersebut juga telah menikah. Banyak sekali pertengkaran dalam rumah tangga yang muncul dikarenakan hal ini. Hati-hati saat berkomentar terhadap postingan foto diri si lawan jenis. Kata-kata sesimple: “Kamu cantik…” bisa jadi akan membunyikan genderang perang di rumah Anda. Menjaga perasaan pasangan Anda jauh lebih penting daripada berkomentar di postingan orang lain. Mari menjaga keamanan dan ketertiban hidup bersama.

4. DM (Direct Message)

Mungkin Anda berpikir, agar terhindar dari masalah, sebaiknya saya berkomentar via DM saja. Ini pernah – kalau tak ingin disebut sering – terjadi pada saya pribadi. oleh karena itu, beberapa hari yang lalu saya mengeluarkan status kejam terhadap lawan jenis yang kurang beretika saat mengirimkan DM. Menjaga kepercayaan pasangan Anda jjauh lebih penting dari apapun juga! Ingat, orang yang Anda DM itu bukan siapa-siapa. Jangan mengorbankan hubungan demi memuaskan rasa iseng Anda!

5. Password

Ada baiknya pasangan suami istri saling mengetahui password masing-masing. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Belajar terbuka merupakan sebuah langkah penting dalam menjaga hubungan dengan pasangan Anda. Hal ini juga menunjukkan bahwa Anda tidak berusaha menyembunyikan apapun dari pasangan Anda. Bukan maksud untuk membuat diri tak percaya pada pasangan, namun untuk menjaga hati masing-masing. Suami saya tahu segala password dalam hidup saya. Hal ini membuat saya tenang sekaligus berhati-hati dalam melakukan segala hal. 

Akhir kata, semua ini tentu kembali kepada value dan tata cara Anda dalam menjaga hubungan dengan pasangan Anda. Ada pasangan yang santai, ada yang tidak peduli. Ada yang amat percaya, ada pula yang sangat sensitif. Semua itu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari Anda. Apa yang menurut Anda tidak penting, belum tentu tak penting bagi pasangan Anda. Apa yang remeh bagi Anda, bisa saja itu merupakan sumber sakit hati bagi pasangan Anda. Bijaksanalah dalam bersosial media. Seperti banyak orang berkata: “Jangan terlalu serius bersosial media. Ini hanya ajang hiburan belaka.” Nah, mari kita kembalikan sosial media pada fungsinya yang semula. Sebagai hiburan, tempat mencari informasi, berkawan dan berkreasi, dan bukan sebaliknya. Selamat bersosial media! Ingat: Pasanganmu, keluargamu, kawan-kawan sehari-harimu adalah pertemananmu yang sejati. (KB)

HAPPY INTERNATIONAL WOMEN’S DAY

Jadilah wanita yang menghargai diri sendiri. Jangan menggunakan kemolekanmu dengan cara-cara salah dan tidak terhormat untuk memperoleh hal-hal yang sia-sia serupa materi, ketenaran atau kehidupan dangkal dengan HANYA mengutamakan kecantikan fisik belaka. Hari ini dunia memperingati Hari Perempuan Internasional. Event yang dirayakan pertama kali di New York, Amerika Serikat ini awalnya dilakukan sebagai wujud perjuangan para wanita yang menuntut hak-hak mereka, disamping memperjuangkan perdamaian dunia.

Saya adalah perempuan yang sangat pro terhadap perjuangan hak para wanita yang – menurut saya, HARUS dapat kita terima secara utuh, menyeluruh dan adil, tanpa melupakan tanggung jawab, meninggalkan kodrat, apalagi mengangkangi otoritas pria yang menjadi pimpinan, kepala, ayah atau suami kita.
Menjadi PEREMPUAN KUAT merupakan sebuah KEHARUSAN! Karena dunia membutuhkan itu untuk dapat terus berputar dan menghasilkan kehidupan. Kita adalah poros keluarga dan harapan bangsa dalam mewujudkan keluarga yang harmonis, sakinah, mawadah dan warohmah.
Jika kita tidak memutuskan untuk menjadi kuat dalam iman, dalam pikiran, dalam tindakan, dalam karakter, dalam perbuatan dan dalam membangun impian bagi keluarga kita, bagaimana masa depan anak kita, keluarga kita dan bangsa kita?
Mari menjadi wanita yang kuat namun santun, tunduk pada otoritas, lemah lembut, bijaksana, murah hati, penuh belas kasihan, tulus, tekun dan gigih. Karena ditangan kita ada kehidupan yang harus terus dirawat dan tumbuh, yang suatu saat juga akan menghasilkan kehidupan baru lainnya.
Jadilah wanita yang menghargai diri sendiri. Jangan menggunakan kemolekanmu dengan cara-cara salah dan tidak terhormat untuk memperoleh hal-hal yang sia-sia serupa materi, ketenaran atau kehidupan dangkal dengan HANYA mengutamakan kecantikan fisik belaka. Karena suatu hari nanti, kau akan menjadi tua! Lalu apa yang tinggal dalam dirimu jika hanya “cantik seujung kulit” yang kau miliki?
Let us age gracefully and leaving the beautiful legacy to our younger sisters, daughters and other fellow-women. You are precious in His sight. So start acting like one! Salute to all strong women of the world….

