SIAP DITOLONG!

Setiap kita dalam suatu waktu pastilah membutuhkan pertolongan. Entah itu untuk sebuah hal sederhana atau hal berat yang memang nyata-nyata tidak mampu untuk kita lakukan sendiri. Namun sadarkah kita, saat kita membutuhkan pertolongan, kita juga perlu memiliki sikap yang ‘siap untuk menerima pertolongan’? Seringkali, kita meminta tolong, namun sikap kita berkata lain.

Saya sering menerima curhatan dari teman-teman tentang berbagai hal. Soal rumah tangga, suami, anak, pekerjaan, pertemanan dan banyak lagi. Saat seorang teman mulai curhat, saya biasanya akan memperhatikan sikapnya dalam meminta tolong. “Aku harus gimana ya?” Begitu selalu awalnya. Saya akan memancing dengan sebuah solusi HANYA UNTUK MELIHAT sikap dia, apakah dia siap ditolong atau tidak.

Jika ia mendengar hanya untuk menjawab, selalu mencari-cari alasan dibalik sikapnya yang enggan berubah, merasa diri paling benar, dst, maka dipastikan orang ini tidak ingin ditolong. Dia hanya butuh tempat sampah untuk curhat. Lalu, apa saja sikap yang perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin ditolong dan menerima pertolongan, agar hidupnya BERUBAH? Beberapa hal berikut ini mungkin bisa menjadi checklist kita semua.

1. Sebuah pengakuan.

Seseorang yang benar-benar butuh pertolongan akan mengakui bahwa dirinya memang butuh, tidak sanggup lagi melakukannya seorang diri dan siap menerima bantuan. Ia sudah tidak berada di fase denial, dimana ia masih merasa mampu. Pengakuan seseorang bahwa ia membutuhkan pertolongan merupakan sebuah awal yang penting bagi terjadinya perubahan dalam hidup. So it’s a good sign.

2. Tidak merasa paling benar.

“Iya, saya sadar ini kesalahan saya. Oleh karena itu saya ingin memperbaikinya.” Ini adalah sebuah sikap keterbukaan diri yang perlu dimiliki seorang yang butuh pertolongan. Karena sikap ini menunjukkan bahwa ia mendengar nasehat untuk belajar, bukan untuk berdebat atau adu mulut. Orang yang selalu merasa dirinya paling benar akan sulit menerima pertolongan. Karena ia seperti mementahkan kembali setiap saran yang diterimanya dengan argumen-argumen yang dia katakan.

3. To do whatever it takes, WHOLEHEARTEDLY.

“Sudah! Saya sudah melakukan ini. Itu. Tapi tetap saja tidak berhasil.” Seorang yang berkata demikian DAPAT DIPASTIKAN bahwa ia melakukan usaha perbaikan namun tidak disertai dengan sikap positif. Ia melakukannya lebih karena terpaksa atau karena tak ada pilihan lain. Jika kita ingin melihat perubahan, lakukanlah segala usaha dengan tulus hati. Mengapa? Karena ketulusan hati tidak bisa bohong. Melakukan sesuatu dengan tulus akan terpancar di wajah, terdengar dalam nada suara dan terbaca lewat bahasa tubuh kita. Orang akan mengetahui apakah kita melakukan atau mengatakan sesuatu dengan segenap hati atau tidak. So be careful! And do everything WHOLEHEARTEDLY.

4. Mengusahakan segala sesuatu demi perubahan, bukan untuk menang sendiri.

“Oke. Aku ngalah! Tapi inget ya, aku ngalah bukan karena aku takut sama kamu. Tapi karena aku nggak mau ribut.”

“Oke. Sorry! Aku minta maaf. Sebenernya aku nggak merasa salah, tapi kalo menurut kamu aku salah, ya ok. Aku minta maaf.”

Dua ungkapan diatas menunjukkan dengan jelas bahwa mereka melakukan YANG BENAR bukan untuk mengalami atau membuat sebuah perubahan positif, tapi hanya untuk pamer dan menang sendiri. Apakah pihak lawan merasa dihargai dengan sikap tersebut? Tentu tidak! Apakah orang ini bersikap tulus dalam melakukan apa yang dia lakukan? Jelas tidak!

