ANDA SUDAH MENIKAH? PERHATIKAN ATURAN MAIN BERSOSIAL MEDIA.

Ada pasangan yang santai, ada yang tidak peduli. Ada yang amat percaya, ada pula yang sangat sensitif. Semua itu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari Anda. Apa yang menurut Anda tidak penting, belum tentu tak penting bagi pasangan Anda. Apa yang remeh bagi Anda, bisa saja itu merupakan sumber sakit hati bagi pasangan Anda. Bijaksanalah dalam bersosial media. 

Bagi sebagian orang, sosial media mungkin masih dianggap sebagai sarana hiburan yang kurang penting. Tetapi bagi sebagian besar lainnya, sosial media saat ini telah menduduki posisi yang cukup serius dalam banyak bidang. Sebut saja seorang yang memiliki sebuah usaha, ia akan menggunakan sosial media sebagai portfolio bisnisnya. Atau seorang yang sedang melamar sebuah pekerjaan, pihak HRD sudah mulai memasukkan pertanyaan berikut sebagai sebuah pertanyaan wajib: “Anda memiliki akun sosial media apa saja?” 

Sebagai seorang yang menggeluti dunia sosial media sejak tahun 2003 (Oh, hello Friendster! Haha…), saya melihat fenomena yang luar biasa dalam dunia ini. Sosial media yang awalnya dianggap hanya hiburan biasa, bisa berubah menjadi ajang pertikaian, permusuhan, perpecahan, bahkan… perceraian! Tak percaya? Sebut saja si A, yang saat diam-diam berkencan dengan selingkuhannya, sejenak lupa diri, berfoto wefie bersama sang pacar, lalu tanpa atau dengan sengaja, sang pacar mengunggahnya ke sosial media. Foto itu kemudian di like oleh salah satu kawan yang ternyata berkawan juga dengan sang istri. Dapat dipastikan kemunculan foto itu di kolom explore menjadi sebuah ajang pertikaian seru yang berakhir tragis. 
Demikian luar biasanya efek sosial media. Melihat fenomena ini, saya pikir, ada baiknya pasangan yang telah menikah memahami aturan main bersosial media, agar terhindar dari keributan yang tak seharusnya terjadi. Menurut saya, ada 5 (lima) hal yang perlu diperhatikan dalam bersosial media bagi pasangan menikah:

1. Follow

Kita memang tak bisa mengontrol followers. Namun kita bisa mengontrol SIAPA yang kita follow. Hati-hati saat mem-follow akun lawan jenis. Pastikan Anda memiliki alasan tepat saat mengikuti akun tersebut. Temankah? Artis idola? Seseorang yang memiliki kesamaan hobi? Seseorang yang dapat menjadi sumber inspirasi? atau sumber informasi bermanfaat? Semoga hal-hal inilah yang menjadi alasan mengapa Anda mengikuti sebuah akun. Diluar itu? Sebaiknya jangan. Hindari mem-follow akun lawan jenis yang sering mengunggah foto-foto tak layak yang dapat menjadi sumber bencana dalam hubungan Anda. Ingat: Pasangan Anda akan sangat merasa sakit hati dan dilecehkan saat mengetahui pasangannya mengikuti akun lawan jenis dengan feed yang kurang senonoh. Last but not least, mem-follow akun pasangan Anda adalah sebuah KEWAJIBAN, bukan PILIHAN ­čÖé

2. Like

Masih berhubungan dengan akun lawan jenis. Poin ini terkesan sepele, namun ternyata, banyak pasangan yang akhirnya bertengkar karena masalah ini. “Kenapa sih akun si A selalu kamu like, sementara akun aku nggak pernah kamu like?” Bisa jadi, ini merupakan pertanyaan awal munculnya sebuah MUSIBAH GUNUNG MELETUS yang sebaiknya Anda sikapi dengan benar. Menyukai foto atau postingan pasangan Anda merupakan sebuah tindakan autopilot yang sebaiknya kita lakukan – bagus atau tidak bagus gambarnya – demi ketentraman hidup bersama. Haha… (Lagipula, apa susahnya? Tinggal click. Anda tak perlu mengeluarkan tenaga dan uang bukan?)

