SIAP DITOLONG!

Setiap kita dalam suatu waktu pastilah membutuhkan pertolongan. Entah itu untuk sebuah hal sederhana atau hal berat yang memang nyata-nyata tidak mampu untuk kita lakukan sendiri. Namun sadarkah kita, saat kita membutuhkan pertolongan, kita juga perlu memiliki sikap yang ‘siap untuk menerima pertolongan’? Seringkali, kita meminta tolong, namun sikap kita berkata lain.

Saya sering menerima curhatan dari teman-teman tentang berbagai hal. Soal rumah tangga, suami, anak, pekerjaan, pertemanan dan banyak lagi. Saat seorang teman mulai curhat, saya biasanya akan memperhatikan sikapnya dalam meminta tolong. “Aku harus gimana ya?” Begitu selalu awalnya. Saya akan memancing dengan sebuah solusi HANYA UNTUK MELIHAT sikap dia, apakah dia siap ditolong atau tidak.

Jika ia mendengar hanya untuk menjawab, selalu mencari-cari alasan dibalik sikapnya yang enggan berubah, merasa diri paling benar, dst, maka dipastikan orang ini tidak ingin ditolong. Dia hanya butuh tempat sampah untuk curhat. Lalu, apa saja sikap yang perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin ditolong dan menerima pertolongan, agar hidupnya BERUBAH? Beberapa hal berikut ini mungkin bisa menjadi checklist kita semua.

1. Sebuah pengakuan.

Seseorang yang benar-benar butuh pertolongan akan mengakui bahwa dirinya memang butuh, tidak sanggup lagi melakukannya seorang diri dan siap menerima bantuan. Ia sudah tidak berada di fase denial, dimana ia masih merasa mampu. Pengakuan seseorang bahwa ia membutuhkan pertolongan merupakan sebuah awal yang penting bagi terjadinya perubahan dalam hidup. So it’s a good sign.

2. Tidak merasa paling benar.

“Iya, saya sadar ini kesalahan saya. Oleh karena itu saya ingin memperbaikinya.” Ini adalah sebuah sikap keterbukaan diri yang perlu dimiliki seorang yang butuh pertolongan. Karena sikap ini menunjukkan bahwa ia mendengar nasehat untuk belajar, bukan untuk berdebat atau adu mulut. Orang yang selalu merasa dirinya paling benar akan sulit menerima pertolongan. Karena ia seperti mementahkan kembali setiap saran yang diterimanya dengan argumen-argumen yang dia katakan.

3. To do whatever it takes, WHOLEHEARTEDLY.

“Sudah! Saya sudah melakukan ini. Itu. Tapi tetap saja tidak berhasil.” Seorang yang berkata demikian DAPAT DIPASTIKAN bahwa ia melakukan usaha perbaikan namun tidak disertai dengan sikap positif. Ia melakukannya lebih karena terpaksa atau karena tak ada pilihan lain. Jika kita ingin melihat perubahan, lakukanlah segala usaha dengan tulus hati. Mengapa? Karena ketulusan hati tidak bisa bohong. Melakukan sesuatu dengan tulus akan terpancar di wajah, terdengar dalam nada suara dan terbaca lewat bahasa tubuh kita. Orang akan mengetahui apakah kita melakukan atau mengatakan sesuatu dengan segenap hati atau tidak. So be careful! And do everything WHOLEHEARTEDLY.

4. Mengusahakan segala sesuatu demi perubahan, bukan untuk menang sendiri.

“Oke. Aku ngalah! Tapi inget ya, aku ngalah bukan karena aku takut sama kamu. Tapi karena aku nggak mau ribut.”

“Oke. Sorry! Aku minta maaf. Sebenernya aku nggak merasa salah, tapi kalo menurut kamu aku salah, ya ok. Aku minta maaf.”

