PERTEMANAN VS PERGAULAN

Kalian bisa membedakan pertemanan dan pergaulan nggak? Harus bisa ya! Terutama di #JamanNow dimana hampir seluruh aktifitas kehidupan dan penampilan seseorang di-beauty camera-kan, sehingga semakin sulit bagi kita untuk “menerawang” mana kawan-kawan yang baik & bener, dan mana yang bukan. Mereka bisa saja berkata A didepan kita, namun dibelakang? Hanya Tuhan yang tau.

PERTEMANAN seharusnya nggak mengenal batasan ya. Kaya miskin, tua muda, besar kecil, pengangguran atau berkarier hebat, kita bisa saja kenal dan berteman dengan mereka. Semakin luas pertemanan dan perkenalan kita, semakin besar pula lingkaran network yang bisa kita bangun. Punya teman banyak tentulah menyenangkan (walaupun belum tentu selalu menguntungkan! HAHA…)

Lalu ada pula yang namanya PERGAULAN. Bagi saya, pergaulan sifatnya lebih private. Lingkarannya jauh lebih kecil dari pertemanan. Tapi justru hal ini penting untuk menjadi perhatian kita. Saya tak begitu suka bergaul rame-rame. Kemana-mana rame-rame. Apa-apa rame-rame. Rasanya ribet banget buat saya. Sewaktu saya bergaul, saya akan memilih dua, tiga (paling banyak lima) orang untuk saya jadikan teman yang betul-betul dekat.

Penting buat saya untuk menyeleksi dengan siapa saya bergaul. Karena dalam sebuah lingkaran pergaulan ada intimasi, keakraban yang dalam, dimana kita MENGIJINKAN seseorang untuk memasuki, mempengaruhi, memberi pendapat, mengetahui rahasia hidup kita, serta merubah pola pikir, prinsip, kebiasaan, kepribadian, sikap dan tingkah laku kita. Sadar atau tidak sadar, kita akan menjadi seperti mereka yang kita ajak bergaul erat. Kita akan saling mempengaruhi kehidupan masing-masing. Dan mereka adalah pihak-pihak yang punya andil dalam ‘merubah’ hidup kita (menjadi lebih baik atau sebaliknya).

Seseorang pernah berkata, “Jangan sombong. Kita harus bisa dekat dengan siapa saja. Bergaul dengan siapa saja. Dimata Tuhan kita semua sejajar. Sama-sama MANUSIA.” Sekilas terdengar BENAR yah. Tapi coba kalian renungkan kembali, berapa banyak manusia yang jatuh dalam pencobaan, dosa, keterikatan karena mereka salah pergaulan? Bahkan Firman Tuhan berkata: “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33 TB)

Percayalah! Pergaulanmu akan MENGUBAH DIRIMU – cepat atau lambat, disadari atau tidak, suka atau tidak suka. Oleh karena itu, perhatikan dengan siapa kamu membagi hidupmu, pemikiranmu, prinsip-prinsipmu. Karena kita akan saling mempengaruhi, menambahkan, mengurangi dan menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru dengan orang yang kita akrabi. Ingat ya, harimau dan kucing sama-sama binatang. Tapi bahkan mereka saja tak bergaul akrab sehari-harinya. SO PAY ATTENTION.

Have a quality relationship with great quality people. Not because they are rich or famous or beautiful or important, but because they can instill you with great characters, Godly principles and good habits. (KB)