5. Fokus pada penyelesaian masalah.

“Mungkin ada baiknya kamu melakukan ini…”

“Aduh, udah say! Aku udah lakukan itu. Tapi tetep aja dia bla, bla, bla…”

Di dunia ini nggak ada hal yang instan. Jika kita melakukan atau mengusahakan sesuatu untuk mendatangkan sebuah perubahan positif, maka kita perlu melakukannya berulang-ulang, dengan gigih, dengan sikap hati yang benar, dengan penuh pengharapan bahwa suatu hari perubahan itu PASTI akan terjadi. Sikap seperti inilah yang dbutuhkan seseorang yang SIAP menerima pertolongan dan perubahan dalam hidupnya.

Jadi yuk kita berhenti mencari-cari alasan. Mulailah fokus pada perubahan yang ingin kita capai. Lakukan segala hal dengan tulus hati. Karena ketulusan hati itu terbaca melampaui perkataan hebat manapun! Jika kita tahu bahwa kita membutuhkan pertolongan untuk mengubah keadaan kita menjadi lebih baik, jadilah seorang yang mudah mendengarkan, mudah dajak untuk bekerjasama, memiliki hati yang mau diajar, dan yang paling penting, tidak mudah putus asa. Anda butuh pertolongan? Bersiaplah untuk menerima pertolongan dengan lebih dulu mengubah sikap Anda yang negatif. Maka perubahan positif akan segera terjadi dalam kehidupan Anda. (KB)

Advertisements

SENSITIF! 

Sama seperti rasa haus, sensitifitas itu penting dimiliki oleh setiap manusia. Hanya saja, untuk situasi yang bagaimana ia patut dihadirkan? Banyak persoalan hidup terselesaikan dengan hadirnya sensitifitas. Namun banyak juga masalah timbul karena kita salah menggunakan keberadaannya. Salah tempat, salah orang, salah sasaran. Semakin dewasa seseorang, sebaiknya semakin pula ia mengerti bagaimana CARA TEPAT memaknai dan mengolah rasa ini dalam kehidupannya. Perasaan sensitif yang dimunculkan pada waktu dan kondisi yang kurang tepat hanya akan melukai diri sendiri. 
Tak ada cara khusus untuk mengasah kepandaian dalam mempergunakan rasa ini, selain melatih diri untuk fokus pada hal-hal yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Mari pikirkan semua itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaKU – kata Tuhan nih, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.
Yuk “melek rasa”. Pinteran dikit mengolah sensitifitas untuk hal-hal yang lebih mulia. Belajar me-manage perasaan untuk hal-hal yang lebih berguna. Pakai rasa haus dan lapar untuk pengetahuan, pembelajaran demi peningkatan kualitas diri. Pakai rasa sensitif untuk lebih berempati pada kesulitan hidup orang lain dan pada kebutuhan sesama untuk dikasihi, dilindungi dan dibahagiakan. Bukan sensi untuk hal-hal yang kurang penting, tidak jelas atau kekanak-kanakan. Tuhan udah mau datang say! Fokuuuussss okheeyyy…

MERDEKA UNTUK DEWASA

Jadilah manusia yang merdeka seutuhnya, dengan TIDAK TAKUT untuk menjadi diri sendiri baik melalui pikiran, perasaan, perbuatan maupun penampilan. Karena dunia ini berwarna bukan karena kita sama, tetapi karena kita unik dan berbeda. 

Sekitar dua minggu yang lalu, negara kita baru saja merayakan Hari Kemerdekaannya. Saat kecil, perayaan ini tak memiliki arti apapun bagi saya pribadi. Saya hanya selalu gembira menyambut hari ini. Karena pertama, itu adalah hari ulang tahun ayah saya. Dan kedua, ada banyak acara menarik di kota saya saat tujuh belasan. Favorit saya: lari karung dan tarik tambang.
Semakin dewasa, saya semakin bisa menghargai arti kemerdekaan yang sebenarnya. Tidak hanya secara umum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun lebih dari itu, mewujudkan kemerdekaan yang dapat saya aplikasikan dalam kehidupan pribadi sehari-hari. Saya semakin yakin, bahwa kemerdekaan itu memang HAK SEGALA BANGSA (aka: setiap umat manusia). Tetapi kemerdekaan seperti apa? Tentu saja yang bertanggung jawab. 
Dengan semakin bertambahnya usia, saya merasa HARUS mempraktekkan KEMERDEKAAN dengan lebih nyata dalam hidup saya. Diantaranya adalah:


1. Merdeka dari tekanan. 

Saya menolak untuk menjadi seorang yang hidup dibawah tekanan / pressure yang tidak perlu. Seperti omongan orang, pendapat orang yang sok tahu dan keliru tentang diri saya, fitnah, gossip dan hal-hal sejenis lainnya. Saya melepaskan diri dari keinginan untuk selalu MEMBUKTIKAN bahwa saya benar. Saya memilih untuk tidak peduli saat orang berkata-kata yang jahat tentang saya. Itu hak mereka, dan merupakan hak saya juga untuk memilih diam dan tak peduli. Saya hanya tidak ingin suhu hati saya ditentukan oleh mulut orang yang tidak bertanggung jawab.


2. Merdeka dari tuduhan.

Tuduhan tak melulu datang dari pihak luar lho! Tuduhan terbesar dan terberat dalam hidup justru datang dari diri sendiri. Seringkali tanpa sadar, hati saya menuduh diri sendiri tentang banyak hal. Mulai dari soal penampilan, sikap, cara saya melakukan atau mengatasi sesuatu dan masih banyak lagi.

“Duh kamu tuh, liat deh! Udah gendut. Gimana sih? Ntar jelek lho kalo pake baju…”

“Masa menyelesaikan masalah segitu aja nggak bisa? Ibu macam apa kamu? Istri macam apa kamu? Teman macam apa kamu?”

“Liat tuh! Si A bilang kamu begini. Sana gih, bela diri… Jangan terima dong dikatain begitu.”

Tentu kita akrab dengan kalimat-kalimat diatas. Dan seringkali perkataan-perkataan itu justru datang dari dalam diri sendiri. Karena sesungguhnya, musuh terbesar kita adalah diri, pikiran dan perasaan kita sendiri! Semakin kemari, saya merasa semakin membutuhkan ketenangan hati dan pikiran. Untuk itulah saya perlu memerdekakan diri dari segala bentuk tuduhan. The older I get, the more careful I am in choosing the battle in my daily life. I dont want to fight for things that are not worthy of my time and energy. 

3. Merdeka dari ketakutan untuk berjalan sendiri.

Saat memasuki usia 30-an, saya belajar satu hal penting tentang persahabatan dan hubungan dengan orang-orang di sekitar saya (diluar hubungan keluarga). Saya belajar bahwa, pada akhirnya, pertemanan itu sifatnya selalu datang dan pergi. Ada kawan yang hilang, ada kawan baru datang. Ada teman yang pergi, lalu ada teman baru yang hadir. Hal ini adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan. 

Sejak itu saya berhenti untuk ‘berusaha keras’ menyenangkan semua orang dan memutuskan untuk, “Saya hanya akan berusaha menjadi teman yang baik. Diluar itu, saya tidak akan ambil pusing.” Pemikiran seperti ini membuat hidup saya jauh lebih tenang dan damai. Saya tidak pernah harus ‘terpaksa’ untuk menyenangkan semua orang, saya bisa tampil apa adanya sesuai karakter diri sendiri. Saya bebas mengekspresikan diri saya (melalui penampilan, pola pikir, mengekspresikan perasaan, dsb). 

Saya berhenti merasa takut kehilangan teman. Saya memerdekakan diri dari kebutuhan untuk DIAKUI oleh kelompok tertentu dan BERJUANG untuk diterima. Tidak! Kehidupan kita akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kawan-kawan yang kita miliki sekarang. Yang datang, biarlah datang. Yang pergi, biarkan pergi. Karena teman sejati akan tersaring dengan sendirinya. Mereka adalah orang-orang yang akan TINGGAL TETAP walaupun harus mengalami berbagai situasi serusuh dan segila apapun!
Tiga hal ini rasanya cukup mewakili pemikiran saya tentang mengartikan kemerdekaan bagi diri sendiri. Saya hanya ingin kita semua dapat menjadi orang yang benar-benar merdeka. Bebas namun bertanggung jawab, tegas tapi penuh belas kasihan. Teguh namun pemaaf. Mengasihi sesama tapi tak mudah dipermainkan. Jadilah manusia yang merdeka seutuhnya, dengan TIDAK TAKUT untuk menjadi diri sendiri baik melalui pikiran, perasaan, perbuatan maupun penampilan. Karena dunia ini berwarna bukan karena kita sama, tetapi karena kita unik dan berbeda. (KarinaBDMN)



ANDA SUDAH MENIKAH? PERHATIKAN ATURAN MAIN BERSOSIAL MEDIA.