Dua ungkapan diatas menunjukkan dengan jelas bahwa mereka melakukan YANG BENAR bukan untuk mengalami atau membuat sebuah perubahan positif, tapi hanya untuk pamer dan menang sendiri. Apakah pihak lawan merasa dihargai dengan sikap tersebut? Tentu tidak! Apakah orang ini bersikap tulus dalam melakukan apa yang dia lakukan? Jelas tidak!

5. Fokus pada penyelesaian masalah.

“Mungkin ada baiknya kamu melakukan ini…”

“Aduh, udah say! Aku udah lakukan itu. Tapi tetep aja dia bla, bla, bla…”

Di dunia ini nggak ada hal yang instan. Jika kita melakukan atau mengusahakan sesuatu untuk mendatangkan sebuah perubahan positif, maka kita perlu melakukannya berulang-ulang, dengan gigih, dengan sikap hati yang benar, dengan penuh pengharapan bahwa suatu hari perubahan itu PASTI akan terjadi. Sikap seperti inilah yang dbutuhkan seseorang yang SIAP menerima pertolongan dan perubahan dalam hidupnya.

Jadi yuk kita berhenti mencari-cari alasan. Mulailah fokus pada perubahan yang ingin kita capai. Lakukan segala hal dengan tulus hati. Karena ketulusan hati itu terbaca melampaui perkataan hebat manapun! Jika kita tahu bahwa kita membutuhkan pertolongan untuk mengubah keadaan kita menjadi lebih baik, jadilah seorang yang mudah mendengarkan, mudah dajak untuk bekerjasama, memiliki hati yang mau diajar, dan yang paling penting, tidak mudah putus asa. Anda butuh pertolongan? Bersiaplah untuk menerima pertolongan dengan lebih dulu mengubah sikap Anda yang negatif. Maka perubahan positif akan segera terjadi dalam kehidupan Anda. (KB)

Advertisements

SENSITIF! 

Sama seperti rasa haus, sensitifitas itu penting dimiliki oleh setiap manusia. Hanya saja, untuk situasi yang bagaimana ia patut dihadirkan? Banyak persoalan hidup terselesaikan dengan hadirnya sensitifitas. Namun banyak juga masalah timbul karena kita salah menggunakan keberadaannya. Salah tempat, salah orang, salah sasaran. Semakin dewasa seseorang, sebaiknya semakin pula ia mengerti bagaimana CARA TEPAT memaknai dan mengolah rasa ini dalam kehidupannya. Perasaan sensitif yang dimunculkan pada waktu dan kondisi yang kurang tepat hanya akan melukai diri sendiri. 
Tak ada cara khusus untuk mengasah kepandaian dalam mempergunakan rasa ini, selain melatih diri untuk fokus pada hal-hal yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Mari pikirkan semua itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaKU – kata Tuhan nih, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.
Yuk “melek rasa”. Pinteran dikit mengolah sensitifitas untuk hal-hal yang lebih mulia. Belajar me-manage perasaan untuk hal-hal yang lebih berguna. Pakai rasa haus dan lapar untuk pengetahuan, pembelajaran demi peningkatan kualitas diri. Pakai rasa sensitif untuk lebih berempati pada kesulitan hidup orang lain dan pada kebutuhan sesama untuk dikasihi, dilindungi dan dibahagiakan. Bukan sensi untuk hal-hal yang kurang penting, tidak jelas atau kekanak-kanakan. Tuhan udah mau datang say! Fokuuuussss okheeyyy…

MERDEKA UNTUK DEWASA

Jadilah manusia yang merdeka seutuhnya, dengan TIDAK TAKUT untuk menjadi diri sendiri baik melalui pikiran, perasaan, perbuatan maupun penampilan. Karena dunia ini berwarna bukan karena kita sama, tetapi karena kita unik dan berbeda. 