Advertisements

TENTANG SI PAHIT

Kesadaran adalah langkah pertama, dan kerendahan hati adalah yang utama. Orang yang tak sudi mencari dan tak bersedia menerima pertolongan mungkin memang membutuhkan waktu lebih untuk menyadari kesombongannya. Pertanyaannya: Sampai kapan? Karena WAKTU tentulah ada batasnya.
Pernah melihat seorang yang hidupnya dirundung rasa pahit namun tidak memiliki keinginan untuk keluar dari situasi tersebut? Biasanya orang seperti ini senang sekali menempatkan diri sebagai korban. Dan selalu menunjuk orang lain, keadaan atau kekurangan dirinya sebagai biang kerok atas keadaan hidupnya yang pahit.
“Gara-gara orangtua saya makanya saya begini…”
“Si A yang membuat saya begini. Coba kalo dia tidak begitu, pasti saya akan baik-baik saja.”
“Ya jelaslah kamu bisa bilang begitu. Kamu kan nggak di posisi saya. Coba kalo kamu jadi saya….”
Dan nggak cukup sampai disitu, biasanya Si Pahit akan mulai menunjuk-nunjuk setiap orang disekitarnya dan menyalahkan mereka karena merasa tidak menerima pertolongan yang SEHARUSNYA ia dapatkan. “Mereka kan tau saya begini. Harusnya mereka menolong saya…” Adalah ucapan yang sebenarnya kurang sinkron dengan sikapnya yang justru menjauh, menutup diri, tidak ingin disalahkan, tidak suka dikritik, tidak mau diperbaiki, membenci teguran (apalagi nasehat!) dan tidak suka diajar.
Ia ingin perubahan itu datang bak magic. Padahal kita semua tau, selain magic com dan magic jar, nggak ada satupun masalah hidup ini yang dapat diubah menjadi ‘cantik dan enak’ dalam 25 menit, jika tanpa usaha dari diri sendiri.
Buat temen-temen yang menghadapi seseorang yang seperti ini, bersabarlah. Dan ingat, kamu tidak bertanggung jawab atas keadaan mereka, karena itu semua adalah hasil dari pilihan hidup mereka. Jadi jangan pernah turut merasa bersalah karena tidak mampu menolong. Karena sejatinya, pertolongan itu diberikan kepada mereka yang membuka diri untuk ditolong. Banyak orang yang (sebetulnya) butuh pertolongan. Namun seringkali mereka tidak ingin ditolong.
Menggemaskan memang saat melihat mereka menunjuk-nunjuk wajah kita dan mempersalahkan kita karena (seolah) membiarkan mereka dalam kondisi seperti itu. Namun sesungguhnya, seseorang perlu disadarkan bahwa: “obat hanya bisa bekerja jika kita bersedia membuka mulut dan menelannya.”
Menyaksikan kehidupan Si Pahit tentu memprihatikan kita. Tapi jika mereka tak mau membuka diri untuk sembuh dan merdeka, jangan pernah menyalahkan diri kita. Tetaplah berdoa, tetaplah membuka diri untuk senantiasa dalam posisi “bersedia menolong”. Tapi jangan pernah memaksakan (apalagi merelakan) diri untuk masuk dalam kerumitan hidup mereka.

Karena sesungguhnya, mereka membutuhkan KESADARAN penuh untuk melangkah masuk dalam kesembuhan hidupnya. Kesadaran adalah langkah pertama, dan kerendahan hati adalah yang utama. Orang yang tak sudi mencari dan tak bersedia menerima pertolongan mungkin memang membutuhkan waktu lebih untuk menyadari kesombongannya.

Pertanyaannya: Sampai kapan? Karena WAKTU tentulah ada batasnya.

JODOH DITANGAN TUHAN? SIAPA BILANG!