From Your Tribe,
KARINABDMN

A YEAR OF HEARTFELT MINISTRY

Sesuatu yang dikerjakan dengan sukarela memang tidaklah mudah. Tetapi jika kita mau belajar untuk mengerjakannya dengan sepenuh hati, maka apapun yang kita lakukan PASTI menghasilkan buah. Karena SUKA tanpa RELA berakhir dengan ‘perhitungan’ dan ‘ogah rugi’. Sementara RELA tanpa rasa SUKA, akan membuat kita merasa ‘terpaksa’ dalam melakukan semuanya. 

Nggak kerasa, hampir setahun saya bergabung dengan #fofindonesiaambassador. Banyak sekali hal yang saya pelajari, lihat, alami dan kerjakan bersama sahabat-sahabat saya disini. Senang sekali bisa ada bersama mereka melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikir untuk saya lakukan atau datangi sendiri. 
FYI: Saya termasuk orang yang ANTI berorganisasi. Apalagi kalau isinya perempuan semua! Tapi disini saya melihat sesuatu yang beda. Saya melihat visi dan misi yang dinamis dan besar. Mungkin sekarang kita belum bisa melihat the bigger picture of what we are doing. Tapi bagi saya, segala sesuatu yang dikerjakan dengan tujuan MEMBANTU #KELUARGA BERKEMBANG adalah sebuah hal besar dan sangat berarti!
Semua yang tergabung sebagai #ambassador ini bekerja dengan SUKARELA. Namanya sukarela berarti kita harus SUKA & RELA. Suka terhadap aturan yang ada dan rela melakukannya. Suka terhadap visi dan misi yang ada, dan rela menjalankan semua programnya. Suka dengan orang-orang yang ada, dan rela mengalami jatuh bangun bersama demi kemajuan bersama. 
Sesuatu yang dikerjakan dengan sukarela memang tidaklah mudah. Tetapi jika kita mau belajar untuk mengerjakannya dengan sepenuh hati, maka apapun yang kita lakukan PASTI menghasilkan buah. Karena SUKA tanpa RELA berakhir dengan ‘perhitungan’ dan ‘ogah rugi’. Sementara RELA tanpa rasa SUKA, akan membuat kita merasa ‘terpaksa’ dalam melakukan semuanya. 
Apakah kalian juga sedang membentuk sebuah organisasi baru seperti kami, atau usaha atau kelompok, atau sebuah gerakan positif? Jangan putus asa ya. Jangan undur. Jangan kasih kendor walau banyak tantangan. Kita memang akan melalui banyak sekali kesulitan, tapi jika kita tekun dan bertahan, maka kita akan melihat LEBIH BANYAK lagi keberhasilan, mujizat, perubahan dan buah dari kerja keras kita!
Saya bangga dan bersyukur bisa ada disini bersama mereka semua. Karena saya tahu, kami mengerjakan dan membangun sesuatu yang besar, yang berharga dan tak ternilai, yaitu hubungan antar keluarga, suami, istri, anak dan sesama. Terimakasih @focusonthefamilyindonesia! I love you… #focusonthefamilyindonesia #friendship #ministry #peopleisourmission #togetherimpactful16

THE ART OF GOSSIP

 

a99ecb1b-f673-48f9-8a30-56f1970f7ad8

Setiap wanita pasti PERNAH bergunjing. Sesuci apapun ia mencoba menjalani kehidupannya, bergunjing atau bergossip atau membicarakan orang lain atau ‘ngrasani orang’ pastilah pernah ia lakukan. Dan sebagian (besar) perempuan memang senang bergunjing. Walaupun saat orang lain ganti mengunjingkan dirinya, ia pasti akan marah 🙂

“Eh say, lo tau nggak sih?” Merupakan pembukaan wajib dari setiap kelompok wanita yang akan memulai pergossipan. Setelah itu, bisa ditebak, cerita meluncur bak roller coaster yang rem-nya blong. Semakin banyak yang menanggapi, semakin kencang dan deras air bah gossip mengalir ke permukaan. “Gila ya. Gue nggak sangka dia begitu!” atau “Kasian ya dia…” merupakan tutupan megah dari rentetan upacara bergunjing.