3. Comment

Satu lagi sumber malapetaka yang (ternyata) telah terbukti! Hati-hati meninggalkan komentar pada akun lawan jenis. Terutama apabila orang tersebut juga telah menikah. Banyak sekali pertengkaran dalam rumah tangga yang muncul dikarenakan hal ini. Hati-hati saat berkomentar terhadap postingan foto diri si lawan jenis. Kata-kata sesimple: “Kamu cantik…” bisa jadi akan membunyikan genderang perang di rumah Anda. Menjaga perasaan pasangan Anda jauh lebih penting daripada berkomentar di postingan orang lain. Mari menjaga keamanan dan ketertiban hidup bersama.

4. DM (Direct Message)

Mungkin Anda berpikir, agar terhindar dari masalah, sebaiknya saya berkomentar via DM saja. Ini pernah – kalau tak ingin disebut sering – terjadi pada saya pribadi. oleh karena itu, beberapa hari yang lalu saya mengeluarkan status kejam terhadap lawan jenis yang kurang beretika saat mengirimkan DM. Menjaga kepercayaan pasangan Anda jjauh lebih penting dari apapun juga! Ingat, orang yang Anda DM itu bukan siapa-siapa. Jangan mengorbankan hubungan demi memuaskan rasa iseng Anda!

5. Password

Ada baiknya pasangan suami istri saling mengetahui password masing-masing. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Belajar terbuka merupakan sebuah langkah penting dalam menjaga hubungan dengan pasangan Anda. Hal ini juga menunjukkan bahwa Anda tidak berusaha menyembunyikan apapun dari pasangan Anda. Bukan maksud untuk membuat diri tak percaya pada pasangan, namun untuk menjaga hati masing-masing. Suami saya tahu segala password dalam hidup saya. Hal ini membuat saya tenang sekaligus berhati-hati dalam melakukan segala hal. 

Akhir kata, semua ini tentu kembali kepada value dan tata cara Anda dalam menjaga hubungan dengan pasangan Anda. Ada pasangan yang santai, ada yang tidak peduli. Ada yang amat percaya, ada pula yang sangat sensitif. Semua itu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari Anda. Apa yang menurut Anda tidak penting, belum tentu tak penting bagi pasangan Anda. Apa yang remeh bagi Anda, bisa saja itu merupakan sumber sakit hati bagi pasangan Anda. Bijaksanalah dalam bersosial media. Seperti banyak orang berkata: “Jangan terlalu serius bersosial media. Ini hanya ajang hiburan belaka.” Nah, mari kita kembalikan sosial media pada fungsinya yang semula. Sebagai hiburan, tempat mencari informasi, berkawan dan berkreasi, dan bukan sebaliknya. Selamat bersosial media! Ingat: Pasanganmu, keluargamu, kawan-kawan sehari-harimu adalah pertemananmu yang sejati. (KB)

Advertisements

LOGIKA CINTA

1142017144442

Suami saya bukan pria yang merayakan Valentine. Dia cenderung alergi pada segala sesuatu yang “Aaww… so sweet!” begituan. Nah beda dengan saya. Saya dari kecil hidup dalam angan-angan film Disney princess, yang selalu berakhir dengan: “…Then the prince kisses her, and they live happily ever after.”

Kebayang dong waktu menikah, harapan saya untuk mengarungi rumah tangga ala ala Cinderella sudah terpeta di hati dan pikiran. Eh ternyata ‘pangeran’ ku modelnya ala kadarnya. Alias: What you see is what you got. Kalau ingin sesuatu, harus bilang. Karena dia nggak akan menangkap segala bentuk sinyal, kode atau apalah yang biasa dilakukan perempuan (yang ingin sesuatu tapi gengsi mengatakan).

Diawal menikah, saya seriiiinggg sekali ngambek untuk hal-hal yang konyol dan bodoh (yang kalo dipikirin sekarang rasanya geli banget!). Mungkin karena saat itu saya masih mengidap Cinderela syndrome. Lalu saya juga sering iri hati, suka membandingkan kemesraan dan pernikahan orang lain dengan keadaan saya. “Tuh si itu aja begitu. Masa kita gini?” Aduhhh… ini jangan dicontoh ya teman-teman.