Ada pasangan yang santai, ada yang tidak peduli. Ada yang amat percaya, ada pula yang sangat sensitif. Semua itu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari Anda. Apa yang menurut Anda tidak penting, belum tentu tak penting bagi pasangan Anda. Apa yang remeh bagi Anda, bisa saja itu merupakan sumber sakit hati bagi pasangan Anda. Bijaksanalah dalam bersosial media. 

Bagi sebagian orang, sosial media mungkin masih dianggap sebagai sarana hiburan yang kurang penting. Tetapi bagi sebagian besar lainnya, sosial media saat ini telah menduduki posisi yang cukup serius dalam banyak bidang. Sebut saja seorang yang memiliki sebuah usaha, ia akan menggunakan sosial media sebagai portfolio bisnisnya. Atau seorang yang sedang melamar sebuah pekerjaan, pihak HRD sudah mulai memasukkan pertanyaan berikut sebagai sebuah pertanyaan wajib: “Anda memiliki akun sosial media apa saja?” 

Sebagai seorang yang menggeluti dunia sosial media sejak tahun 2003 (Oh, hello Friendster! Haha…), saya melihat fenomena yang luar biasa dalam dunia ini. Sosial media yang awalnya dianggap hanya hiburan biasa, bisa berubah menjadi ajang pertikaian, permusuhan, perpecahan, bahkan… perceraian! Tak percaya? Sebut saja si A, yang saat diam-diam berkencan dengan selingkuhannya, sejenak lupa diri, berfoto wefie bersama sang pacar, lalu tanpa atau dengan sengaja, sang pacar mengunggahnya ke sosial media. Foto itu kemudian di like oleh salah satu kawan yang ternyata berkawan juga dengan sang istri. Dapat dipastikan kemunculan foto itu di kolom explore menjadi sebuah ajang pertikaian seru yang berakhir tragis. 
Demikian luar biasanya efek sosial media. Melihat fenomena ini, saya pikir, ada baiknya pasangan yang telah menikah memahami aturan main bersosial media, agar terhindar dari keributan yang tak seharusnya terjadi. Menurut saya, ada 5 (lima) hal yang perlu diperhatikan dalam bersosial media bagi pasangan menikah:

1. Follow

Kita memang tak bisa mengontrol followers. Namun kita bisa mengontrol SIAPA yang kita follow. Hati-hati saat mem-follow akun lawan jenis. Pastikan Anda memiliki alasan tepat saat mengikuti akun tersebut. Temankah? Artis idola? Seseorang yang memiliki kesamaan hobi? Seseorang yang dapat menjadi sumber inspirasi? atau sumber informasi bermanfaat? Semoga hal-hal inilah yang menjadi alasan mengapa Anda mengikuti sebuah akun. Diluar itu? Sebaiknya jangan. Hindari mem-follow akun lawan jenis yang sering mengunggah foto-foto tak layak yang dapat menjadi sumber bencana dalam hubungan Anda. Ingat: Pasangan Anda akan sangat merasa sakit hati dan dilecehkan saat mengetahui pasangannya mengikuti akun lawan jenis dengan feed yang kurang senonoh. Last but not least, mem-follow akun pasangan Anda adalah sebuah KEWAJIBAN, bukan PILIHAN ­čÖé

2. Like

Masih berhubungan dengan akun lawan jenis. Poin ini terkesan sepele, namun ternyata, banyak pasangan yang akhirnya bertengkar karena masalah ini. “Kenapa sih akun si A selalu kamu like, sementara akun aku nggak pernah kamu like?” Bisa jadi, ini merupakan pertanyaan awal munculnya sebuah MUSIBAH GUNUNG MELETUS yang sebaiknya Anda sikapi dengan benar. Menyukai foto atau postingan pasangan Anda merupakan sebuah tindakan autopilot yang sebaiknya kita lakukan – bagus atau tidak bagus gambarnya – demi ketentraman hidup bersama. Haha… (Lagipula, apa susahnya? Tinggal click. Anda tak perlu mengeluarkan tenaga dan uang bukan?)