Sekitar dua minggu yang lalu, negara kita baru saja merayakan Hari Kemerdekaannya. Saat kecil, perayaan ini tak memiliki arti apapun bagi saya pribadi. Saya hanya selalu gembira menyambut hari ini. Karena pertama, itu adalah hari ulang tahun ayah saya. Dan kedua, ada banyak acara menarik di kota saya saat tujuh belasan. Favorit saya: lari karung dan tarik tambang.
Semakin dewasa, saya semakin bisa menghargai arti kemerdekaan yang sebenarnya. Tidak hanya secara umum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun lebih dari itu, mewujudkan kemerdekaan yang dapat saya aplikasikan dalam kehidupan pribadi sehari-hari. Saya semakin yakin, bahwa kemerdekaan itu memang HAK SEGALA BANGSA (aka: setiap umat manusia). Tetapi kemerdekaan seperti apa? Tentu saja yang bertanggung jawab. 
Dengan semakin bertambahnya usia, saya merasa HARUS mempraktekkan KEMERDEKAAN dengan lebih nyata dalam hidup saya. Diantaranya adalah:


1. Merdeka dari tekanan. 

Saya menolak untuk menjadi seorang yang hidup dibawah tekanan / pressure yang tidak perlu. Seperti omongan orang, pendapat orang yang sok tahu dan keliru tentang diri saya, fitnah, gossip dan hal-hal sejenis lainnya. Saya melepaskan diri dari keinginan untuk selalu MEMBUKTIKAN bahwa saya benar. Saya memilih untuk tidak peduli saat orang berkata-kata yang jahat tentang saya. Itu hak mereka, dan merupakan hak saya juga untuk memilih diam dan tak peduli. Saya hanya tidak ingin suhu hati saya ditentukan oleh mulut orang yang tidak bertanggung jawab.


2. Merdeka dari tuduhan.

Tuduhan tak melulu datang dari pihak luar lho! Tuduhan terbesar dan terberat dalam hidup justru datang dari diri sendiri. Seringkali tanpa sadar, hati saya menuduh diri sendiri tentang banyak hal. Mulai dari soal penampilan, sikap, cara saya melakukan atau mengatasi sesuatu dan masih banyak lagi.

“Duh kamu tuh, liat deh! Udah gendut. Gimana sih? Ntar jelek lho kalo pake baju…”

“Masa menyelesaikan masalah segitu aja nggak bisa? Ibu macam apa kamu? Istri macam apa kamu? Teman macam apa kamu?”

“Liat tuh! Si A bilang kamu begini. Sana gih, bela diri… Jangan terima dong dikatain begitu.”

Tentu kita akrab dengan kalimat-kalimat diatas. Dan seringkali perkataan-perkataan itu justru datang dari dalam diri sendiri. Karena sesungguhnya, musuh terbesar kita adalah diri, pikiran dan perasaan kita sendiri! Semakin kemari, saya merasa semakin membutuhkan ketenangan hati dan pikiran. Untuk itulah saya perlu memerdekakan diri dari segala bentuk tuduhan. The older I get, the more careful I am in choosing the battle in my daily life. I dont want to fight for things that are not worthy of my time and energy. 

3. Merdeka dari ketakutan untuk berjalan sendiri.

Saat memasuki usia 30-an, saya belajar satu hal penting tentang persahabatan dan hubungan dengan orang-orang di sekitar saya (diluar hubungan keluarga). Saya belajar bahwa, pada akhirnya, pertemanan itu sifatnya selalu datang dan pergi. Ada kawan yang hilang, ada kawan baru datang. Ada teman yang pergi, lalu ada teman baru yang hadir. Hal ini adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan. 

Sejak itu saya berhenti untuk ‘berusaha keras’ menyenangkan semua orang dan memutuskan untuk, “Saya hanya akan berusaha menjadi teman yang baik. Diluar itu, saya tidak akan ambil pusing.” Pemikiran seperti ini membuat hidup saya jauh lebih tenang dan damai. Saya tidak pernah harus ‘terpaksa’ untuk menyenangkan semua orang, saya bisa tampil apa adanya sesuai karakter diri sendiri. Saya bebas mengekspresikan diri saya (melalui penampilan, pola pikir, mengekspresikan perasaan, dsb). 