Tapi Tuhan baik. Setiap kali saya iri hati terhadap pernikahan atau kemesraan orang lain, ada saja kisah ‘dibalik layar’ yang saya lihat dari pasangan-pasangan itu, yang membuat saya akhirnya berhenti iri hati dan bersyukur dengan pernikahan saya. Me and my husband – we’ve been loving each other for twenty years. And its not all a bed of roses experience for sure. Dan pada akhirnya, saya harus katakan bahwa saya bersyukur sekali memiliki suami yang mencintai dengan logika. Bukan hanya cinta emosional, sesaat, menggebu-gebu lalu hilang. Cintanya simple but it works!

Ada banyak pasangan yang memamerkan kemesraan mereka lewat media sosial – dan itu tidak salah! – namun saya berharap, kehidupan pernikahan dan cinta mereka seindah dan sejujur foto-foto yang dipamerkan. Banyak orang berkata: “Ah, cinta mana bisa pakai logika. Kita bicara perasaan, emosi dan hati.” ANDA SALAH! Justru cinta yang penuh komitmen HARUSLAH dijalani dengan LOGIKA. Mengapa? Ibarat soal Matematika, 1+1=2. TITIK! Apanya yang abstrak? Apanya yang sulit dimengerti? Semua jelas dan terpampang nyata. Artinya apa?

Artinya adalah: Saat kecantikan dan ketampanan luntur, keadaan keuangan naik turun, perasaan kita pada pasangan maju mundur dan sewaktu bintang kejora sedang tak berpihak pada kita, LOGIKANYA ADALAH: Kamu suamiku, dan saya adalah istrimu! Suka atau tidak suka, ingin atau ingin muntah, dalam marah maupun sayang, AKU AKAN TETAP BERSAMAMU, mencintai, menerima, mengerti, melindungi, menjalani, menyediakan, memahami, memaafkan dan sejuta ‘kata kerja’ positif lainnya yang HARUS kita lakukan, setiap saat, selalu, selamanya hingga maut memisahkan. ITU ADALAH CINTA DENGAN LOGIKA!

Buat kalian yang masih single, pikirkan baik-baik. Bila tiba saatnya kalian menetapkan pilihan, GUNAKAN LOGIKAMU dan berpikirlah masak-masak:

“Apakah saya mampu hidup bersama dia? Apakah saya mampu hidup tanpa dia? Apakah saya mampu untuk terus mencintai dia, apapun dosa, kesalahan, kekhilafan dan kegilaan serta keburukan dia yang akan muncul dimasa datang? Apakah saya mampu menahan diri untuk tetap bersama dia, berdiri di pihaknya, membela dia, dalam segala keadaan?” Jawab semua itu dengan jujur, dengan logika, bukan emosi. Inget ya: Sesuatu yang didapat, mudah pula dilepaskan. Jangan sembarangan memutuskan. 

Pernikahan memang tidak mudah! Ada banyak PR yang harus kamu kerjakan, jika kamu tidak ingin gagal saat ‘ujian’ datang. Tapi reward yang kamu terima pun sungguh banyak dan membahagiakan. One thing though, JANGAN TAKUT pada pernikahan! Toh TUHAN sudah menjamin, DIA sendiri berkata: “Two are better than one.” Kalau Tuhan saja menganggap berdua itu lebih baik, MAKA ITU PASTI BAIK ADANYA. Dan yakinlah, DIA juga akan memberikan pertolongan, kasih, kekuatan dan hikmat yang melampaui segala akal, untuk kita dapat (tak hanya) bertahan, namun menjalani dengan penuh ucapan syukur, sukacita, kemenangan, damai sejahtera, kasih mesra dan kebahagiaan yang utuh, yang sepenuhnya berasal dari DIA, dan bukan dicapai melalui kekuatan kita sendiri. Amen. Selamat merayakan cinta! (KB)

THE POWER OF A NAME

Sudah hampir empat tahun ibu saya menderita Alzheimer. Sebuah penyakit yang menyerang syaraf ingatannya sehingga ia mengalami disorientasi waktu, tempat dan melupakan hampir setiap hal yang baru saja ia lakukan. Contoh: Saat kami memintanya untuk mandi, ia serta-merta menjawab: “Saya sudah mandi kok!” Padahal belum. Kami sering kehilangan akal membujuknya mandi. Sampai satu kali, kami berkata: “Mam, sebentar lagi suamimu datang lho. Mau jemput jalan-jalan ke mall. Yuk mandi sekarang!” Tidak sampai 5 menit, ibu saya langsung bangkit dan mandi.┬áTHERE IS POWER IN THE NAME OF MY DAD!