3. Comment

Satu lagi sumber malapetaka yang (ternyata) telah terbukti! Hati-hati meninggalkan komentar pada akun lawan jenis. Terutama apabila orang tersebut juga telah menikah. Banyak sekali pertengkaran dalam rumah tangga yang muncul dikarenakan hal ini. Hati-hati saat berkomentar terhadap postingan foto diri si lawan jenis. Kata-kata sesimple: “Kamu cantik…” bisa jadi akan membunyikan genderang perang di rumah Anda. Menjaga perasaan pasangan Anda jauh lebih penting daripada berkomentar di postingan orang lain. Mari menjaga keamanan dan ketertiban hidup bersama.

4. DM (Direct Message)

Mungkin Anda berpikir, agar terhindar dari masalah, sebaiknya saya berkomentar via DM saja. Ini pernah – kalau tak ingin disebut sering – terjadi pada saya pribadi. oleh karena itu, beberapa hari yang lalu saya mengeluarkan status kejam terhadap lawan jenis yang kurang beretika saat mengirimkan DM. Menjaga kepercayaan pasangan Anda jjauh lebih penting dari apapun juga! Ingat, orang yang Anda DM itu bukan siapa-siapa. Jangan mengorbankan hubungan demi memuaskan rasa iseng Anda!

5. Password

Ada baiknya pasangan suami istri saling mengetahui password masing-masing. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Belajar terbuka merupakan sebuah langkah penting dalam menjaga hubungan dengan pasangan Anda. Hal ini juga menunjukkan bahwa Anda tidak berusaha menyembunyikan apapun dari pasangan Anda. Bukan maksud untuk membuat diri tak percaya pada pasangan, namun untuk menjaga hati masing-masing. Suami saya tahu segala password dalam hidup saya. Hal ini membuat saya tenang sekaligus berhati-hati dalam melakukan segala hal. 

Akhir kata, semua ini tentu kembali kepada value dan tata cara Anda dalam menjaga hubungan dengan pasangan Anda. Ada pasangan yang santai, ada yang tidak peduli. Ada yang amat percaya, ada pula yang sangat sensitif. Semua itu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari Anda. Apa yang menurut Anda tidak penting, belum tentu tak penting bagi pasangan Anda. Apa yang remeh bagi Anda, bisa saja itu merupakan sumber sakit hati bagi pasangan Anda. Bijaksanalah dalam bersosial media. Seperti banyak orang berkata: “Jangan terlalu serius bersosial media. Ini hanya ajang hiburan belaka.” Nah, mari kita kembalikan sosial media pada fungsinya yang semula. Sebagai hiburan, tempat mencari informasi, berkawan dan berkreasi, dan bukan sebaliknya. Selamat bersosial media! Ingat: Pasanganmu, keluargamu, kawan-kawan sehari-harimu adalah pertemananmu yang sejati. (KB)

LOGIKA CINTA

1142017144442

Suami saya bukan pria yang merayakan Valentine. Dia cenderung alergi pada segala sesuatu yang “Aaww… so sweet!” begituan. Nah beda dengan saya. Saya dari kecil hidup dalam angan-angan film Disney princess, yang selalu berakhir dengan: “…Then the prince kisses her, and they live happily ever after.”

Kebayang dong waktu menikah, harapan saya untuk mengarungi rumah tangga ala ala Cinderella sudah terpeta di hati dan pikiran. Eh ternyata ‘pangeran’ ku modelnya ala kadarnya. Alias: What you see is what you got. Kalau ingin sesuatu, harus bilang. Karena dia nggak akan menangkap segala bentuk sinyal, kode atau apalah yang biasa dilakukan perempuan (yang ingin sesuatu tapi gengsi mengatakan).

Diawal menikah, saya seriiiinggg sekali ngambek untuk hal-hal yang konyol dan bodoh (yang kalo dipikirin sekarang rasanya geli banget!). Mungkin karena saat itu saya masih mengidap Cinderela syndrome. Lalu saya juga sering iri hati, suka membandingkan kemesraan dan pernikahan orang lain dengan keadaan saya. “Tuh si itu aja begitu. Masa kita gini?” Aduhhh… ini jangan dicontoh ya teman-teman.