Saya berhenti merasa takut kehilangan teman. Saya memerdekakan diri dari kebutuhan untuk DIAKUI oleh kelompok tertentu dan BERJUANG untuk diterima. Tidak! Kehidupan kita akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kawan-kawan yang kita miliki sekarang. Yang datang, biarlah datang. Yang pergi, biarkan pergi. Karena teman sejati akan tersaring dengan sendirinya. Mereka adalah orang-orang yang akan TINGGAL TETAP walaupun harus mengalami berbagai situasi serusuh dan segila apapun!
Tiga hal ini rasanya cukup mewakili pemikiran saya tentang mengartikan kemerdekaan bagi diri sendiri. Saya hanya ingin kita semua dapat menjadi orang yang benar-benar merdeka. Bebas namun bertanggung jawab, tegas tapi penuh belas kasihan. Teguh namun pemaaf. Mengasihi sesama tapi tak mudah dipermainkan. Jadilah manusia yang merdeka seutuhnya, dengan TIDAK TAKUT untuk menjadi diri sendiri baik melalui pikiran, perasaan, perbuatan maupun penampilan. Karena dunia ini berwarna bukan karena kita sama, tetapi karena kita unik dan berbeda. (KarinaBDMN)



ANDA SUDAH MENIKAH? PERHATIKAN ATURAN MAIN BERSOSIAL MEDIA.

Ada pasangan yang santai, ada yang tidak peduli. Ada yang amat percaya, ada pula yang sangat sensitif. Semua itu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari Anda. Apa yang menurut Anda tidak penting, belum tentu tak penting bagi pasangan Anda. Apa yang remeh bagi Anda, bisa saja itu merupakan sumber sakit hati bagi pasangan Anda. Bijaksanalah dalam bersosial media. 

Bagi sebagian orang, sosial media mungkin masih dianggap sebagai sarana hiburan yang kurang penting. Tetapi bagi sebagian besar lainnya, sosial media saat ini telah menduduki posisi yang cukup serius dalam banyak bidang. Sebut saja seorang yang memiliki sebuah usaha, ia akan menggunakan sosial media sebagai portfolio bisnisnya. Atau seorang yang sedang melamar sebuah pekerjaan, pihak HRD sudah mulai memasukkan pertanyaan berikut sebagai sebuah pertanyaan wajib: “Anda memiliki akun sosial media apa saja?” 

Sebagai seorang yang menggeluti dunia sosial media sejak tahun 2003 (Oh, hello Friendster! Haha…), saya melihat fenomena yang luar biasa dalam dunia ini. Sosial media yang awalnya dianggap hanya hiburan biasa, bisa berubah menjadi ajang pertikaian, permusuhan, perpecahan, bahkan… perceraian! Tak percaya? Sebut saja si A, yang saat diam-diam berkencan dengan selingkuhannya, sejenak lupa diri, berfoto wefie bersama sang pacar, lalu tanpa atau dengan sengaja, sang pacar mengunggahnya ke sosial media. Foto itu kemudian di like oleh salah satu kawan yang ternyata berkawan juga dengan sang istri. Dapat dipastikan kemunculan foto itu di kolom explore menjadi sebuah ajang pertikaian seru yang berakhir tragis. 
Demikian luar biasanya efek sosial media. Melihat fenomena ini, saya pikir, ada baiknya pasangan yang telah menikah memahami aturan main bersosial media, agar terhindar dari keributan yang tak seharusnya terjadi. Menurut saya, ada 5 (lima) hal yang perlu diperhatikan dalam bersosial media bagi pasangan menikah:

1. Follow

Kita memang tak bisa mengontrol followers. Namun kita bisa mengontrol SIAPA yang kita follow. Hati-hati saat mem-follow akun lawan jenis. Pastikan Anda memiliki alasan tepat saat mengikuti akun tersebut. Temankah? Artis idola? Seseorang yang memiliki kesamaan hobi? Seseorang yang dapat menjadi sumber inspirasi? atau sumber informasi bermanfaat? Semoga hal-hal inilah yang menjadi alasan mengapa Anda mengikuti sebuah akun. Diluar itu? Sebaiknya jangan. Hindari mem-follow akun lawan jenis yang sering mengunggah foto-foto tak layak yang dapat menjadi sumber bencana dalam hubungan Anda. Ingat: Pasangan Anda akan sangat merasa sakit hati dan dilecehkan saat mengetahui pasangannya mengikuti akun lawan jenis dengan feed yang kurang senonoh. Last but not least, mem-follow akun pasangan Anda adalah sebuah KEWAJIBAN, bukan PILIHAN 🙂

2. Like

Masih berhubungan dengan akun lawan jenis. Poin ini terkesan sepele, namun ternyata, banyak pasangan yang akhirnya bertengkar karena masalah ini. “Kenapa sih akun si A selalu kamu like, sementara akun aku nggak pernah kamu like?” Bisa jadi, ini merupakan pertanyaan awal munculnya sebuah MUSIBAH GUNUNG MELETUS yang sebaiknya Anda sikapi dengan benar. Menyukai foto atau postingan pasangan Anda merupakan sebuah tindakan autopilot yang sebaiknya kita lakukan – bagus atau tidak bagus gambarnya – demi ketentraman hidup bersama. Haha… (Lagipula, apa susahnya? Tinggal click. Anda tak perlu mengeluarkan tenaga dan uang bukan?)

3. Comment

Satu lagi sumber malapetaka yang (ternyata) telah terbukti! Hati-hati meninggalkan komentar pada akun lawan jenis. Terutama apabila orang tersebut juga telah menikah. Banyak sekali pertengkaran dalam rumah tangga yang muncul dikarenakan hal ini. Hati-hati saat berkomentar terhadap postingan foto diri si lawan jenis. Kata-kata sesimple: “Kamu cantik…” bisa jadi akan membunyikan genderang perang di rumah Anda. Menjaga perasaan pasangan Anda jauh lebih penting daripada berkomentar di postingan orang lain. Mari menjaga keamanan dan ketertiban hidup bersama.

4. DM (Direct Message)

Mungkin Anda berpikir, agar terhindar dari masalah, sebaiknya saya berkomentar via DM saja. Ini pernah – kalau tak ingin disebut sering – terjadi pada saya pribadi. oleh karena itu, beberapa hari yang lalu saya mengeluarkan status kejam terhadap lawan jenis yang kurang beretika saat mengirimkan DM. Menjaga kepercayaan pasangan Anda jjauh lebih penting dari apapun juga! Ingat, orang yang Anda DM itu bukan siapa-siapa. Jangan mengorbankan hubungan demi memuaskan rasa iseng Anda!

5. Password

Ada baiknya pasangan suami istri saling mengetahui password masing-masing. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Belajar terbuka merupakan sebuah langkah penting dalam menjaga hubungan dengan pasangan Anda. Hal ini juga menunjukkan bahwa Anda tidak berusaha menyembunyikan apapun dari pasangan Anda. Bukan maksud untuk membuat diri tak percaya pada pasangan, namun untuk menjaga hati masing-masing. Suami saya tahu segala password dalam hidup saya. Hal ini membuat saya tenang sekaligus berhati-hati dalam melakukan segala hal. 

Akhir kata, semua ini tentu kembali kepada value dan tata cara Anda dalam menjaga hubungan dengan pasangan Anda. Ada pasangan yang santai, ada yang tidak peduli. Ada yang amat percaya, ada pula yang sangat sensitif. Semua itu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari Anda. Apa yang menurut Anda tidak penting, belum tentu tak penting bagi pasangan Anda. Apa yang remeh bagi Anda, bisa saja itu merupakan sumber sakit hati bagi pasangan Anda. Bijaksanalah dalam bersosial media. Seperti banyak orang berkata: “Jangan terlalu serius bersosial media. Ini hanya ajang hiburan belaka.” Nah, mari kita kembalikan sosial media pada fungsinya yang semula. Sebagai hiburan, tempat mencari informasi, berkawan dan berkreasi, dan bukan sebaliknya. Selamat bersosial media! Ingat: Pasanganmu, keluargamu, kawan-kawan sehari-harimu adalah pertemananmu yang sejati. (KB)

