A YEAR OF HEARTFELT MINISTRY

Sesuatu yang dikerjakan dengan sukarela memang tidaklah mudah. Tetapi jika kita mau belajar untuk mengerjakannya dengan sepenuh hati, maka apapun yang kita lakukan PASTI menghasilkan buah. Karena SUKA tanpa RELA berakhir dengan ‘perhitungan’ dan ‘ogah rugi’. Sementara RELA tanpa rasa SUKA, akan membuat kita merasa ‘terpaksa’ dalam melakukan semuanya. 

Nggak kerasa, hampir setahun saya bergabung dengan #fofindonesiaambassador. Banyak sekali hal yang saya pelajari, lihat, alami dan kerjakan bersama sahabat-sahabat saya disini. Senang sekali bisa ada bersama mereka melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikir untuk saya lakukan atau datangi sendiri. 
FYI: Saya termasuk orang yang ANTI berorganisasi. Apalagi kalau isinya perempuan semua! Tapi disini saya melihat sesuatu yang beda. Saya melihat visi dan misi yang dinamis dan besar. Mungkin sekarang kita belum bisa melihat the bigger picture of what we are doing. Tapi bagi saya, segala sesuatu yang dikerjakan dengan tujuan MEMBANTU #KELUARGA BERKEMBANG adalah sebuah hal besar dan sangat berarti!
Semua yang tergabung sebagai #ambassador ini bekerja dengan SUKARELA. Namanya sukarela berarti kita harus SUKA & RELA. Suka terhadap aturan yang ada dan rela melakukannya. Suka terhadap visi dan misi yang ada, dan rela menjalankan semua programnya. Suka dengan orang-orang yang ada, dan rela mengalami jatuh bangun bersama demi kemajuan bersama. 
Sesuatu yang dikerjakan dengan sukarela memang tidaklah mudah. Tetapi jika kita mau belajar untuk mengerjakannya dengan sepenuh hati, maka apapun yang kita lakukan PASTI menghasilkan buah. Karena SUKA tanpa RELA berakhir dengan ‘perhitungan’ dan ‘ogah rugi’. Sementara RELA tanpa rasa SUKA, akan membuat kita merasa ‘terpaksa’ dalam melakukan semuanya. 
Apakah kalian juga sedang membentuk sebuah organisasi baru seperti kami, atau usaha atau kelompok, atau sebuah gerakan positif? Jangan putus asa ya. Jangan undur. Jangan kasih kendor walau banyak tantangan. Kita memang akan melalui banyak sekali kesulitan, tapi jika kita tekun dan bertahan, maka kita akan melihat LEBIH BANYAK lagi keberhasilan, mujizat, perubahan dan buah dari kerja keras kita!
Saya bangga dan bersyukur bisa ada disini bersama mereka semua. Karena saya tahu, kami mengerjakan dan membangun sesuatu yang besar, yang berharga dan tak ternilai, yaitu hubungan antar keluarga, suami, istri, anak dan sesama. Terimakasih @focusonthefamilyindonesia! I love you… #focusonthefamilyindonesia #friendship #ministry #peopleisourmission #togetherimpactful16

Advertisements

A DAY IN THE LIFE OF GRUMPY SOCIAL MEDIA MANAGER.

Some clients are so unbelievable! I think they cant differ between Social Media Analyst and Social Media Content Producer. If you are as annoying as these uninformed people, you need to read this. 

1. We are SOCIAL MEDIA CONTENT PRODUCERS:

We manage your accounts daily, help you grow your brand, and make people aware of your presence in the social media world. Our strong point is our good writing skills. And you have to be able to UNDERSTAND CLEARLY that we cannot make your followers grow, unless your pictures are in good qualities.

It’s the content that makes your account grow its followers organically. We are not some low-class follower-seller kind of people. For us, that is the cheapest most outrageous way to grow followers, because it’s FAKE and it’s DANGEROUS, as they can steal your username and password. Please put that in mind.

2. Building Our Mutual Trust:

We know that you pay us to help you maintain and manage your account. But the most annoying thing a client could do is to keep asking about the growth of their followers “every.single.day”. You have to learn to let go and let us do our job. Learn to trust us enough to run your account and – slowly but surely, your followers and likes will grow.


3. Give Us Good-Quality Pictures and We Will Handle The Rest:

On top of that, the most essential thing about ‘likes and followers’ are a bright and good-quality picture mixed with strong and beautiful caption that will surely make your posts standout among the crowds. BEAR IN MIND that you need to give us a variety of good-quality pictures; fresh pictures weekly or monthly are a must if you want to grow your followers. Because netizen get bored easily with the same pictures you post over and over again.