Tapi Tuhan baik. Setiap kali saya iri hati terhadap pernikahan atau kemesraan orang lain, ada saja kisah ‘dibalik layar’ yang saya lihat dari pasangan-pasangan itu, yang membuat saya akhirnya berhenti iri hati dan bersyukur dengan pernikahan saya. Me and my husband – we’ve been loving each other for twenty years. And its not all a bed of roses experience for sure. Dan pada akhirnya, saya harus katakan bahwa saya bersyukur sekali memiliki suami yang mencintai dengan logika. Bukan hanya cinta emosional, sesaat, menggebu-gebu lalu hilang. Cintanya simple but it works!

Ada banyak pasangan yang memamerkan kemesraan mereka lewat media sosial – dan itu tidak salah! – namun saya berharap, kehidupan pernikahan dan cinta mereka seindah dan sejujur foto-foto yang dipamerkan. Banyak orang berkata: “Ah, cinta mana bisa pakai logika. Kita bicara perasaan, emosi dan hati.” ANDA SALAH! Justru cinta yang penuh komitmen HARUSLAH dijalani dengan LOGIKA. Mengapa? Ibarat soal Matematika, 1+1=2. TITIK! Apanya yang abstrak? Apanya yang sulit dimengerti? Semua jelas dan terpampang nyata. Artinya apa?

Artinya adalah: Saat kecantikan dan ketampanan luntur, keadaan keuangan naik turun, perasaan kita pada pasangan maju mundur dan sewaktu bintang kejora sedang tak berpihak pada kita, LOGIKANYA ADALAH: Kamu suamiku, dan saya adalah istrimu! Suka atau tidak suka, ingin atau ingin muntah, dalam marah maupun sayang, AKU AKAN TETAP BERSAMAMU, mencintai, menerima, mengerti, melindungi, menjalani, menyediakan, memahami, memaafkan dan sejuta ‘kata kerja’ positif lainnya yang HARUS kita lakukan, setiap saat, selalu, selamanya hingga maut memisahkan. ITU ADALAH CINTA DENGAN LOGIKA!

Buat kalian yang masih single, pikirkan baik-baik. Bila tiba saatnya kalian menetapkan pilihan, GUNAKAN LOGIKAMU dan berpikirlah masak-masak:

“Apakah saya mampu hidup bersama dia? Apakah saya mampu hidup tanpa dia? Apakah saya mampu untuk terus mencintai dia, apapun dosa, kesalahan, kekhilafan dan kegilaan serta keburukan dia yang akan muncul dimasa datang? Apakah saya mampu menahan diri untuk tetap bersama dia, berdiri di pihaknya, membela dia, dalam segala keadaan?” Jawab semua itu dengan jujur, dengan logika, bukan emosi. Inget ya: Sesuatu yang didapat, mudah pula dilepaskan. Jangan sembarangan memutuskan. 

Pernikahan memang tidak mudah! Ada banyak PR yang harus kamu kerjakan, jika kamu tidak ingin gagal saat ‘ujian’ datang. Tapi reward yang kamu terima pun sungguh banyak dan membahagiakan. One thing though, JANGAN TAKUT pada pernikahan! Toh TUHAN sudah menjamin, DIA sendiri berkata: “Two are better than one.” Kalau Tuhan saja menganggap berdua itu lebih baik, MAKA ITU PASTI BAIK ADANYA. Dan yakinlah, DIA juga akan memberikan pertolongan, kasih, kekuatan dan hikmat yang melampaui segala akal, untuk kita dapat (tak hanya) bertahan, namun menjalani dengan penuh ucapan syukur, sukacita, kemenangan, damai sejahtera, kasih mesra dan kebahagiaan yang utuh, yang sepenuhnya berasal dari DIA, dan bukan dicapai melalui kekuatan kita sendiri. Amen. Selamat merayakan cinta! (KB)

A YEAR OF HEARTFELT MINISTRY

Sesuatu yang dikerjakan dengan sukarela memang tidaklah mudah. Tetapi jika kita mau belajar untuk mengerjakannya dengan sepenuh hati, maka apapun yang kita lakukan PASTI menghasilkan buah. Karena SUKA tanpa RELA berakhir dengan ‘perhitungan’ dan ‘ogah rugi’. Sementara RELA tanpa rasa SUKA, akan membuat kita merasa ‘terpaksa’ dalam melakukan semuanya. 