HAPPY INTERNATIONAL WOMEN’S DAY

Jadilah wanita yang menghargai diri sendiri. Jangan menggunakan kemolekanmu dengan cara-cara salah dan tidak terhormat untuk memperoleh hal-hal yang sia-sia serupa materi, ketenaran atau kehidupan dangkal dengan HANYA mengutamakan kecantikan fisik belaka. Hari ini dunia memperingati Hari Perempuan Internasional. Event yang dirayakan pertama kali di New York, Amerika Serikat ini awalnya dilakukan sebagai wujud perjuangan para wanita yang menuntut hak-hak mereka, disamping memperjuangkan perdamaian dunia.

Saya adalah perempuan yang sangat pro terhadap perjuangan hak para wanita yang – menurut saya, HARUS dapat kita terima secara utuh, menyeluruh dan adil, tanpa melupakan tanggung jawab, meninggalkan kodrat, apalagi mengangkangi otoritas pria yang menjadi pimpinan, kepala, ayah atau suami kita.
Menjadi PEREMPUAN KUAT merupakan sebuah KEHARUSAN! Karena dunia membutuhkan itu untuk dapat terus berputar dan menghasilkan kehidupan. Kita adalah poros keluarga dan harapan bangsa dalam mewujudkan keluarga yang harmonis, sakinah, mawadah dan warohmah.
Jika kita tidak memutuskan untuk menjadi kuat dalam iman, dalam pikiran, dalam tindakan, dalam karakter, dalam perbuatan dan dalam membangun impian bagi keluarga kita, bagaimana masa depan anak kita, keluarga kita dan bangsa kita?
Mari menjadi wanita yang kuat namun santun, tunduk pada otoritas, lemah lembut, bijaksana, murah hati, penuh belas kasihan, tulus, tekun dan gigih. Karena ditangan kita ada kehidupan yang harus terus dirawat dan tumbuh, yang suatu saat juga akan menghasilkan kehidupan baru lainnya.
Jadilah wanita yang menghargai diri sendiri. Jangan menggunakan kemolekanmu dengan cara-cara salah dan tidak terhormat untuk memperoleh hal-hal yang sia-sia serupa materi, ketenaran atau kehidupan dangkal dengan HANYA mengutamakan kecantikan fisik belaka. Karena suatu hari nanti, kau akan menjadi tua! Lalu apa yang tinggal dalam dirimu jika hanya “cantik seujung kulit” yang kau miliki?
Let us age gracefully and leaving the beautiful legacy to our younger sisters, daughters and other fellow-women. You are precious in His sight. So start acting like one! Salute to all strong women of the world….

From Your Tribe,
KARINABDMN

ANAK DAN TALENTANYA

kids

My beautiful children. 18 and 14 years old.

Beberapa bulan terakhir sejak berakhirnya Ujian Negara, saya disibukkan dengan kegiatan memilih, mencari dan menentukan sekolah serta universitas untuk anak-anak saya. Rasanya seperti mimpi! Karena saya sendiri masih amat sangat ingat momen dimana saya mendaftarkan diri ke universitas. And suddenly kok saya mengantar anak saya mendaftar ke universitas! How time flies…

Berdiskusi soal dunia perkuliahan sudah saya lakukan sejak putri pertama saya masuk jenjang SMP. Saya bilang sama dia: “Kamu sudah harus memikirkan, ingin jadi apa kamu nanti. Apa passion-mu? Apa talentamu?” Saya ingin anak saya mempersiapkan diri sedini mungkin untuk mengenali passion dan talentanya. Saya tidak ingin saat ia lulus SMA baru ia sibuk dan bingung memikirkan: “Ingin jadi apakah saya?”