Ini jodohku. Mana jodohmu? 🙂
Manusia masih banyak yang salah kaprah menganggap bahwa jodoh itu ditangan Tuhan. Bahwa bila waktunya tiba, pasti akan bertemu jodohnya. Well, saya termasuk orang yang tidak setuju dengan statement itu. Adalah benar jika kehidupan, kematian dan berkat itu ditangan Tuhan. Tapi tidak halnya dengan jodoh.
Ada setidaknya 4 (empat) hal yang harus kalian lakukan untuk mendapatkan jodohmu, yaitu:
1. Mendoakan
2. Mengusahakan
3. Memilih
4. Memutuskan
Point pertama jelas banget perlu campur tangan Tuhan. Berdoa meminta Tuhan mempertemukan kamu dengan jodoh potensial di WAKTU YANG TEPAT, DI TEMPAT YANG TEPAT & KEPADA ORANG YANG TEPAT. Nah ini enaknya kalo kita ngerti kebenaran dan beriman. Kita nggak usah takut telat jodoh atau jodoh kita diambil orang. Karena dengan kita berdoa seperti itu, maka Tuhan akan MENGATUR segalanya untuk MENDATANGKAN KEBAIKAN (baca: jodohmu) bagi mereka yang percaya.
Point kedua, mengusahakan. Siapa bilang abis doa trus kita diem2 aja? Terutama buat kalian nih yang perempuan. “Ih gengsi dong. Masa kita yang cari-cari. Ya cowoklah yang cari kita. Kita kan perempuan…” Oh helloooowww… FYI: Segala sesuatu di kolong langit ini HARUS DIUSAHAKAN, yes? Berusahalah menjadi pribadi yang baik, menarik, menyenangkan, cerdas, berpenampilan baik, enak diajak bicara, terbuka, hangat dan berinisiatif. Inisiatif itu penting lho! Dan nggak ada salahnya kalau kamu merasa ada chemistry dengan seseorang lalu berinisiatif untuk mengadakan pertemuan kembali di waktu-waktu mendatang. Kalo ditolak gimana? Lha, ya udah! Namanya juga usaha. Jangan gengsi dan jangan kapok. Tapi cara ngajaknya juga jangan norak yah… yang intelek gitu lho! Berkelas.
Point tiga, memilih. Jelas! HARUS DIPILIH. Yang terbaik dari yang baik (namun tetaplah harus tau diri dan masuk akal ya). Kita boleh banget menimbang-nimbang, yang mana kira2 yang paling cocok dengan kita. Punya list syarat jodoh itu boleh lho! Tapi nulisnya juga harus sambil ngaca ya. Jangan terlalu muluk, padahal keadaan diri sendiri juga nggak segitunya ya kan? Jika ada satu pertimbangan penting yang harus dengan serius kamu tanyakan pada diri sendiri, hal itu adalah: Apakah saya sanggup menerima dia? Berkorban untuk dia? Mengerti keadaan dia? Menerima kekurangan dia dan mencintai serta memaafkan dia at all costs, HINGGA MAUT MEMISAHKAN? Dan jawaban atas semua pertanyaan ini haruslah: BISA. Cause divorce is not an option.
Point terakhir, memutuskan. Udah pusing milih2, harus bisa mengambil keputusan dong yah? Jangan PHP. Kasihan anak orang lho! Memutuskan emang nggak mudah. Apalagi kalo kita dihadapkan pada dua pilihan atau lebih, pasti kita cenderung membanding-bandingkan. Dan rasanya nggak mau rugi. But remember: setiap pilihan ada resiko dan tanggung jawabnya masing-masing. Dan setiap kisah cinta pasti ada keunikan dan kebahagiaannya sendiri-sendiri. Jangan takut untuk memutuskan. Karena keputusan yang dibuat secara matang dan bertanggung jawab pasti akan menghasilkan sukacita dan damai sejahtera bagi mereka yang menjalaninya.

Keputusan yang dewasa dan matang itu harus didasari pada: melihat sikap, tingkah laku, pola pikir, kerohanian, level kecerdasan, chemistry, tanggung jawab dan kedewasaan orang yang akan kita nikahi. Jangan pernah memutuskan berdasarkan hal-hal yang sifatnya tidak kekal (wajah cantik/ganteng, harta, ketenaran, kedudukan, uang, dst). Jadi gimana? Udah siap MENGUSAHAKAN JODOH? Inget ya: Jodoh itu ditangan kamu. Tuhan hanya menolong kalian agar dapat bertemu di waktu dan tempat yang tepat, tidak terlambat dan tidak terlalu cepat. Amen!

PEACEFUL MAMA

So… I raise my glass to all of you women who are struggling and trying to balance all things. Mom with babies/toddlers, working moms, single mom, mom with ‘bastardo’ husband who doesnt even care to help, mom with lazy teens who dont give a damn of how tired you are. IM WITH ALL OF YOU!

Maintain your PEACE. I do understand how mothers think and feel on their daily basis, as they are busy taking care of their family and loved ones. TO MAINTAIN A PEACEFUL MIND is something that’s ‘easy to say but hard to do’, obviously. Many times we feel so overwhelmed by the schedule or the list of things to do (not to mention if you are also a part time or full time working mama).

One thing that I always do (to keep my sanity and peace) is to stop and do my priority list of the day. What I should take care first and what kind of things that I can put on hold. Remember: We cant do all things and be all things. We have our limitation (be it in emotion, feelings, energy, etc). I always make sure that I have ENOUGH energy to do what I need to do for myself. Sipping a cup of coffee while scrolling down my Instagram could be one of them. Or watching TV, writing my blog and many more.