Nggak kerasa, hampir setahun saya bergabung dengan #fofindonesiaambassador. Banyak sekali hal yang saya pelajari, lihat, alami dan kerjakan bersama sahabat-sahabat saya disini. Senang sekali bisa ada bersama mereka melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikir untuk saya lakukan atau datangi sendiri. 
FYI: Saya termasuk orang yang ANTI berorganisasi. Apalagi kalau isinya perempuan semua! Tapi disini saya melihat sesuatu yang beda. Saya melihat visi dan misi yang dinamis dan besar. Mungkin sekarang kita belum bisa melihat the bigger picture of what we are doing. Tapi bagi saya, segala sesuatu yang dikerjakan dengan tujuan MEMBANTU #KELUARGA BERKEMBANG adalah sebuah hal besar dan sangat berarti!
Semua yang tergabung sebagai #ambassador ini bekerja dengan SUKARELA. Namanya sukarela berarti kita harus SUKA & RELA. Suka terhadap aturan yang ada dan rela melakukannya. Suka terhadap visi dan misi yang ada, dan rela menjalankan semua programnya. Suka dengan orang-orang yang ada, dan rela mengalami jatuh bangun bersama demi kemajuan bersama. 
Sesuatu yang dikerjakan dengan sukarela memang tidaklah mudah. Tetapi jika kita mau belajar untuk mengerjakannya dengan sepenuh hati, maka apapun yang kita lakukan PASTI menghasilkan buah. Karena SUKA tanpa RELA berakhir dengan ‘perhitungan’ dan ‘ogah rugi’. Sementara RELA tanpa rasa SUKA, akan membuat kita merasa ‘terpaksa’ dalam melakukan semuanya. 
Apakah kalian juga sedang membentuk sebuah organisasi baru seperti kami, atau usaha atau kelompok, atau sebuah gerakan positif? Jangan putus asa ya. Jangan undur. Jangan kasih kendor walau banyak tantangan. Kita memang akan melalui banyak sekali kesulitan, tapi jika kita tekun dan bertahan, maka kita akan melihat LEBIH BANYAK lagi keberhasilan, mujizat, perubahan dan buah dari kerja keras kita!
Saya bangga dan bersyukur bisa ada disini bersama mereka semua. Karena saya tahu, kami mengerjakan dan membangun sesuatu yang besar, yang berharga dan tak ternilai, yaitu hubungan antar keluarga, suami, istri, anak dan sesama. Terimakasih @focusonthefamilyindonesia! I love you… #focusonthefamilyindonesia #friendship #ministry #peopleisourmission #togetherimpactful16

THE ART OF GOSSIP

 

a99ecb1b-f673-48f9-8a30-56f1970f7ad8

Setiap wanita pasti PERNAH bergunjing. Sesuci apapun ia mencoba menjalani kehidupannya, bergunjing atau bergossip atau membicarakan orang lain atau ‘ngrasani orang’ pastilah pernah ia lakukan. Dan sebagian (besar) perempuan memang senang bergunjing. Walaupun saat orang lain ganti mengunjingkan dirinya,┬áia pasti akan marah ­čÖé

“Eh say, lo tau nggak sih?” Merupakan pembukaan wajib dari setiap kelompok wanita yang akan memulai pergossipan. Setelah itu, bisa ditebak, cerita meluncur bak roller coaster yang rem-nya blong. Semakin banyak yang menanggapi, semakin kencang dan deras air bah gossip mengalir ke permukaan. “Gila ya. Gue nggak sangka dia begitu!” atau “Kasian ya dia…” merupakan tutupan megah dari rentetan upacara bergunjing.

Kehidupan sayapun kerap bersentuhan dengan aktifitas ini. Entah sebagai korban atau sebagai tempat menceritakan atau juga bercerita. Hal terakhir – sejalan dengan usia, kadar bergunjing saya arahkan kepada hal-hal yang amat penting (crucial) dan hanya saya bagi kepada orang yang bersangkutan atau yang dapat memberi jalan keluar (tentu saja ia haruslah┬áseorang yang mulutnya bebas dari kebocoran ember maupun atap). HAHA…

Apakah bisa seorang wanita hidup bersih dan bebas dari gossip? Saya rasa tidak bisa sepenuhnya bebas. Mengapa? Karena sifat dasar wanita itu ngemong, peduli dan kepo. Itu sudah mendarah daging. DNA wanita adalah sebagai caretaker atau perawat bagi seisi rumahnya dimana ia terbiasa mengatasi keadaan. Dan untuk mengatasi keadaan, ia memang harus mengembangkan spirit ingin tau. Sehingga ‘otot kepo’ nya pun┬á┬ámenjadi terlatih. Saya tak mengatakan bahwa semua wanita senang bergossip. Tentu tidak. Tapi sebagian besar wanita pasti pernah bergossip atau menjadi korban gossip.

