INNER BEAUTY

Lebih dari itu, saya sama sekali tidak melihat inner beauty sebagai “PASRAH” menerima kondisi fisik kita yang jelek, jerawatan, kumel, dekil, (maaf) berlebihan berat badan, berbau mulut, bau badan, dengan model rambut jaman batu, fashion yang entah dari planet mana, dan seterusnya. Lalu berkata: “Aku mah emang gini orangnya. Kan yang penting inner beauty.”

Apa sih inner beauty itu menurut kalian? Bukannya saya nggak ngerti. Tapi saya agak bingung melihat beberapa orang yang ‘religious’ (terlepas dari agama apapun) dalam mengartikan inner beauty sebagai hidup tanpa usaha – terutama soal mengusahakan penampilan, attitude dan sikap. Saya punya beberapa kawan yang, mohon maaf, setiap kali saya coba ajarkan sesuatu, serta-merta ia akan menjawab: “Ah, buat apa. Yang penting kan inner beauty. Aku mah terima apa adanya.” Well, sekilas pernyataan ini terdengar sangat benar dan sangat rohani. Tetapi coba kita pikir-pikir lagi, apakah ada dalam firman Tuhan (di kitab agama manapun) yang menista aktifitas merawat diri? Saya yakin tidak ada.

Jikapun ada, satu-satunya “kesalahan” yang dianggap keji bagi Tuhan adalah apabila kita HANYA memikirkan penampilan fisik dan tidak mempedulikan hal-hal lain, itu adalah kesalahan mutlak seorang wanita. Ada sebuah ayat didalam kitab suci saya yang berkata: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:19-20).

Kesadaran penuh bahwa Roh Kudus ada dan berdiam didalam diri kita haruslah menjadi awal pertobatan kita dalam memperlakukan tubuh, jiwa dan roh kita. Ada batasan yang harus kita buat, demi menyadari bahwa ada sosok yang begitu kudus dan mulia yang berdiam didalam diri kita. Tentu saja hal-hal serupa berzinah, merusak diri dengan NARKOBA atau hidup tanpa tanggung jawab terhadap kesehatan SUDAH SELAYAKNYA menjadi perhatian utama bagi kita (untuk dijauhi dan tidak dilakukan). Tetapi banyak orang hanya berhenti sampai disini saja. Padahal saya percaya, ada BANYAK HAL lain yang ‘kelihatannya kecil dan tidak penting’, yang HARUS kita perhatikan dan lakukan demi menghargai tubuh yang telah TUHAN beri.

Dulu saya sangat anti dengan wanita-wanita rohani. Mengapa? Karena saya memiliki gambaran / image tersendiri tentang penampilan dan attitude mereka. Sejujurnya, mereka membuat saya muak dan antipati. Pengalaman saya bersentuhan atau bergaul dengan mereka jarang sekali berakhir indah. Karena kelompok wanita yang (mengaku) KUDUS ini adalah sekumpulan orang yang berpenampilan mengerikan! Kuno, dekil, sombong, sok suci, kata-kata yang dikeluarkan dari mulut mereka tidak sopan, sinis dan begitu penuh penghakiman terhadap saya (yang saat itu masih tercatat sebagai kaum elite kerajaan disko! LOL..) Saya jadi malas mengenal mereka. Saya melihat mereka sebagai sosok aneh serupa alien. Karena mereka hidup dalam dunia yang serba: “Ini dosa. Itu dosa. Ini tidak boleh. Itu tidak boleh.” Sambil menunjuk-nunjuk pada setiap orang yang dilihat atau dianggapnya kurang senonoh dalam berpenampilan.

Oh hellow! Saat itu saya hanya berpikir satu hal: “Lebih baik saya sampai mampus nggak kenal sama kalian. Nggak gaul sama kalian. Kalau begini cara kalian merepresentasi diri. Begitu kuno, norak, kampungan dan sinis.” Tapi tentu saja Tuhan tidak membiarkan saya terus berada dalam pemikiran seperti itu. Sampai suatu saat, saya sendiri mengalami jamahan Tuhan dan memutuskan untuk hidup sesuai rencanaNya. Bertobat dari kehidupan lama saya dan memulai sebuah kehidupan baru yang lebih baik. Tapi satu tekad saya: “Saya tidak akan pernah sudi berpenampilan seperti mereka. Saya akan hidup sesuai firmanNya, tetapi saya akan membuat diri saya menjadi seorang yang berpenampilan baik, kekinian, menyenangkan dan (kalo boleh…) menjadi inspirasi bagi banyak perempuan lain.”