At the end of the day, I can be SO TIRED. But if I could maintain my sanity, I dont mind being extra tired as long as my heart is content and my mind is at peace. Dont push yourself too much and never try to please everyone, cause we are not cotton candy!

Do things one day at a time and sort out your VVIP list. Curate your day. Balance everything. Forget those who cant understand how full your hands are. We may loose some friends because we cant keep up with their “agenda”, but HEY! At the end of the day, what’s written in ours are the ones that will keep us alive, sane and content. So focus on that!

So… I raise my glass to all of you women who are struggling and trying to balance all things. Mom with babies/toddlers, working moms, single mom, mom with ‘bastardo’ husband who doesnt even care to help, mom with lazy teens who dont give a damn of how tired you are. IM WITH ALL OF YOU! I know how you feel. Been there, done that. But now Im free (and BTW, my husband has always been the sweetest and great helper. HAHA…) So, good luck! Remember to (always) maintain your peace. Be EXTREMELY tired, but AT PEACE.

BERANI KARENA BENAR

kebenaran dianggap sebuah penghakiman hanya bagi mereka yang keras kepala hidup dalam area abu-abu kok! Tapi akan menjadi inspirasi bagi mereka yang ingin berubah dan hidup lebih baik.

Seorang kawan sesekali berkomentar soal status yang saya unggah ke FB. Kira-kira demikian komentarnya: “Kamu menulis tentang A, apa tidak takut disalah artikan?” Atau “Kamu menulis dengan bahasa seperti itu, apa kamu nggak khawatir orang mengira kamu begini atau begitu?”

Well, setiap orang punya caranya sendiri untuk menuangkan ide, pikiran, harapan, omelan, kritikan dan sebagainya. Sebagai seorang yang gemar menulis, saya memilih media ini untuk mengungkapkan isi hati dan kepala saya. Soal takut atau tidak takut? Berani atau tidak berani? Oke, begini yah….

Saat ini banyak manusia bodoh yang kurang informasi dan sangat tidak berpendidikan pola pikirnya, dengan leluasa menyembur-nyemburkan berita hoax dan ujaran kebencian. Kalau mereka saja berani dan bisa bebas lalu lalang menebarkan hal yang salah di media, kenapa kita tidak berani menuliskan sesuatu yang beradab dan mengandung unsur kebenaran? Toh kebenaran dianggap sebuah penghakiman hanya bagi mereka yang keras kepala hidup dalam area abu-abu kok! Tapi akan menjadi inspirasi bagi mereka yang ingin berubah dan hidup lebih baik.

Kebenaran memang nggak selalu sedap didengar. Tapi kadang perlu dipaparkan APA ADANYA. Saya tidak pernah punya masalah membeberkan pendapat saya, selama itu tidak bertentangan dengan prinsip2 kebenaran. Orang bisa saja menuliskan sesuatu yang terdengar ‘baik’ (baca: sweet), tapi belum tentu isinya benar dan sesuai kenyataan.

Banyak orang yang pandai menulis. Tapi tak semua berani menulis. Bagi saya, menuliskan sebuah pendapat (selama dilakukan dengan tepat, sopan, sesuai norma) bukan sesuatu yang perlu ditakutkan. Karena pada akhirnya, pengetahuan yang dibagikan akan menjadi inspirasi. Sementara pengetahuan yang disimpan untuk diri sendiri hanya akan menjadi pengetahuan untuk dirimu saja. “KALO BENAR, KENAPA HARUS TAKUT?” #BeraniKarenaBenar #SpeakTheTruth

INNER BEAUTY

Lebih dari itu, saya sama sekali tidak melihat inner beauty sebagai “PASRAH” menerima kondisi fisik kita yang jelek, jerawatan, kumel, dekil, (maaf) berlebihan berat badan, berbau mulut, bau badan, dengan model rambut jaman batu, fashion yang entah dari planet mana, dan seterusnya. Lalu berkata: “Aku mah emang gini orangnya. Kan yang penting inner beauty.”