4. Picture Policy:

Unless you are a supermodel or a public figure, you need to stop posting selfies every day. Focus on what you do: your work, your career, your hobbies, your interests, etc. On top of that, post something that your followers can see value, knowledge or information in it. In this way, your account will be more interesting because it contains useful informations wrapped in great writings. (KB)

ANAK DAN TALENTANYA

kids

My beautiful children. 18 and 14 years old.

Beberapa bulan terakhir sejak berakhirnya Ujian Negara, saya disibukkan dengan kegiatan memilih, mencari dan menentukan sekolah serta universitas untuk anak-anak saya. Rasanya seperti mimpi! Karena saya sendiri masih amat sangat ingat momen dimana saya mendaftarkan diri ke universitas. And suddenly kok saya mengantar anak saya mendaftar ke universitas! How time flies…

Berdiskusi soal dunia perkuliahan sudah saya lakukan sejak putri pertama saya masuk jenjang SMP. Saya bilang sama dia: “Kamu sudah harus memikirkan, ingin jadi apa kamu nanti. Apa passion-mu? Apa talentamu?” Saya ingin anak saya mempersiapkan diri sedini mungkin untuk mengenali passion dan talentanya. Saya tidak ingin saat ia lulus SMA baru ia sibuk dan bingung memikirkan: “Ingin jadi apakah saya?”

Saya jadi ingat, jaman saya mencari universitas, ibu saya terus-menerus mengingatkan: “Cari sekolah itu jangan idealis. Pokoknya pikir aja, abis selesai kuliah kamu bisa kerja dan dapat uang banyak nggak? Kalo nggak, PERCUMA!” Sekilas omongan ibu saya terdengar benar. Tapi sekarang saya membuktikan, ITU TIDAK BENAR!

Saat itu, sebagai seorang anak yang “takut nggak bisa cari uang”, saya menuruti omongan ibu. Sebenarnya cita-cita asli saya ingin menjadi seorang penulis dan nantinya ingin sekali memiliki karier sebagai Editor in Chief pada sebuah majalah High Fashion kelas dunia. Itu cita-cita saya! Tapi – sekali lagi – kalimat ibu terngiang dalam hati dan pikiran saya: “Kamu mau jadi penulis? Mau makan apaaaaa….” Lalu saya pun mendaftar ke Sekolah Tinggi Pariwisata, agar cepat bekerja dan bisa punya uang banyak! (seperti kata ibu saya…)

Sekarang, saya dihadapkan pada putri saya yang sebentar lagi akan masuk kuliah, and guess what? Ia pun bercita-cita ingin menjadi seorang penulis. Omongan ibu saya tentang memilih jurusan sempat terlintas di pikiran. Mungkin Anda memiliki dilemma yang sama seperti ibu saya dan ibu-ibu lain tentang KEMANA dan APA yang baik untuk anak-anak kita, agar mereka tidak salah memilih jurusan, lalu berakhir jobless tanpa pekerjaan. Mudah-mudahan beberapa hal yang saya lakukan dibawah ini dapat memberi sedikit inspirasi.

 

SETIAP ANAK LAHIR DENGAN TALENTA.

Setiap manusia lahir dilengkapi dengan talenta. Sama seperti sebuah gadget canggih, setiap gadget punya kehebatannya masing-masing. Talenta sama halnya dengan kelebihan, bakat dan kepandaian. Talenta itu hadir disertai passion, atau minat dan keinginan. Minat dan keinginan inilah yang nantinya akan menyetir anak Anda untuk menemukan talentanya. Dan talenta adalah cara Tuhan memberkati setiap kita, agar kita dapat menciptakan, berkarya dan berhasil dalam apapun yang kita kerjakan. Jadi bukan soal “jurusan apa yang akan membuat kita memperoleh pekerjaan dan uang”, tapi talenta apa yang mereka miliki, dan bagaimana saya sebagai orangtua dengan bijaksana menuntun, mengarahkan dan mendukung anak-anak untuk menemukan, mendalami dan berhasil lewat talenta yang mereka miliki.

 

ARAHKAN DENGAN JITU!

