ANAK DAN TALENTANYA

kids
My beautiful children. 18 and 14 years old.

Beberapa bulan terakhir sejak berakhirnya Ujian Negara, saya disibukkan dengan kegiatan memilih, mencari dan menentukan sekolah serta universitas untuk anak-anak saya. Rasanya seperti mimpi! Karena saya sendiri masih amat sangat ingat momen dimana saya mendaftarkan diri ke universitas. And suddenly kok saya mengantar anak saya mendaftar ke universitas! How time flies…

Berdiskusi soal dunia perkuliahan sudah saya lakukan sejak putri pertama saya masuk jenjang SMP. Saya bilang sama dia: “Kamu sudah harus memikirkan, ingin jadi apa kamu nanti. Apa passion-mu? Apa talentamu?” Saya ingin anak saya mempersiapkan diri sedini mungkin untuk mengenali passion dan talentanya. Saya tidak ingin saat ia lulus SMA baru ia sibuk dan bingung memikirkan: “Ingin jadi apakah saya?”

Saya jadi ingat, jaman saya mencari universitas, ibu saya terus-menerus mengingatkan: “Cari sekolah itu jangan idealis. Pokoknya pikir aja, abis selesai kuliah kamu bisa kerja dan dapat uang banyak nggak? Kalo nggak, PERCUMA!” Sekilas omongan ibu saya terdengar benar. Tapi sekarang saya membuktikan, ITU TIDAK BENAR!

Saat itu, sebagai seorang anak yang “takut nggak bisa cari uang”, saya menuruti omongan ibu. Sebenarnya cita-cita asli saya ingin menjadi seorang penulis dan nantinya ingin sekali memiliki karier sebagai Editor in Chief pada sebuah majalah High Fashion kelas dunia. Itu cita-cita saya! Tapi – sekali lagi – kalimat ibu terngiang dalam hati dan pikiran saya: “Kamu mau jadi penulis? Mau makan apaaaaa….” Lalu saya pun mendaftar ke Sekolah Tinggi Pariwisata, agar cepat bekerja dan bisa punya uang banyak! (seperti kata ibu saya…)

Sekarang, saya dihadapkan pada putri saya yang sebentar lagi akan masuk kuliah, and guess what? Ia pun bercita-cita ingin menjadi seorang penulis. Omongan ibu saya tentang memilih jurusan sempat terlintas di pikiran. Mungkin Anda memiliki dilemma yang sama seperti ibu saya dan ibu-ibu lain tentang KEMANA dan APA yang baik untuk anak-anak kita, agar mereka tidak salah memilih jurusan, lalu berakhir jobless tanpa pekerjaan. Mudah-mudahan beberapa hal yang saya lakukan dibawah ini dapat memberi sedikit inspirasi.

 

SETIAP ANAK LAHIR DENGAN TALENTA.

Setiap manusia lahir dilengkapi dengan talenta. Sama seperti sebuah gadget canggih, setiap gadget punya kehebatannya masing-masing. Talenta sama halnya dengan kelebihan, bakat dan kepandaian. Talenta itu hadir disertai passion, atau minat dan keinginan. Minat dan keinginan inilah yang nantinya akan menyetir anak Anda untuk menemukan talentanya. Dan talenta adalah cara Tuhan memberkati setiap kita, agar kita dapat menciptakan, berkarya dan berhasil dalam apapun yang kita kerjakan. Jadi bukan soal “jurusan apa yang akan membuat kita memperoleh pekerjaan dan uang”, tapi talenta apa yang mereka miliki, dan bagaimana saya sebagai orangtua dengan bijaksana menuntun, mengarahkan dan mendukung anak-anak untuk menemukan, mendalami dan berhasil lewat talenta yang mereka miliki.

 

ARAHKAN DENGAN JITU!

Menjadi orangtua yang senang memaksa sepertinya sudah nggak model lagi. Anak yang dipaksa akan memberontak dan akhirnya berusaha membuktikan diri dengan cara-caranya yang ‘ajaib’ dan memusingkan kepala kita. Jadi, daripada saya kehilangan hubungan baik dengan anak, lebih baik saya menguasai tehnik lain, agar anak mau ‘mendengar dan mentaati’ nasehat. Mengarahkan lebih baik daripada memaksa. Waktu saya melihat talenta menulis dalam diri putri saya, saya banyak memberikan masukan berupa cerita-cerita serta contoh-contoh bagaimana mengarahkan talentanya agar ia menjadi seorang penulis yang sukses dan punya nama.