Apa sih inner beauty itu menurut kalian? Bukannya saya nggak ngerti. Tapi saya agak bingung melihat beberapa orang yang ‘religious’ (terlepas dari agama apapun) dalam mengartikan inner beauty sebagai hidup tanpa usaha – terutama soal mengusahakan penampilan, attitude dan sikap. Saya punya beberapa kawan yang, mohon maaf, setiap kali saya coba ajarkan sesuatu, serta-merta ia akan menjawab: “Ah, buat apa. Yang penting kan inner beauty. Aku mah terima apa adanya.” Well, sekilas pernyataan ini terdengar sangat benar dan sangat rohani. Tetapi coba kita pikir-pikir lagi, apakah ada dalam firman Tuhan (di kitab agama manapun) yang menista aktifitas merawat diri? Saya yakin tidak ada.

Jikapun ada, satu-satunya “kesalahan” yang dianggap keji bagi Tuhan adalah apabila kita HANYA memikirkan penampilan fisik dan tidak mempedulikan hal-hal lain, itu adalah kesalahan mutlak seorang wanita. Ada sebuah ayat didalam kitab suci saya yang berkata: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:19-20).

Kesadaran penuh bahwa Roh Kudus ada dan berdiam didalam diri kita haruslah menjadi awal pertobatan kita dalam memperlakukan tubuh, jiwa dan roh kita. Ada batasan yang harus kita buat, demi menyadari bahwa ada sosok yang begitu kudus dan mulia yang berdiam didalam diri kita. Tentu saja hal-hal serupa berzinah, merusak diri dengan NARKOBA atau hidup tanpa tanggung jawab terhadap kesehatan SUDAH SELAYAKNYA menjadi perhatian utama bagi kita (untuk dijauhi dan tidak dilakukan). Tetapi banyak orang hanya berhenti sampai disini saja. Padahal saya percaya, ada BANYAK HAL lain yang ‘kelihatannya kecil dan tidak penting’, yang HARUS kita perhatikan dan lakukan demi menghargai tubuh yang telah TUHAN beri.

Dulu saya sangat anti dengan wanita-wanita rohani. Mengapa? Karena saya memiliki gambaran / image tersendiri tentang penampilan dan attitude mereka. Sejujurnya, mereka membuat saya muak dan antipati. Pengalaman saya bersentuhan atau bergaul dengan mereka jarang sekali berakhir indah. Karena kelompok wanita yang (mengaku) KUDUS ini adalah sekumpulan orang yang berpenampilan mengerikan! Kuno, dekil, sombong, sok suci, kata-kata yang dikeluarkan dari mulut mereka tidak sopan, sinis dan begitu penuh penghakiman terhadap saya (yang saat itu masih tercatat sebagai kaum elite kerajaan disko! LOL..) Saya jadi malas mengenal mereka. Saya melihat mereka sebagai sosok aneh serupa alien. Karena mereka hidup dalam dunia yang serba: “Ini dosa. Itu dosa. Ini tidak boleh. Itu tidak boleh.” Sambil menunjuk-nunjuk pada setiap orang yang dilihat atau dianggapnya kurang senonoh dalam berpenampilan.

Oh hellow! Saat itu saya hanya berpikir satu hal: “Lebih baik saya sampai mampus nggak kenal sama kalian. Nggak gaul sama kalian. Kalau begini cara kalian merepresentasi diri. Begitu kuno, norak, kampungan dan sinis.” Tapi tentu saja Tuhan tidak membiarkan saya terus berada dalam pemikiran seperti itu. Sampai suatu saat, saya sendiri mengalami jamahan Tuhan dan memutuskan untuk hidup sesuai rencanaNya. Bertobat dari kehidupan lama saya dan memulai sebuah kehidupan baru yang lebih baik. Tapi satu tekad saya: “Saya tidak akan pernah sudi berpenampilan seperti mereka. Saya akan hidup sesuai firmanNya, tetapi saya akan membuat diri saya menjadi seorang yang berpenampilan baik, kekinian, menyenangkan dan (kalo boleh…) menjadi inspirasi bagi banyak perempuan lain.”

Inner beauty bagi saya adalah bagaimana kita melakukan dengan tulus setiap firman yang Tuhan katakan dan perintahkan. Mengasihi, menerima, memaafkan, mengerti dan tidak menghakimi orang lain merupakan ciri-ciri inner beauty yang harus sama-sama kita kejar dan lakukan setiap saat. Tentu saja sesekali kita tetap PERLU menegur saudara/i seiman yang melakukan hal tidak baik, tetapi tidak dengan penghakiman. Lebih dari itu, saya sama sekali tidak melihat inner beauty sebagai “PASRAH” menerima kondisi fisik kita yang jelek, jerawatan, kumel, dekil, (maaf) berlebihan berat badan, berbau mulut, bau badan, dengan model rambut jaman batu, fashion yang entah dari planet mana, dan seterusnya. Lalu berkata: “Aku mah emang gini orangnya. Apa adanya. Nggak perlulah berlebihan mendandani diri. Yang penting orang tahu hatiku kok. Kan yang penting inner beauty.” Never, ever come to me with that sentence.