Saya jadi ingat, jaman saya mencari universitas, ibu saya terus-menerus mengingatkan: “Cari sekolah itu jangan idealis. Pokoknya pikir aja, abis selesai kuliah kamu bisa kerja dan dapat uang banyak nggak? Kalo nggak, PERCUMA!” Sekilas omongan ibu saya terdengar benar. Tapi sekarang saya membuktikan, ITU TIDAK BENAR!

Saat itu, sebagai seorang anak yang “takut nggak bisa cari uang”, saya menuruti omongan ibu. Sebenarnya cita-cita asli saya ingin menjadi seorang penulis dan nantinya ingin sekali memiliki karier sebagai Editor in Chief pada sebuah majalah High Fashion kelas dunia. Itu cita-cita saya! Tapi – sekali lagi – kalimat ibu terngiang dalam hati dan pikiran saya: “Kamu mau jadi penulis? Mau makan apaaaaa….” Lalu saya pun mendaftar ke Sekolah Tinggi Pariwisata, agar cepat bekerja dan bisa punya uang banyak! (seperti kata ibu saya…)

Sekarang, saya dihadapkan pada putri saya yang sebentar lagi akan masuk kuliah, and guess what? Ia pun bercita-cita ingin menjadi seorang penulis. Omongan ibu saya tentang memilih jurusan sempat terlintas di pikiran. Mungkin Anda memiliki dilemma yang sama seperti ibu saya dan ibu-ibu lain tentang KEMANA dan APA yang baik untuk anak-anak kita, agar mereka tidak salah memilih jurusan, lalu berakhir jobless tanpa pekerjaan. Mudah-mudahan beberapa hal yang saya lakukan dibawah ini dapat memberi sedikit inspirasi.

 

SETIAP ANAK LAHIR DENGAN TALENTA.

Setiap manusia lahir dilengkapi dengan talenta. Sama seperti sebuah gadget canggih, setiap gadget punya kehebatannya masing-masing. Talenta sama halnya dengan kelebihan, bakat dan kepandaian. Talenta itu hadir disertai passion, atau minat dan keinginan. Minat dan keinginan inilah yang nantinya akan menyetir anak Anda untuk menemukan talentanya. Dan talenta adalah cara Tuhan memberkati setiap kita, agar kita dapat menciptakan, berkarya dan berhasil dalam apapun yang kita kerjakan. Jadi bukan soal “jurusan apa yang akan membuat kita memperoleh pekerjaan dan uang”, tapi talenta apa yang mereka miliki, dan bagaimana saya sebagai orangtua dengan bijaksana menuntun, mengarahkan dan mendukung anak-anak untuk menemukan, mendalami dan berhasil lewat talenta yang mereka miliki.

 

ARAHKAN DENGAN JITU!

Menjadi orangtua yang senang memaksa sepertinya sudah nggak model lagi. Anak yang dipaksa akan memberontak dan akhirnya berusaha membuktikan diri dengan cara-caranya yang ‘ajaib’ dan memusingkan kepala kita. Jadi, daripada saya kehilangan hubungan baik dengan anak, lebih baik saya menguasai tehnik lain, agar anak mau ‘mendengar dan mentaati’ nasehat. Mengarahkan lebih baik daripada memaksa. Waktu saya melihat talenta menulis dalam diri putri saya, saya banyak memberikan masukan berupa cerita-cerita serta contoh-contoh bagaimana mengarahkan talentanya agar ia menjadi seorang penulis yang sukses dan punya nama.

Lalu Anda berpikir, “Duh hari gini jadi penulis! Kapan kayanya?!” Ada banyak cara menjadi hebat. Kemampuan seseorang menurut saya harus disertai dengan kendaraan yang dapat membawa kita ke tujuan akhir. Saya berikan beberapa pilihan pada anak saya. Dan membiarkan ia berpikir dan menimbang-nimbang. Butuh banyak komunikasi dan kedekatan dengan anak, agar mereka memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi pada pendapat dan arahan kita. Jika kita tidak pernah membangun komunikasi dengan mereka, then forget it!