1458034389869

Sejak ibu saya menderita Dementia yang kemudian berkembang menjadi Alzheimer, ayah saya adalah satu-satunya sosok yang selalu dia ingat, dia cari, dia tunggu dan dia nantikan. Nama ayah saya menjadi semacam ‘jimat’ yang mampu menyelesaikan berbagai masalah yang kami hadapi seputar kesulitan sehari-hari dalam menghadapi tingkah polah ibu saya.┬áHanya dengan menyebut satu nama itu, ibu saya langsung menuruti apa saja yang kami minta ia lakukan; apakah itu mandi, ganti baju, makan atau lainnya.

Sosok ayah saya memiliki pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan ibu saya. Dan namanya mampu mengatasi banyak masalah. Saya jadi merenung, apakah suatu hari nanti nama saya juga akan membekas dan berpengaruh sedemikian besar dalam kehidupan orang-orang yang saya cintai? Suami saya, anak-anak saya, keluarga, saudara dan para sahabat saya? Apa reaksi mereka saat mendengar atau mengucapkan nama saya? Apa yang mereka ingat atau bayangkan  tentang saya? Tentu saya (dan juga Anda) mengharapkan kenangan atau hal-hal baiklah yang akan lebih banyak diingat oleh mereka.

Lalu hal apa yang harus saya lakukan agar nama saya berdampak ‘manis dan sedap didengar’ dalam kehidupan orang-orang yang saya kasihi? Rasanya saya tak punya cukup energi untuk mengusahakan hal-hal fenomenal diluar jangkauan saya (macam calon presiden yang berkampanye) agar nama saya berdampak atau membekas dalam hidup mereka. Tetapi kalau boleh memulai, saya ingin kehidupan saya berdampak dengan MENJADI DIRI SAYA SENDIRI. Karena saya percaya, setiap kita unik dan istimewa. Dunia ini menjadi demikian menarik justru karena kita hadir dalam bentuk, ukuran, warna, sifat dan karakter yang berbeda. Semua ini memberi warna tersendiri yang menjadikan dunia lebih indah, lebih meriah dan lebih menarik untuk dijalani.

Ditengah menulis postingan ini, saya secara khusus bertanya pada suami dan kedua anak saya – Michelle dan Jason, “What are three things that come to your mind whenever you hear my name?” Michelle menjawab, “Well, mami itu super fun, inspiring dan fierce (No surprise since I have Batak blood in me. LOL!)” Lalu Jason menambahkan, “Mami itu pekerja keras, gaul dan fabulous (Oh my, I didn’t expect this from my boy! HAHA…), Sementara suami saya berkata, “Kamu itu perempuan yang berani, rajin dan selalu mempunyai jawaban atas setiap permasalahan.” HAHA…

Saya berharap, seiring dengan berjalannya waktu, saya akan mampu menambahkan lebih banyak lagi nilai-nilai positif, pengaruh baik, pengajaran yang berguna serta hikmat Tuhan dalam kehidupan anak-anak saya dan orang-orang yang saya kasihi. Tentu saja tak semua orang akan menyukai keberadaan kita atau apa yang kita lakukan. Akan ada waktu dimana kita mengecewakan orang lain. Tidak apa-apa. Toh kita memang tidak didesain untuk menjadi sempurna atau tak bercacat cela. Justru dalam ketidak sempurnaan kita itu, keberadaan TUHAN menjadi lebih nyata dan lebih kita butuhkan untuk memberi kekuatan, penghiburan, mengubah karakter serta membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Menurut saya, yang terpenting dalam hidup ini adalah meninggalkan legacy dan positive impact bagi setiap orang yang mengenal kita – terutama bagi orang-orang yang kita kasihi. Saat seorang mendengar atau menyebut nama kita, saya berharap kita dapat memberikan efek┬áPOWERFUL,┬ásama seperti ketika saya menyebut nama ayah saya dihadapan ibu. Matanya berbinar dan ia langsung beranjak pergi untuk mandi atau makan atau melakukan hal lain yang (sebelumnya) kami minta (dengan susah payah) untuk ia lakukan. Mengapa? Karena nama ayah saya menyimpan pengaruh besar dalam hidup ibu saya, nama yang begitu ia cintai, ia nantikan, ia tunggu dan harapkan setiap hari. What a name! What a powerful name! (KB)