“ANDA HARUS MEMBERI KESEMPATAN KEPADA INNER BEAUTY (KECANTIKAN BATHIN) MU UNTUK MUNCUL KE PERMUKAAN DAN DILIHAT /DIRASAKAN ORANG LAIN.” Tidak semua manusia berbakat menjadi seorang paranormal. Jadi jangan harap bahwa setiap orang yang bertemu dengan Anda serta-merta dapat tahu atau merasakan bahwa inner beauty Anda begitu luar biasa indahnya. Oh, please! Jika Anda datang dengan ciri-ciri MENGERIKAN seperti yang saya deskripsikan diatas, SAYA JAMIN, tidak ada seorangpun yang ingin mengenal Anda lebih jauh, apalagi ingin mengetahui inner beauty Anda. Karena mereka sudah keburu kabur melihat your ugly outer!

Oleh karena itu, mulai hari ini, marilah kita sama-sama bertobat dari penampilan kita yang mengerikan dan menggunakan kata inner beauty sebagai tameng. Mulailah memperbaiki diri secara perlahan. Jangan salah mengartikan penampilan cantik dan menarik sebagai biaya mahal atau roh konsumerisme. Karena berpenampilan baik modalnya hanyalah kepercayaan diri (untuk yakin bahwa saya bisa berubah dan terlihat lebih baik). Waktu, kesabaran dan biaya lah yang HARUS disesuaikan dengan kemampuan kita! Anda dapat kirim message kepada saya jika tidak tahu bagaimana cara berdandan dengan biaya minimalis. SAYA AHLINYA! Miliki hati yang mau belajar dan diajar. Milikilah semangat kekinian (dalam kadar normal dan untuk segala hal) agar kita dapat membaur dengan manusia di sekeliling kita. Mengetahui apa yang sedang trend bukanlah dosa. Karena tetap kitalah yang menjadi penentu terhadap apa yang cocok dan sesuai dengan kepribadian dan style kita.

Akhir kata, berhentilah menggunakan kata inner beauty untuk maksud dan pengertian yang salah. Dan berhentilah menjadi pribadi sinis yang menghakimi orang hanya karena kamu tidak mampu mengimbangi penampilan mereka yang (lebih) happening. Pribadi yang ramah dan menyenangkan itu jauh lebih mengesankan. Anyway, your outer self is as precious as your inner self, cause God create both your inner and outer beauty. So have some respect for them both. (KB)

SIAP DITOLONG!

Setiap kita dalam suatu waktu pastilah membutuhkan pertolongan. Entah itu untuk sebuah hal sederhana atau hal berat yang memang nyata-nyata tidak mampu untuk kita lakukan sendiri. Namun sadarkah kita, saat kita membutuhkan pertolongan, kita juga perlu memiliki sikap yang ‘siap untuk menerima pertolongan’? Seringkali, kita meminta tolong, namun sikap kita berkata lain.

Saya sering menerima curhatan dari teman-teman tentang berbagai hal. Soal rumah tangga, suami, anak, pekerjaan, pertemanan dan banyak lagi. Saat seorang teman mulai curhat, saya biasanya akan memperhatikan sikapnya dalam meminta tolong. “Aku harus gimana ya?” Begitu selalu awalnya. Saya akan memancing dengan sebuah solusi HANYA UNTUK MELIHAT sikap dia, apakah dia siap ditolong atau tidak.

Jika ia mendengar hanya untuk menjawab, selalu mencari-cari alasan dibalik sikapnya yang enggan berubah, merasa diri paling benar, dst, maka dipastikan orang ini tidak ingin ditolong. Dia hanya butuh tempat sampah untuk curhat. Lalu, apa saja sikap yang perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin ditolong dan menerima pertolongan, agar hidupnya BERUBAH? Beberapa hal berikut ini mungkin bisa menjadi checklist kita semua.