 

AJAR ANAK MELAYANI SESAMA.

Menurut saya, apapun kedudukan hebat di dunia ini, semuanya bermuara pada satu hal: Memberikan pelayanan kepada sesama. Sebagai seorang Nasrani, anak-anak saya sudah terbiasa dengan dunia ministry atau pelayanan di lingkungan gereja. Dunia pelayanan masyarakat amatlah luas. Baik di lingkungan rohani maupun sekuler. Pilih lingkungan yang positif yang dapat membantu mereka belajar, lalu ajarkan anak-anak Anda untuk terlibat dalam pelayanan. Melayani manusia lain merupakan bagian penting bagi tumbuh kembang kecerdasan emosi dan kepandaian anak dalam membangun hubungan dengan sesama. Saya punya banyak kawan jenius, tapi mereka yang tak menguasai ilmu komunikasi dan networking, berakhir sendiri, tanpa pekerjaan, tanpa pasangan hidup, alias: Jones! ( Jomblo Ngenes – red)

 Dalam pelayanannya, anak-anak saya juga mengalami momen kecewa, berhenti, tidak ingin lagi aktif dalam pelayanan, kapok dan seterusnya. Tetapi gesekan yang mereka rasakan terhadap kawan dan sesama itulah yang (menurut saya) akan membentuk mereka menjadi makhluk sosial yang seutuhnya! Karena hanya mereka yang pernah berselisih yang tahu indahnya berdamai. Dan hanya mereka yang pernah berjuang dan bergumul, yang tahu menghormati keberhasilan dan menghargai kemenangan. Struggling is good for your kids. It will build their fighting spirit.

 

INI HIDUP MEREKA BUKAN HIDUP SAYA.

Untuk setiap ortu diktator, mungkin sebaiknya segera sadar, bahwa apa yang kita paksakan kepada anak tidak akan berujung happy ending. Suatu saat, kita akan meninggalkan dunia ini. Bayangkan jika anak-anak kita harus menjalani hidup yang bukan panggilannya. Betapa menderitanya mereka karena harus menanggung akibat dari keegoisan kita. Daripada MEMAKSAKAN, lebih baik kita MENDOAKAN & MENDIDIK. Berdoa agar Tuhan memberi mereka hikmat dalam memilih. Mendidik mereka menjadi anak-anak yang berintegritas dan berkarakter. Mengasah iman mereka agar memiliki hubungan yang spesial dan dekat dengan Tuhan. Dan mengajar mereka bagaimana mengasihi dan melayani sesama. Rasanya empat hal ini sudah cukup untuk menghasilkan anak-anak yang sukses dan berhasil.

 

DAN PADA AKHIRNYA…

… Bukan soal berapa banyak uang yang dapat Anda wariskan kepada anak-anak, tetapi berapa banyak nilai budi pekerti dan keimanan yang dapat Anda impartasikan dalam hidup mereka.

… Bukan soal dimana mereka bersekolah, tetapi bagaimana mereka mempraktekkan ilmu yang mereka dapat.

… Bukan soal berapa tinggi nilai pelajaran yang mereka peroleh, tetapi bagaimana kita mengajar anak untuk memiliki integritas, bersikap jujur dan belajar berjuang dengan kemampuannya sendiri.

Dan ini adalah NASEHAT IMAN yang selalu saya berikan pada mereka: “Orang kaya mungkin memiliki sebagian besar isi dunia ini. Tetapi orang berhikmatlah yang akan dipilih Tuhan untuk memimpin, mengarahkan dan mengatur isi kepala orang-orang kaya itu.” Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap mereka yang menggantungkan seluruh hidupnya kepada DIA. Tuhan tidak akan pernah mempermalukan anak-anakNya. Dan Tuhan menjanjikan masa depan yang penuh harapan bagi mereka yang mengandalkan DIA. Karena “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” Just do your best and leave the rest to God. (KB)