Inner beauty bagi saya adalah bagaimana kita melakukan dengan tulus setiap firman yang Tuhan katakan dan perintahkan. Mengasihi, menerima, memaafkan, mengerti dan tidak menghakimi orang lain merupakan ciri-ciri inner beauty yang harus sama-sama kita kejar dan lakukan setiap saat. Tentu saja sesekali kita tetap PERLU menegur saudara/i seiman yang melakukan hal tidak baik, tetapi tidak dengan penghakiman. Lebih dari itu, saya sama sekali tidak melihat inner beauty sebagai “PASRAH” menerima kondisi fisik kita yang jelek, jerawatan, kumel, dekil, (maaf) berlebihan berat badan, berbau mulut, bau badan, dengan model rambut jaman batu, fashion yang entah dari planet mana, dan seterusnya. Lalu berkata: “Aku mah emang gini orangnya. Apa adanya. Nggak perlulah berlebihan mendandani diri. Yang penting orang tahu hatiku kok. Kan yang penting inner beauty.” Never, ever come to me with that sentence.

“ANDA HARUS MEMBERI KESEMPATAN KEPADA INNER BEAUTY (KECANTIKAN BATHIN) MU UNTUK MUNCUL KE PERMUKAAN DAN DILIHAT /DIRASAKAN ORANG LAIN.” Tidak semua manusia berbakat menjadi seorang paranormal. Jadi jangan harap bahwa setiap orang yang bertemu dengan Anda serta-merta dapat tahu atau merasakan bahwa inner beauty Anda begitu luar biasa indahnya. Oh, please! Jika Anda datang dengan ciri-ciri MENGERIKAN seperti yang saya deskripsikan diatas, SAYA JAMIN, tidak ada seorangpun yang ingin mengenal Anda lebih jauh, apalagi ingin mengetahui inner beauty Anda. Karena mereka sudah keburu kabur melihat your ugly outer!

Oleh karena itu, mulai hari ini, marilah kita sama-sama bertobat dari penampilan kita yang mengerikan dan menggunakan kata inner beauty sebagai tameng. Mulailah memperbaiki diri secara perlahan. Jangan salah mengartikan penampilan cantik dan menarik sebagai biaya mahal atau roh konsumerisme. Karena berpenampilan baik modalnya hanyalah kepercayaan diri (untuk yakin bahwa saya bisa berubah dan terlihat lebih baik). Waktu, kesabaran dan biaya lah yang HARUS disesuaikan dengan kemampuan kita! Anda dapat kirim message kepada saya jika tidak tahu bagaimana cara berdandan dengan biaya minimalis. SAYA AHLINYA! Miliki hati yang mau belajar dan diajar. Milikilah semangat kekinian (dalam kadar normal dan untuk segala hal) agar kita dapat membaur dengan manusia di sekeliling kita. Mengetahui apa yang sedang trend bukanlah dosa. Karena tetap kitalah yang menjadi penentu terhadap apa yang cocok dan sesuai dengan kepribadian dan style kita.

Akhir kata, berhentilah menggunakan kata inner beauty untuk maksud dan pengertian yang salah. Dan berhentilah menjadi pribadi sinis yang menghakimi orang hanya karena kamu tidak mampu mengimbangi penampilan mereka yang (lebih) happening. Pribadi yang ramah dan menyenangkan itu jauh lebih mengesankan. Anyway, your outer self is as precious as your inner self, cause God create both your inner and outer beauty. So have some respect for them both. (KB)

Advertisements

SIAP DITOLONG!

Setiap kita dalam suatu waktu pastilah membutuhkan pertolongan. Entah itu untuk sebuah hal sederhana atau hal berat yang memang nyata-nyata tidak mampu untuk kita lakukan sendiri. Namun sadarkah kita, saat kita membutuhkan pertolongan, kita juga perlu memiliki sikap yang ‘siap untuk menerima pertolongan’? Seringkali, kita meminta tolong, namun sikap kita berkata lain.

Saya sering menerima curhatan dari teman-teman tentang berbagai hal. Soal rumah tangga, suami, anak, pekerjaan, pertemanan dan banyak lagi. Saat seorang teman mulai curhat, saya biasanya akan memperhatikan sikapnya dalam meminta tolong. “Aku harus gimana ya?” Begitu selalu awalnya. Saya akan memancing dengan sebuah solusi HANYA UNTUK MELIHAT sikap dia, apakah dia siap ditolong atau tidak.