Lalu Anda berpikir, “Duh hari gini jadi penulis! Kapan kayanya?!” Ada banyak cara menjadi hebat. Kemampuan seseorang menurut saya harus disertai dengan kendaraan yang dapat membawa kita ke tujuan akhir. Saya berikan beberapa pilihan pada anak saya. Dan membiarkan ia berpikir dan menimbang-nimbang. Butuh banyak komunikasi dan kedekatan dengan anak, agar mereka memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi pada pendapat dan arahan kita. Jika kita tidak pernah membangun komunikasi dengan mereka, then forget it!

 

AJAR ANAK MELAYANI SESAMA.

Menurut saya, apapun kedudukan hebat di dunia ini, semuanya bermuara pada satu hal: Memberikan pelayanan kepada sesama. Sebagai seorang Nasrani, anak-anak saya sudah terbiasa dengan dunia ministry atau pelayanan di lingkungan gereja. Dunia pelayanan masyarakat amatlah luas. Baik di lingkungan rohani maupun sekuler. Pilih lingkungan yang positif yang dapat membantu mereka belajar, lalu ajarkan anak-anak Anda untuk terlibat dalam pelayanan. Melayani manusia lain merupakan bagian penting bagi tumbuh kembang kecerdasan emosi dan kepandaian anak dalam membangun hubungan dengan sesama. Saya punya banyak kawan jenius, tapi mereka yang tak menguasai ilmu komunikasi dan networking, berakhir sendiri, tanpa pekerjaan, tanpa pasangan hidup, alias: Jones! ( Jomblo Ngenes – red)

 Dalam pelayanannya, anak-anak saya juga mengalami momen kecewa, berhenti, tidak ingin lagi aktif dalam pelayanan, kapok dan seterusnya. Tetapi gesekan yang mereka rasakan terhadap kawan dan sesama itulah yang (menurut saya) akan membentuk mereka menjadi makhluk sosial yang seutuhnya! Karena hanya mereka yang pernah berselisih yang tahu indahnya berdamai. Dan hanya mereka yang pernah berjuang dan bergumul, yang tahu menghormati keberhasilan dan menghargai kemenangan. Struggling is good for your kids. It will build their fighting spirit.

 

INI HIDUP MEREKA BUKAN HIDUP SAYA.

Untuk setiap ortu diktator, mungkin sebaiknya segera sadar, bahwa apa yang kita paksakan kepada anak tidak akan berujung happy ending. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini. Bayangkan jika anak-anak kita harus menjalani hidup yang bukan panggilannya. Betapa menderitanya mereka karena harus menanggung akibat dari keegoisan kita. Daripada MEMAKSAKAN, lebih baik kita MENDOAKAN & MENDIDIK. Berdoa agar Tuhan memberi mereka hikmat dalam memilih. Mendidik mereka menjadi anak-anak yang berintegritas dan berkarakter. Mengasah iman mereka agar memiliki hubungan yang spesial dan dekat dengan Tuhan. Dan mengajar mereka bagaimana mengasihi dan melayani sesama. Rasanya empat hal ini sudah cukup untuk menghasilkan anak-anak yang sukses dan berhasil.

 

DAN PADA AKHIRNYA…

… Bukan soal berapa banyak uang yang dapat Anda wariskan kepada anak-anak, tetapi berapa banyak nilai budi pekerti dan keimanan yang dapat Anda impartasikan dalam hidup mereka.

… Bukan soal dimana mereka bersekolah, tetapi bagaimana mereka mempraktekkan ilmu yang mereka dapat.

… Bukan soal berapa tinggi nilai pelajaran yang mereka peroleh, tetapi bagaimana kita mengajar anak untuk memiliki integritas, bersikap jujur dan belajar berjuang dengan kemampuannya sendiri.

Dan ini adalah NASEHAT IMAN yang selalu saya berikan pada mereka: “Orang kaya mungkin memiliki sebagian besar isi dunia ini. Tetapi orang berhikmatlah yang akan dipilih Tuhan untuk memimpin, mengarahkan dan mengatur isi kepala orang-orang kaya itu.” Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap mereka yang menggantungkan seluruh hidupnya kepada DIA. Tuhan tidak akan pernah mempermalukan anak-anakNya. Dan Tuhan menjanjikan masa depan yang penuh harapan bagi mereka yang mengandalkan DIA. Karena “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” Just do your best and leave the rest to God. (KB)

Advertisements

THE POWER OF A NAME

Sudah hampir empat tahun ibu saya menderita Alzheimer. Sebuah penyakit yang menyerang syaraf ingatannya sehingga ia mengalami disorientasi waktu, tempat dan melupakan hampir setiap hal yang baru saja ia lakukan. Contoh: Saat kami memintanya untuk mandi, ia serta-merta menjawab: “Saya sudah mandi kok!” Padahal belum. Kami sering kehilangan akal membujuknya mandi. Sampai satu kali, kami berkata: “Mam, sebentar lagi suamimu datang lho. Mau jemput jalan-jalan ke mall. Yuk mandi sekarang!” Tidak sampai 5 menit, ibu saya langsung bangkit dan mandi. THERE IS POWER IN THE NAME OF MY DAD!