Kehidupan sayapun kerap bersentuhan dengan aktifitas ini. Entah sebagai korban atau sebagai tempat menceritakan atau juga bercerita. Hal terakhir – sejalan dengan usia, kadar bergunjing saya arahkan kepada hal-hal yang amat penting (crucial) dan hanya saya bagi kepada orang yang bersangkutan atau yang dapat memberi jalan keluar (tentu saja ia haruslah seorang yang mulutnya bebas dari kebocoran ember maupun atap). HAHA…

Apakah bisa seorang wanita hidup bersih dan bebas dari gossip? Saya rasa tidak bisa sepenuhnya bebas. Mengapa? Karena sifat dasar wanita itu ngemong, peduli dan kepo. Itu sudah mendarah daging. DNA wanita adalah sebagai caretaker atau perawat bagi seisi rumahnya dimana ia terbiasa mengatasi keadaan. Dan untuk mengatasi keadaan, ia memang harus mengembangkan spirit ingin tau. Sehingga ‘otot kepo’ nya pun  menjadi terlatih. Saya tak mengatakan bahwa semua wanita senang bergossip. Tentu tidak. Tapi sebagian besar wanita pasti pernah bergossip atau menjadi korban gossip.

Lalu, apa yang harus kita lakukan bila kita berada di kedua posisi tersebut? Setelah malang melintang di dunia ini cukup lama, saya mengambil kesimpulan bahwa: “Kita tidak akan pernah dapat menghentikan gossip atau orang yang bergossip. Karena ita tak punya kuasa untuk melakukan itu. Tapi kita punya kuasa untuk menjauhkan diri, menolak untuk berada dalam lingkaran gossip serta menangkis kesempatan untuk menjadi korbannya!”

Bagaimana caranya?

Kita bicara dari sisi korban gossip. Jika Anda adalah si korban, maka segala sesuatunya KEMBALI pada cara Anda mencerna, memahami, melihat latar belakang serta bagaimana harus bersikap terhadap gossip tersebut. Musuh gossip adalah ketidak pedulian. Jika Anda tahu bahwa gossip yang disebarkan tidak benar, jangan takut untuk mengambil sikap tidak peduli. Karena tidak ada gunanya menjelaskan atau berjerih lelah membela diri dihadapan kaum yang menggosipkan Anda. pikiran mereka sudah di-setting untuk bergossip, sehingga apapun yang kita coba jelaskan hanya akan dianggap sebagai usaha untuk membenarkan diri sendiri. And believe it or not, jika kita berusaha menjelaskan, maka penjelasan kita akan mereka gunakan untuk bergossip PART DEUX. LOL!

Yang berikutnya, bagaimana kalau kitalah biang keroknya? Seperti sudah saya ungkap diawal postingan ini, tak ada satu orangpun yang benar-benar TAK PERNAH bergossip. Benar kan? Jika kita adalah salah satu yang atau berada dalam kelompok bergunjing, meminta maaf merupakan satu-satunya jalan keluar. Jika kita tak bisa melakukannya secara langsung, menuliskan pesan melalui chat apps atau email merupakan ide baik. Karena kita dapat menyusun kata-kata dengan lebih detail dan santun, tanpa harus pusing mengatur nada bicara atau bahasa tubuh kita.

Lalu bagaimana kalau dia tidak bisa memaafkan kita? Well, the ball is in her hands. Tugas Anda adalah meminta maaf. Jika si korban tak memaafkan, masalahnya sudah bukan pada Anda. Tapi pada hati, pikiran dan perasaannya yang belum dewasa. Jangan merasa bersalah. Karena saat Anda meminta maaf, Anda telah menggenggam kemerdekaan. Jangan menyerahkan kemerdekaan Anda kepada rasa takut, sungkan, tidak enak hati dan perasaan negatif lainnya, hanya karena dia tak bisa atau belum memaafkan Anda. Dengan demikian Anda akan benar-benar lepas dari masalah ini.

Satu hal yang penting untuk diketahui, jika ada gossip tentang seseorang yang Anda kenal dekat, jangan didiamkan, dan jangan langsung terpengaruh dengan gossipnya. Taukah Anda, membiarkan gossip tentang kawan baik kita beredar merupakan sebuah tindakan yang jahat. Tanyakan kebenarannya pada orang yang bersangkutan, sehingga bila dilain waktu kisah itu muncul lagi, Anda dapat mengambil sikap untuk menangkis ketidak benaran itu. Bergaul dan berkawan memang sebuah kebutuhan, terutama bagi kaum Hawa. Tetapi menceburkan diri dalam lingkaran gossip adalah pilihan. Jadilah bijak dalam menentukan sikap dalam pergaulan. Sebisa mungkin, hindari diri dari bergunjing. Karena toh kita pernah juga merasakan sakitnya digossipkan. Jangan takut kehilangan teman. Jika memang Anda terpaksa menjauhkan diri dari kelompok pertemanan yang penuh racun dan senang bergunjing. Karena teman pasti ada dimana saja, relasi baru dapat dibangun kapan saja dan dengan siapa saja. (KB / Illustration by: Megan Hess)