Jika ia mendengar hanya untuk menjawab, selalu mencari-cari alasan dibalik sikapnya yang enggan berubah, merasa diri paling benar, dst, maka dipastikan orang ini tidak ingin ditolong. Dia hanya butuh tempat sampah untuk curhat. Lalu, apa saja sikap yang perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin ditolong dan menerima pertolongan, agar hidupnya BERUBAH? Beberapa hal berikut ini mungkin bisa menjadi checklist kita semua.

1. Sebuah pengakuan.

Seseorang yang benar-benar butuh pertolongan akan mengakui bahwa dirinya memang butuh, tidak sanggup lagi melakukannya seorang diri dan siap menerima bantuan. Ia sudah tidak berada di fase denial, dimana ia masih merasa mampu. Pengakuan seseorang bahwa ia membutuhkan pertolongan merupakan sebuah awal yang penting bagi terjadinya perubahan dalam hidup. So it’s a good sign.

2. Tidak merasa paling benar.

“Iya, saya sadar ini kesalahan saya. Oleh karena itu saya ingin memperbaikinya.” Ini adalah sebuah sikap keterbukaan diri yang perlu dimiliki seorang yang butuh pertolongan. Karena sikap ini menunjukkan bahwa ia mendengar nasehat untuk belajar, bukan untuk berdebat atau adu mulut. Orang yang selalu merasa dirinya paling benar akan sulit menerima pertolongan. Karena ia seperti mementahkan kembali setiap saran yang diterimanya dengan argumen-argumen yang dia katakan.

3. To do whatever it takes, WHOLEHEARTEDLY.

“Sudah! Saya sudah melakukan ini. Itu. Tapi tetap saja tidak berhasil.” Seorang yang berkata demikian DAPAT DIPASTIKAN bahwa ia melakukan usaha perbaikan namun tidak disertai dengan sikap positif. Ia melakukannya lebih karena terpaksa atau karena tak ada pilihan lain. Jika kita ingin melihat perubahan, lakukanlah segala usaha dengan tulus hati. Mengapa? Karena ketulusan hati tidak bisa bohong. Melakukan sesuatu dengan tulus akan terpancar di wajah, terdengar dalam nada suara dan terbaca lewat bahasa tubuh kita. Orang akan mengetahui apakah kita melakukan atau mengatakan sesuatu dengan segenap hati atau tidak. So be careful! And do everything WHOLEHEARTEDLY.

4. Mengusahakan segala sesuatu demi perubahan, bukan untuk menang sendiri.

“Oke. Aku ngalah! Tapi inget ya, aku ngalah bukan karena aku takut sama kamu. Tapi karena aku nggak mau ribut.”

“Oke. Sorry! Aku minta maaf. Sebenernya aku nggak merasa salah, tapi kalo menurut kamu aku salah, ya ok. Aku minta maaf.”

Dua ungkapan diatas menunjukkan dengan jelas bahwa mereka melakukan YANG BENAR bukan untuk mengalami atau membuat sebuah perubahan positif, tapi hanya untuk pamer dan menang sendiri. Apakah pihak lawan merasa dihargai dengan sikap tersebut? Tentu tidak! Apakah orang ini bersikap tulus dalam melakukan apa yang dia lakukan? Jelas tidak!

5. Fokus pada penyelesaian masalah.

“Mungkin ada baiknya kamu melakukan ini…”

“Aduh, udah say! Aku udah lakukan itu. Tapi tetep aja dia bla, bla, bla…”

Di dunia ini nggak ada hal yang instan. Jika kita melakukan atau mengusahakan sesuatu untuk mendatangkan sebuah perubahan positif, maka kita perlu melakukannya berulang-ulang, dengan gigih, dengan sikap hati yang benar, dengan penuh pengharapan bahwa suatu hari perubahan itu PASTI akan terjadi. Sikap seperti inilah yang dbutuhkan seseorang yang SIAP menerima pertolongan dan perubahan dalam hidupnya.

Jadi yuk kita berhenti mencari-cari alasan. Mulailah fokus pada perubahan yang ingin kita capai. Lakukan segala hal dengan tulus hati. Karena ketulusan hati itu terbaca melampaui perkataan hebat manapun! Jika kita tahu bahwa kita membutuhkan pertolongan untuk mengubah keadaan kita menjadi lebih baik, jadilah seorang yang mudah mendengarkan, mudah dajak untuk bekerjasama, memiliki hati yang mau diajar, dan yang paling penting, tidak mudah putus asa. Anda butuh pertolongan? Bersiaplah untuk menerima pertolongan dengan lebih dulu mengubah sikap Anda yang negatif. Maka perubahan positif akan segera terjadi dalam kehidupan Anda. (KB)

SENSITIF! 