Menjadi orangtua yang senang memaksa sepertinya sudah nggak model lagi. Anak yang dipaksa akan memberontak dan akhirnya berusaha membuktikan diri dengan cara-caranya yang ‘ajaib’ dan memusingkan kepala kita. Jadi, daripada saya kehilangan hubungan baik dengan anak, lebih baik saya menguasai tehnik lain, agar anak mau ‘mendengar dan mentaati’ nasehat. Mengarahkan lebih baik daripada memaksa. Waktu saya melihat talenta menulis dalam diri putri saya, saya banyak memberikan masukan berupa cerita-cerita serta contoh-contoh bagaimana mengarahkan talentanya agar ia menjadi seorang penulis yang sukses dan punya nama.

Lalu Anda berpikir, “Duh hari gini jadi penulis! Kapan kayanya?!” Ada banyak cara menjadi hebat. Kemampuan seseorang menurut saya harus disertai dengan kendaraan yang dapat membawa kita ke tujuan akhir. Saya berikan beberapa pilihan pada anak saya. Dan membiarkan ia berpikir dan menimbang-nimbang. Butuh banyak komunikasi dan kedekatan dengan anak, agar mereka memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi pada pendapat dan arahan kita. Jika kita tidak pernah membangun komunikasi dengan mereka, then forget it!

 

AJAR ANAK MELAYANI SESAMA.

Menurut saya, apapun kedudukan hebat di dunia ini, semuanya bermuara pada satu hal: Memberikan pelayanan kepada sesama. Sebagai seorang Nasrani, anak-anak saya sudah terbiasa dengan dunia ministry atau pelayanan di lingkungan gereja. Dunia pelayanan masyarakat amatlah luas. Baik di lingkungan rohani maupun sekuler. Pilih lingkungan yang positif yang dapat membantu mereka belajar, lalu ajarkan anak-anak Anda untuk terlibat dalam pelayanan. Melayani manusia lain merupakan bagian penting bagi tumbuh kembang kecerdasan emosi dan kepandaian anak dalam membangun hubungan dengan sesama. Saya punya banyak kawan jenius, tapi mereka yang tak menguasai ilmu komunikasi dan networking, berakhir sendiri, tanpa pekerjaan, tanpa pasangan hidup, alias: Jones! ( Jomblo Ngenes – red)

 Dalam pelayanannya, anak-anak saya juga mengalami momen kecewa, berhenti, tidak ingin lagi aktif dalam pelayanan, kapok dan seterusnya. Tetapi gesekan yang mereka rasakan terhadap kawan dan sesama itulah yang (menurut saya) akan membentuk mereka menjadi makhluk sosial yang seutuhnya! Karena hanya mereka yang pernah berselisih yang tahu indahnya berdamai. Dan hanya mereka yang pernah berjuang dan bergumul, yang tahu menghormati keberhasilan dan menghargai kemenangan. Struggling is good for your kids. It will build their fighting spirit.

 

INI HIDUP MEREKA BUKAN HIDUP SAYA.

Untuk setiap ortu diktator, mungkin sebaiknya segera sadar, bahwa apa yang kita paksakan kepada anak tidak akan berujung happy ending. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini. Bayangkan jika anak-anak kita harus menjalani hidup yang bukan panggilannya. Betapa menderitanya mereka karena harus menanggung akibat dari keegoisan kita. Daripada MEMAKSAKAN, lebih baik kita MENDOAKAN & MENDIDIK. Berdoa agar Tuhan memberi mereka hikmat dalam memilih. Mendidik mereka menjadi anak-anak yang berintegritas dan berkarakter. Mengasah iman mereka agar memiliki hubungan yang spesial dan dekat dengan Tuhan. Dan mengajar mereka bagaimana mengasihi dan melayani sesama. Rasanya empat hal ini sudah cukup untuk menghasilkan anak-anak yang sukses dan berhasil.

 

DAN PADA AKHIRNYA…

… Bukan soal berapa banyak uang yang dapat Anda wariskan kepada anak-anak, tetapi berapa banyak nilai budi pekerti dan keimanan yang dapat Anda impartasikan dalam hidup mereka.

… Bukan soal dimana mereka bersekolah, tetapi bagaimana mereka mempraktekkan ilmu yang mereka dapat.

… Bukan soal berapa tinggi nilai pelajaran yang mereka peroleh, tetapi bagaimana kita mengajar anak untuk memiliki integritas, bersikap jujur dan belajar berjuang dengan kemampuannya sendiri.