1. Sebuah pengakuan.

Seseorang yang benar-benar butuh pertolongan akan mengakui bahwa dirinya memang butuh, tidak sanggup lagi melakukannya seorang diri dan siap menerima bantuan. Ia sudah tidak berada di fase denial, dimana ia masih merasa mampu. Pengakuan seseorang bahwa ia membutuhkan pertolongan merupakan sebuah awal yang penting bagi terjadinya perubahan dalam hidup. So it’s a good sign.

2. Tidak merasa paling benar.

“Iya, saya sadar ini kesalahan saya. Oleh karena itu saya ingin memperbaikinya.” Ini adalah sebuah sikap keterbukaan diri yang perlu dimiliki seorang yang butuh pertolongan. Karena sikap ini menunjukkan bahwa ia mendengar nasehat untuk belajar, bukan untuk berdebat atau adu mulut. Orang yang selalu merasa dirinya paling benar akan sulit menerima pertolongan. Karena ia seperti mementahkan kembali setiap saran yang diterimanya dengan argumen-argumen yang dia katakan.

3. To do whatever it takes, WHOLEHEARTEDLY.

“Sudah! Saya sudah melakukan ini. Itu. Tapi tetap saja tidak berhasil.” Seorang yang berkata demikian DAPAT DIPASTIKAN bahwa ia melakukan usaha perbaikan namun tidak disertai dengan sikap positif. Ia melakukannya lebih karena terpaksa atau karena tak ada pilihan lain. Jika kita ingin melihat perubahan, lakukanlah segala usaha dengan tulus hati. Mengapa? Karena ketulusan hati tidak bisa bohong. Melakukan sesuatu dengan tulus akan terpancar di wajah, terdengar dalam nada suara dan terbaca lewat bahasa tubuh kita. Orang akan mengetahui apakah kita melakukan atau mengatakan sesuatu dengan segenap hati atau tidak. So be careful! And do everything WHOLEHEARTEDLY.

4. Mengusahakan segala sesuatu demi perubahan, bukan untuk menang sendiri.

“Oke. Aku ngalah! Tapi inget ya, aku ngalah bukan karena aku takut sama kamu. Tapi karena aku nggak mau ribut.”

“Oke. Sorry! Aku minta maaf. Sebenernya aku nggak merasa salah, tapi kalo menurut kamu aku salah, ya ok. Aku minta maaf.”

Dua ungkapan diatas menunjukkan dengan jelas bahwa mereka melakukan YANG BENAR bukan untuk mengalami atau membuat sebuah perubahan positif, tapi hanya untuk pamer dan menang sendiri. Apakah pihak lawan merasa dihargai dengan sikap tersebut? Tentu tidak! Apakah orang ini bersikap tulus dalam melakukan apa yang dia lakukan? Jelas tidak!

5. Fokus pada penyelesaian masalah.

“Mungkin ada baiknya kamu melakukan ini…”

“Aduh, udah say! Aku udah lakukan itu. Tapi tetep aja dia bla, bla, bla…”

Di dunia ini nggak ada hal yang instan. Jika kita melakukan atau mengusahakan sesuatu untuk mendatangkan sebuah perubahan positif, maka kita perlu melakukannya berulang-ulang, dengan gigih, dengan sikap hati yang benar, dengan penuh pengharapan bahwa suatu hari perubahan itu PASTI akan terjadi. Sikap seperti inilah yang dbutuhkan seseorang yang SIAP menerima pertolongan dan perubahan dalam hidupnya.

Jadi yuk kita berhenti mencari-cari alasan. Mulailah fokus pada perubahan yang ingin kita capai. Lakukan segala hal dengan tulus hati. Karena ketulusan hati itu terbaca melampaui perkataan hebat manapun! Jika kita tahu bahwa kita membutuhkan pertolongan untuk mengubah keadaan kita menjadi lebih baik, jadilah seorang yang mudah mendengarkan, mudah dajak untuk bekerjasama, memiliki hati yang mau diajar, dan yang paling penting, tidak mudah putus asa. Anda butuh pertolongan? Bersiaplah untuk menerima pertolongan dengan lebih dulu mengubah sikap Anda yang negatif. Maka perubahan positif akan segera terjadi dalam kehidupan Anda. (KB)