Sama seperti rasa haus, sensitifitas itu penting dimiliki oleh setiap manusia. Hanya saja, untuk situasi yang bagaimana ia patut dihadirkan? Banyak persoalan hidup terselesaikan dengan hadirnya sensitifitas. Namun banyak juga masalah timbul karena kita salah menggunakan keberadaannya. Salah tempat, salah orang, salah sasaran. Semakin dewasa seseorang, sebaiknya semakin pula ia mengerti bagaimana CARA TEPAT memaknai dan mengolah rasa ini dalam kehidupannya. Perasaan sensitif yang dimunculkan pada waktu dan kondisi yang kurang tepat hanya akan melukai diri sendiri. 
Tak ada cara khusus untuk mengasah kepandaian dalam mempergunakan rasa ini, selain melatih diri untuk fokus pada hal-hal yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Mari pikirkan semua itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaKU – kata Tuhan nih, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.
Yuk “melek rasa”. Pinteran dikit mengolah sensitifitas untuk hal-hal yang lebih mulia. Belajar me-manage perasaan untuk hal-hal yang lebih berguna. Pakai rasa haus dan lapar untuk pengetahuan, pembelajaran demi peningkatan kualitas diri. Pakai rasa sensitif untuk lebih berempati pada kesulitan hidup orang lain dan pada kebutuhan sesama untuk dikasihi, dilindungi dan dibahagiakan. Bukan sensi untuk hal-hal yang kurang penting, tidak jelas atau kekanak-kanakan. Tuhan udah mau datang say! Fokuuuussss okheeyyy…

MERDEKA UNTUK DEWASA

Jadilah manusia yang merdeka seutuhnya, dengan TIDAK TAKUT untuk menjadi diri sendiri baik melalui pikiran, perasaan, perbuatan maupun penampilan. Karena dunia ini berwarna bukan karena kita sama, tetapi karena kita unik dan berbeda. 

Sekitar dua minggu yang lalu, negara kita baru saja merayakan Hari Kemerdekaannya. Saat kecil, perayaan ini tak memiliki arti apapun bagi saya pribadi. Saya hanya selalu gembira menyambut hari ini. Karena pertama, itu adalah hari ulang tahun ayah saya. Dan kedua, ada banyak acara menarik di kota saya saat tujuh belasan. Favorit saya: lari karung dan tarik tambang.
Semakin dewasa, saya semakin bisa menghargai arti kemerdekaan yang sebenarnya. Tidak hanya secara umum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun lebih dari itu, mewujudkan kemerdekaan yang dapat saya aplikasikan dalam kehidupan pribadi sehari-hari. Saya semakin yakin, bahwa kemerdekaan itu memang HAK SEGALA BANGSA (aka: setiap umat manusia). Tetapi kemerdekaan seperti apa? Tentu saja yang bertanggung jawab. 
Dengan semakin bertambahnya usia, saya merasa HARUS mempraktekkan KEMERDEKAAN dengan lebih nyata dalam hidup saya. Diantaranya adalah:


1. Merdeka dari tekanan. 

Saya menolak untuk menjadi seorang yang hidup dibawah tekanan / pressure yang tidak perlu. Seperti omongan orang, pendapat orang yang sok tahu dan keliru tentang diri saya, fitnah, gossip dan hal-hal sejenis lainnya. Saya melepaskan diri dari keinginan untuk selalu MEMBUKTIKAN bahwa saya benar. Saya memilih untuk tidak peduli saat orang berkata-kata yang jahat tentang saya. Itu hak mereka, dan merupakan hak saya juga untuk memilih diam dan tak peduli. Saya hanya tidak ingin suhu hati saya ditentukan oleh mulut orang yang tidak bertanggung jawab.


2. Merdeka dari tuduhan.

Tuduhan tak melulu datang dari pihak luar lho! Tuduhan terbesar dan terberat dalam hidup justru datang dari diri sendiri. Seringkali tanpa sadar, hati saya menuduh diri sendiri tentang banyak hal. Mulai dari soal penampilan, sikap, cara saya melakukan atau mengatasi sesuatu dan masih banyak lagi.

“Duh kamu tuh, liat deh! Udah gendut. Gimana sih? Ntar jelek lho kalo pake baju…”

“Masa menyelesaikan masalah segitu aja nggak bisa? Ibu macam apa kamu? Istri macam apa kamu? Teman macam apa kamu?”