Lalu, apa yang harus kita lakukan bila kita berada di kedua posisi tersebut? Setelah malang melintang di dunia ini cukup lama, saya mengambil kesimpulan bahwa: “Kita tidak akan pernah dapat menghentikan gossip atau orang yang bergossip. Karena ita tak punya kuasa untuk melakukan itu. Tapi kita punya kuasa untuk menjauhkan diri, menolak untuk berada dalam lingkaran gossip serta menangkis kesempatan untuk menjadi korbannya!”

Bagaimana caranya?

Kita bicara dari sisi korban gossip. Jika Anda adalah si korban, maka segala sesuatunya KEMBALI pada cara Anda mencerna, memahami, melihat latar belakang serta bagaimana harus bersikap terhadap gossip tersebut. Musuh gossip adalah ketidak pedulian. Jika Anda tahu bahwa gossip yang disebarkan tidak benar, jangan takut untuk mengambil sikap tidak peduli. Karena tidak ada gunanya menjelaskan atau berjerih lelah membela diri dihadapan kaum yang menggosipkan Anda. pikiran mereka sudah di-setting untuk bergossip, sehingga apapun yang kita coba jelaskan hanya akan dianggap sebagai usaha untuk membenarkan diri sendiri. And believe it or not, jika kita berusaha menjelaskan, maka penjelasan kita akan mereka gunakan untuk bergossip PART DEUX. LOL!

Yang berikutnya, bagaimana kalau kitalah biang keroknya? Seperti sudah saya ungkap diawal postingan ini, tak ada satu orangpun yang benar-benar TAK PERNAH bergossip. Benar kan? Jika kita adalah salah satu yang atau berada dalam kelompok bergunjing, meminta maaf merupakan satu-satunya jalan keluar. Jika kita tak bisa melakukannya secara langsung, menuliskan pesan melalui chat apps atau email merupakan ide baik. Karena kita dapat menyusun kata-kata dengan lebih detail dan santun, tanpa harus pusing mengatur nada bicara atau bahasa tubuh kita.

Lalu bagaimana kalau dia tidak bisa memaafkan kita? Well, the ball is in her hands. Tugas Anda adalah meminta maaf. Jika si korban tak memaafkan, masalahnya sudah bukan pada Anda. Tapi pada hati, pikiran dan perasaannya yang belum dewasa. Jangan merasa bersalah. Karena saat Anda meminta maaf, Anda telah menggenggam kemerdekaan. Jangan menyerahkan kemerdekaan Anda kepada rasa takut, sungkan, tidak enak hati dan perasaan negatif lainnya, hanya karena dia tak bisa atau belum memaafkan Anda. Dengan demikian Anda akan benar-benar lepas dari masalah ini.

Satu hal yang penting untuk diketahui, jika ada gossip tentang seseorang yang Anda kenal dekat, jangan didiamkan, dan jangan langsung terpengaruh dengan gossipnya. Taukah Anda, membiarkan gossip tentang kawan baik kita beredar merupakan sebuah tindakan yang jahat. Tanyakan kebenarannya pada orang yang bersangkutan, sehingga bila dilain waktu kisah itu muncul lagi, Anda dapat mengambil sikap untuk menangkis ketidak benaran itu. Bergaul dan berkawan memang sebuah kebutuhan, terutama bagi kaum Hawa. Tetapi menceburkan diri dalam lingkaran gossip adalah pilihan. Jadilah bijak dalam menentukan sikap dalam pergaulan. Sebisa mungkin, hindari diri dari bergunjing. Karena toh kita pernah juga merasakan sakitnya digossipkan. Jangan takut kehilangan teman. Jika memang Anda terpaksa menjauhkan diri dari kelompok pertemanan yang penuh racun dan senang bergunjing. Karena teman pasti ada dimana saja, relasi baru dapat dibangun kapan saja dan dengan siapa saja. (KB / Illustration by: Megan Hess)