1458034389869

Sejak ibu saya menderita Dementia yang kemudian berkembang menjadi Alzheimer, ayah saya adalah satu-satunya sosok yang selalu dia ingat, dia cari, dia tunggu dan dia nantikan. Nama ayah saya menjadi semacam ‘jimat’ yang mampu menyelesaikan berbagai masalah yang kami hadapi seputar kesulitan sehari-hari dalam menghadapi tingkah polah ibu saya. Hanya dengan menyebut satu nama itu, ibu saya langsung menuruti apa saja yang kami minta ia lakukan; apakah itu mandi, ganti baju, makan atau lainnya.

Sosok ayah saya memiliki pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan ibu saya. Dan namanya mampu mengatasi banyak masalah. Saya jadi merenung, apakah suatu hari nanti nama saya juga akan membekas dan berpengaruh sedemikian besar dalam kehidupan orang-orang yang saya cintai? Suami saya, anak-anak saya, keluarga, saudara dan para sahabat saya? Apa reaksi mereka saat mendengar atau mengucapkan nama saya? Apa yang mereka ingat atau bayangkan  tentang saya? Tentu saya (dan juga Anda) mengharapkan kenangan atau hal-hal baiklah yang akan lebih banyak diingat oleh mereka.

Lalu hal apa yang harus saya lakukan agar nama saya berdampak ‘manis dan sedap didengar’ dalam kehidupan orang-orang yang saya kasihi? Rasanya saya tak punya cukup energi untuk mengusahakan hal-hal fenomenal diluar jangkauan saya (macam calon presiden yang berkampanye) agar nama saya berdampak atau membekas dalam hidup mereka. Tetapi kalau boleh memulai, saya ingin kehidupan saya berdampak dengan MENJADI DIRI SAYA SENDIRI. Karena saya percaya, setiap kita unik dan istimewa. Dunia ini menjadi demikian menarik justru karena kita hadir dalam bentuk, ukuran, warna, sifat dan karakter yang berbeda. Semua ini memberi warna tersendiri yang menjadikan dunia lebih indah, lebih meriah dan lebih menarik untuk dijalani.

Ditengah menulis postingan ini, saya secara khusus bertanya pada suami dan kedua anak saya – Michelle dan Jason, “What are three things that come to your mind whenever you hear my name?” Michelle menjawab, “Well, mami itu super fun, inspiring dan fierce (No surprise since I have Batak blood in me. LOL!)” Lalu Jason menambahkan, “Mami itu pekerja keras, gaul dan fabulous (Oh my, I didn’t expect this from my boy! HAHA…), Sementara suami saya berkata, “Kamu itu perempuan yang berani, rajin dan selalu mempunyai jawaban atas setiap permasalahan.” HAHA…

Saya berharap, seiring dengan berjalannya waktu, saya akan mampu menambahkan lebih banyak lagi nilai-nilai positif, pengaruh baik, pengajaran yang berguna serta hikmat Tuhan dalam kehidupan anak-anak saya dan orang-orang yang saya kasihi. Tentu saja tak semua orang akan menyukai keberadaan kita atau apa yang kita lakukan. Akan ada waktu dimana kita mengecewakan orang lain. Tidak apa-apa. Toh kita memang tidak didesain untuk menjadi sempurna atau tak bercacat cela. Justru dalam ketidak sempurnaan kita itu, keberadaan TUHAN menjadi lebih nyata dan lebih kita butuhkan untuk memberi kekuatan, penghiburan, mengubah karakter serta membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Menurut saya, yang terpenting dalam hidup ini adalah meninggalkan legacy dan positive impact bagi setiap orang yang mengenal kita – terutama bagi orang-orang yang kita kasihi. Saat seorang mendengar atau menyebut nama kita, saya berharap kita dapat memberikan efek POWERFUL, sama seperti ketika saya menyebut nama ayah saya dihadapan ibu. Matanya berbinar dan ia langsung beranjak pergi untuk mandi atau makan atau melakukan hal lain yang (sebelumnya) kami minta (dengan susah payah) untuk ia lakukan. Mengapa? Karena nama ayah saya menyimpan pengaruh besar dalam hidup ibu saya, nama yang begitu ia cintai, ia nantikan, ia tunggu dan harapkan setiap hari. What a name! What a powerful name! (KB)