“Liat tuh! Si A bilang kamu begini. Sana gih, bela diri… Jangan terima dong dikatain begitu.”

Tentu kita akrab dengan kalimat-kalimat diatas. Dan seringkali perkataan-perkataan itu justru datang dari dalam diri sendiri. Karena sesungguhnya, musuh terbesar kita adalah diri, pikiran dan perasaan kita sendiri! Semakin kemari, saya merasa semakin membutuhkan ketenangan hati dan pikiran. Untuk itulah saya perlu memerdekakan diri dari segala bentuk tuduhan. The older I get, the more careful I am in choosing the battle in my daily life. I dont want to fight for things that are not worthy of my time and energy. 

3. Merdeka dari ketakutan untuk berjalan sendiri.

Saat memasuki usia 30-an, saya belajar satu hal penting tentang persahabatan dan hubungan dengan orang-orang di sekitar saya (diluar hubungan keluarga). Saya belajar bahwa, pada akhirnya, pertemanan itu sifatnya selalu datang dan pergi. Ada kawan yang hilang, ada kawan baru datang. Ada teman yang pergi, lalu ada teman baru yang hadir. Hal ini adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan. 

Sejak itu saya berhenti untuk ‘berusaha keras’ menyenangkan semua orang dan memutuskan untuk, “Saya hanya akan berusaha menjadi teman yang baik. Diluar itu, saya tidak akan ambil pusing.” Pemikiran seperti ini membuat hidup saya jauh lebih tenang dan damai. Saya tidak pernah harus ‘terpaksa’ untuk menyenangkan semua orang, saya bisa tampil apa adanya sesuai karakter diri sendiri. Saya bebas mengekspresikan diri saya (melalui penampilan, pola pikir, mengekspresikan perasaan, dsb). 

Saya berhenti merasa takut kehilangan teman. Saya memerdekakan diri dari kebutuhan untuk DIAKUI oleh kelompok tertentu dan BERJUANG untuk diterima. Tidak! Kehidupan kita akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kawan-kawan yang kita miliki sekarang. Yang datang, biarlah datang. Yang pergi, biarkan pergi. Karena teman sejati akan tersaring dengan sendirinya. Mereka adalah orang-orang yang akan TINGGAL TETAP walaupun harus mengalami berbagai situasi serusuh dan segila apapun!
Tiga hal ini rasanya cukup mewakili pemikiran saya tentang mengartikan kemerdekaan bagi diri sendiri. Saya hanya ingin kita semua dapat menjadi orang yang benar-benar merdeka. Bebas namun bertanggung jawab, tegas tapi penuh belas kasihan. Teguh namun pemaaf. Mengasihi sesama tapi tak mudah dipermainkan. Jadilah manusia yang merdeka seutuhnya, dengan TIDAK TAKUT untuk menjadi diri sendiri baik melalui pikiran, perasaan, perbuatan maupun penampilan. Karena dunia ini berwarna bukan karena kita sama, tetapi karena kita unik dan berbeda. (KarinaBDMN)



THE STORY OF FEAR VS FAITH

In 2002, Ingrid Betancourt was campaigning to become president of Colombia when she was kidnapped by guerillas. She was held in the jungle for six years. With fear her constant companion, she learned how to use it and grow.

The first time I felt fear I was 41 years old. People have always said I was brave. When I was little, I’d climb the highest tree, and I’d approach any animal fearlessly. I liked challenges. My father used to say, “Good steel can withstand any temperature.”

And when I entered into politics in Colombia, I thought I’d be able to withstand anything. I wanted to end corruption; I wanted to cut ties between politicians and drug traffickers. The first time I was elected, it was because I called out corrupt and untouchable politicians by name. I also called out the president for his ties to the cartels.

That’s when the threats started. As a result, one morning I had to send my very young children, hidden in the French ambassador’s armored car, to the airport to stay out of the country. Days later, I was the victim of an attack but I emerged unharmed. And the following year, the Colombian people elected me with the highest number of votes. I thought people applauded me because I was brave. I, too, thought I was brave.

But I wasn’t. I had simply never experienced true fear.

I went to sleep in fear every night — cold sweats, shakes, stomach aches — but worse than that was what was happening to my mind.

That changed on February 23, 2002. At the time, I was promoting my campaign agenda as a presidential candidate when I was detained by a group of armed men. They were wearing uniforms with military garments. I looked at their boots — they were rubber, and I knew that the Colombian army wore leather boots — so I knew these were FARC (Revolutionary Armed Forces of Colombia) guerrillas.