Dan ini adalah NASEHAT IMAN yang selalu saya berikan pada mereka: “Orang kaya mungkin memiliki sebagian besar isi dunia ini. Tetapi orang berhikmatlah yang akan dipilih Tuhan untuk memimpin, mengarahkan dan mengatur isi kepala orang-orang kaya itu.” Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap mereka yang menggantungkan seluruh hidupnya kepada DIA. Tuhan tidak akan pernah mempermalukan anak-anakNya. Dan Tuhan menjanjikan masa depan yang penuh harapan bagi mereka yang mengandalkan DIA. Karena “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” Just do your best and leave the rest to God. (KB)

KESEMPURNAAN WAKTU

Di tahun 2014 lalu, saya memasuki usia kepala empat. Dan sejak memasuki usia ini, saya memiliki sebuah perspektif berbeda (jika tak ingin disebut baru) tentang WAKTU. Bagi saya, dengan bertambahnya usia, waktu menjadi sebuah benda berharga yang harganya dan levelnya merangkak ke urutan atas dalam kehidupan pribadi saya.

Sadar atau tidak, hari-hari kita berjalan seolah semakin cepat. Padahal dalam sehari kita tetap diberi porsi waktu 24 jam, tidak berubah dari jaman dahulu kala. Tetapi toh perasaan ‘dikejar waktu’ itu terasa semakin nyata disaat usia kita bertambah.

THE ART OF GOSSIP

 

a99ecb1b-f673-48f9-8a30-56f1970f7ad8

Setiap wanita pasti PERNAH bergunjing. Sesuci apapun ia mencoba menjalani kehidupannya, bergunjing atau bergossip atau membicarakan orang lain atau ‘ngrasani orang’ pastilah pernah ia lakukan. Dan sebagian (besar) perempuan memang senang bergunjing. Walaupun saat orang lain ganti mengunjingkan dirinya, ia pasti akan marah 🙂

“Eh say, lo tau nggak sih?” Merupakan pembukaan wajib dari setiap kelompok wanita yang akan memulai pergossipan. Setelah itu, bisa ditebak, cerita meluncur bak roller coaster yang rem-nya blong. Semakin banyak yang menanggapi, semakin kencang dan deras air bah gossip mengalir ke permukaan. “Gila ya. Gue nggak sangka dia begitu!” atau “Kasian ya dia…” merupakan tutupan megah dari rentetan upacara bergunjing.

Kehidupan sayapun kerap bersentuhan dengan aktifitas ini. Entah sebagai korban atau sebagai tempat menceritakan atau juga bercerita. Hal terakhir – sejalan dengan usia, kadar bergunjing saya arahkan kepada hal-hal yang amat penting (crucial) dan hanya saya bagi kepada orang yang bersangkutan atau yang dapat memberi jalan keluar (tentu saja ia haruslah seorang yang mulutnya bebas dari kebocoran ember maupun atap). HAHA…

Apakah bisa seorang wanita hidup bersih dan bebas dari gossip? Saya rasa tidak bisa sepenuhnya bebas. Mengapa? Karena sifat dasar wanita itu ngemong, peduli dan kepo. Itu sudah mendarah daging. DNA wanita adalah sebagai caretaker atau perawat bagi seisi rumahnya dimana ia terbiasa mengatasi keadaan. Dan untuk mengatasi keadaan, ia memang harus mengembangkan spirit ingin tau. Sehingga ‘otot kepo’ nya pun  menjadi terlatih. Saya tak mengatakan bahwa semua wanita senang bergossip. Tentu tidak. Tapi sebagian besar wanita pasti pernah bergossip atau menjadi korban gossip.

Lalu, apa yang harus kita lakukan bila kita berada di kedua posisi tersebut? Setelah malang melintang di dunia ini cukup lama, saya mengambil kesimpulan bahwa: “Kita tidak akan pernah dapat menghentikan gossip atau orang yang bergossip. Karena ita tak punya kuasa untuk melakukan itu. Tapi kita punya kuasa untuk menjauhkan diri, menolak untuk berada dalam lingkaran gossip serta menangkis kesempatan untuk menjadi korbannya!”

Bagaimana caranya?

Kita bicara dari sisi korban gossip. Jika Anda adalah si korban, maka segala sesuatunya KEMBALI pada cara Anda mencerna, memahami, melihat latar belakang serta bagaimana harus bersikap terhadap gossip tersebut. Musuh gossip adalah ketidak pedulian. Jika Anda tahu bahwa gossip yang disebarkan tidak benar, jangan takut untuk mengambil sikap tidak peduli. Karena tidak ada gunanya menjelaskan atau berjerih lelah membela diri dihadapan kaum yang menggosipkan Anda. pikiran mereka sudah di-setting untuk bergossip, sehingga apapun yang kita coba jelaskan hanya akan dianggap sebagai usaha untuk membenarkan diri sendiri. And believe it or not, jika kita berusaha menjelaskan, maka penjelasan kita akan mereka gunakan untuk bergossip PART DEUX. LOL!

Yang berikutnya, bagaimana kalau kitalah biang keroknya? Seperti sudah saya ungkap diawal postingan ini, tak ada satu orangpun yang benar-benar TAK PERNAH bergossip. Benar kan? Jika kita adalah salah satu yang atau berada dalam kelompok bergunjing, meminta maaf merupakan satu-satunya jalan keluar. Jika kita tak bisa melakukannya secara langsung, menuliskan pesan melalui chat apps atau email merupakan ide baik. Karena kita dapat menyusun kata-kata dengan lebih detail dan santun, tanpa harus pusing mengatur nada bicara atau bahasa tubuh kita.

Lalu bagaimana kalau dia tidak bisa memaafkan kita? Well, the ball is in her hands. Tugas Anda adalah meminta maaf. Jika si korban tak memaafkan, masalahnya sudah bukan pada Anda. Tapi pada hati, pikiran dan perasaannya yang belum dewasa. Jangan merasa bersalah. Karena saat Anda meminta maaf, Anda telah menggenggam kemerdekaan. Jangan menyerahkan kemerdekaan Anda kepada rasa takut, sungkan, tidak enak hati dan perasaan negatif lainnya, hanya karena dia tak bisa atau belum memaafkan Anda. Dengan demikian Anda akan benar-benar lepas dari masalah ini.

Satu hal yang penting untuk diketahui, jika ada gossip tentang seseorang yang Anda kenal dekat, jangan didiamkan, dan jangan langsung terpengaruh dengan gossipnya. Taukah Anda, membiarkan gossip tentang kawan baik kita beredar merupakan sebuah tindakan yang jahat. Tanyakan kebenarannya pada orang yang bersangkutan, sehingga bila dilain waktu kisah itu muncul lagi, Anda dapat mengambil sikap untuk menangkis ketidak benaran itu. Bergaul dan berkawan memang sebuah kebutuhan, terutama bagi kaum Hawa. Tetapi menceburkan diri dalam lingkaran gossip adalah pilihan. Jadilah bijak dalam menentukan sikap dalam pergaulan. Sebisa mungkin, hindari diri dari bergunjing. Karena toh kita pernah juga merasakan sakitnya digossipkan. Jangan takut kehilangan teman. Jika memang Anda terpaksa menjauhkan diri dari kelompok pertemanan yang penuh racun dan senang bergunjing. Karena teman pasti ada dimana saja, relasi baru dapat dibangun kapan saja dan dengan siapa saja. (KB / Illustration by: Megan Hess)

A CRANKY MAMA!

“Everyone, stop calling my name and stop asking mommy about anything, okay. I’m tired!” Setengah berteriak saya berkata kepada anak-anak saya dan seisi rumah. Hari itu saya merasa extra lelah dan bad mood. Entah mengapa. Beberapa menit setelah saya mengultimatum seisi rumah untuk berhenti ‘mengganggu’ saya, rumahpun sepi, dan… hati saya mulai diliputi rasa bersalah. Ah, jadi galau!

1457884400057

Berapa banyak isteri dan ibu yang mengalami dan merasa seperti saya? Disatu sisi kita ingin sekali menjadi isteri dan ibu teladan, tapi disisi lain kita (ternyata) hanya manusia biasa yang butuh istirahat, menarik nafas dan sekedar duduk diam tanpa melakukan apa-apa. We just want our quiet moment. And usually we want that at the busiest schedule of the day! HAHA…

Saya rasa masalah ini tidak hanya berhubungan dengan ibu rumah tangga saja. Tetapi ibu bekerja pun mengalami hal yang sama. Intinya, apapun karier dan kesibukan ibu, sekali waktu kita amat sangat membutuhkan…

View original post 758 more words

THE POWER OF A NAME

Sudah hampir empat tahun ibu saya menderita Alzheimer. Sebuah penyakit yang menyerang syaraf ingatannya sehingga ia mengalami disorientasi waktu, tempat dan melupakan hampir setiap hal yang baru saja ia lakukan. Contoh: Saat kami memintanya untuk mandi, ia serta-merta menjawab: “Saya sudah mandi kok!” Padahal belum. Kami sering kehilangan akal membujuknya mandi. Sampai satu kali, kami berkata: “Mam, sebentar lagi suamimu datang lho. Mau jemput jalan-jalan ke mall. Yuk mandi sekarang!” Tidak sampai 5 menit, ibu saya langsung bangkit dan mandi. THERE IS POWER IN THE NAME OF MY DAD!

1458034389869

Sejak ibu saya menderita Dementia yang kemudian berkembang menjadi Alzheimer, ayah saya adalah satu-satunya sosok yang selalu dia ingat, dia cari, dia tunggu dan dia nantikan. Nama ayah saya menjadi semacam ‘jimat’ yang mampu menyelesaikan berbagai masalah yang kami hadapi seputar kesulitan sehari-hari dalam menghadapi tingkah polah ibu saya. Hanya dengan menyebut satu nama itu, ibu saya langsung menuruti apa saja yang kami minta ia lakukan; apakah itu mandi, ganti baju, makan atau lainnya.

Sosok ayah saya memiliki pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan ibu saya. Dan namanya mampu mengatasi banyak masalah. Saya jadi merenung, apakah suatu hari nanti nama saya juga akan membekas dan berpengaruh sedemikian besar dalam kehidupan orang-orang yang saya cintai? Suami saya, anak-anak saya, keluarga, saudara dan para sahabat saya? Apa reaksi mereka saat mendengar atau mengucapkan nama saya? Apa yang mereka ingat atau bayangkan  tentang saya? Tentu saya (dan juga Anda) mengharapkan kenangan atau hal-hal baiklah yang akan lebih banyak diingat oleh mereka.

Lalu hal apa yang harus saya lakukan agar nama saya berdampak ‘manis dan sedap didengar’ dalam kehidupan orang-orang yang saya kasihi? Rasanya saya tak punya cukup energi untuk mengusahakan hal-hal fenomenal diluar jangkauan saya (macam calon presiden yang berkampanye) agar nama saya berdampak atau membekas dalam hidup mereka. Tetapi kalau boleh memulai, saya ingin kehidupan saya berdampak dengan MENJADI DIRI SAYA SENDIRI. Karena saya percaya, setiap kita unik dan istimewa. Dunia ini menjadi demikian menarik justru karena kita hadir dalam bentuk, ukuran, warna, sifat dan karakter yang berbeda. Semua ini memberi warna tersendiri yang menjadikan dunia lebih indah, lebih meriah dan lebih menarik untuk dijalani.

Ditengah menulis postingan ini, saya secara khusus bertanya pada suami dan kedua anak saya – Michelle dan Jason, “What are three things that come to your mind whenever you hear my name?” Michelle menjawab, “Well, mami itu super fun, inspiring dan fierce (No surprise since I have Batak blood in me. LOL!)” Lalu Jason menambahkan, “Mami itu pekerja keras, gaul dan fabulous (Oh my, I didn’t expect this from my boy! HAHA…), Sementara suami saya berkata, “Kamu itu perempuan yang berani, rajin dan selalu mempunyai jawaban atas setiap permasalahan.” HAHA…

Saya berharap, seiring dengan berjalannya waktu, saya akan mampu menambahkan lebih banyak lagi nilai-nilai positif, pengaruh baik, pengajaran yang berguna serta hikmat Tuhan dalam kehidupan anak-anak saya dan orang-orang yang saya kasihi. Tentu saja tak semua orang akan menyukai keberadaan kita atau apa yang kita lakukan. Akan ada waktu dimana kita mengecewakan orang lain. Tidak apa-apa. Toh kita memang tidak didesain untuk menjadi sempurna atau tak bercacat cela. Justru dalam ketidak sempurnaan kita itu, keberadaan TUHAN menjadi lebih nyata dan lebih kita butuhkan untuk memberi kekuatan, penghiburan, mengubah karakter serta membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Menurut saya, yang terpenting dalam hidup ini adalah meninggalkan legacy dan positive impact bagi setiap orang yang mengenal kita – terutama bagi orang-orang yang kita kasihi. Saat seorang mendengar atau menyebut nama kita, saya berharap kita dapat memberikan efek POWERFUL, sama seperti ketika saya menyebut nama ayah saya dihadapan ibu. Matanya berbinar dan ia langsung beranjak pergi untuk mandi atau makan atau melakukan hal lain yang (sebelumnya) kami minta (dengan susah payah) untuk ia lakukan. Mengapa? Karena nama ayah saya menyimpan pengaruh besar dalam hidup ibu saya, nama yang begitu ia cintai, ia nantikan, ia tunggu dan harapkan setiap hari. What a name! What a powerful name! (KB)