From that point on, everything happened very quickly. The commando leader ordered us to stop the vehicle. Meanwhile, one of his men stepped on an anti-personnel mine and flew through the air. He landed, sitting upright, in front of me. We made eye contact, and it was then that the young man understood: his rubber boot with his leg still in it had landed far away. He started screaming like crazy.

The truth is, I felt — as I feel right now, because I’m reliving these emotions — I felt at that moment that something inside of me was breaking and that I was being infected with his fear. My mind went blank and couldn’t think; it was paralyzed. When I finally reacted, I said to myself, “They’re going to kill me, and I didn’t say goodbye to my children.” As they took me into the deepest depths of the jungle, the FARC soldiers announced that if the government didn’t negotiate, they’d kill me. And I knew that the government wouldn’t negotiate.

I was suffering enormous behavioral changes, and it wasn’t just paranoia. It was also the urge to kill.

I went to sleep in fear every night — cold sweats, shakes, stomach aches, insomnia. But worse than that was what was happening to my mind, because my memory was being erased: all the phone numbers, addresses, names of very dear people, even significant life events. So, I began to doubt myself, to doubt my mental health. And with doubt came desperation, and with desperation came depression. I was suffering enormous behavioral changes, and it wasn’t just paranoia in moments of panic. It was distrust, it was hatred, and it was also the urge to kill.

This I realized when my captors had me chained by the neck to a tree. They kept me outside that day, during a tropical downpour. I remember feeling an urgent need to use the bathroom.

“Whatever you have to do, you’ll do in front of me, bitch!” the guard screamed at me.

And I decided at that moment to kill him. For days, I was planning, trying to find the right moment, the right way to do it, filled with hatred and fear. Suddenly, I rose up, snapped out of it, and thought, “I’m not going to become one of them. I’m not going to become an assassin. I still have enough freedom to decide who I want to be.”

Beyond my fear I felt the need to defend my identity, to not let them turn me into a thing or a number.

That’s when I learned that fear had brought me face to face with myself. It forced me to align my energies, and I learned that facing fear could become a pathway to growth. When I think back, I’m able to identify the three steps I took to do it.

The first was to be guided by principles. I realized that in the midst of panic and my mental block, if I followed my principles, I acted correctly. I remember the first night in the concentration camp that the guerrillas had built in the middle of the jungle. It had 12-foot-high bars, barbed wire, lookouts in the four corners, and armed men pointing guns at us 24 hours a day. The first morning, some men arrived and yelled: “Count off! Count off!”

My fellow hostages woke up, startled, and began to identify themselves in numbered sequence. But when it was my turn, I said, “Ingrid Betancourt. If you want to know if I’m here, call me by my name.”

The guards’ fury was nothing compared to that of the other hostages because they were scared — we were all scared –and they were afraid that, because of me, they would be punished. Beyond my fear I felt the need to defend my identity, to not let them turn me into a thing or a number. That was one of my principles: to defend what I considered to be human dignity.

The jungle is like a different planet — a world of shadows, bugs, jaguars, anacondas. But none of these animals did us as much harm as the humans.

But make no mistake. The guerrillas had been kidnapping for years, and they had developed a technique to break us, to defeat us and to divide us. So the second step was to learn how to build trust and unite.

The jungle is like a different planet. It’s a world of shadows, of rain, with the hum of millions of bugs, like majiña ants and bullet ants. While I was in the jungle, I didn’t stop scratching for a single day. Of course, there were also jaguars, tarantulas, scorpions, anacondas — I once came face to face with a 24-foot-long anaconda that could have swallowed me in one bite.

Still, I want to tell you that none of these animals did us as much harm as the humans. The guerrillas terrorized us. They spread rumors. Among the hostages, they sparked betrayals, jealousy, resentment and mistrust. The first time I escaped for a long time was with Lucho. Lucho had been a hostage for two years longer than me. We decided to tie ourselves up with ropes and lower ourselves into the dark water full of piranhas and alligators. During the day, we would hide in the mangroves, and at night, we would get in the water, swim, and let the current carry us. That went on for several days, until Lucho became sick. A diabetic, he fell into a diabetic coma, and the guerrillas captured us.

But after having lived through that with Lucho and after having faced fear together, united, nothing — not punishment, not violence — could ever again divide us. At the same time, all of the guerrillas’ manipulation was so damaging to us that even today, tensions linger among some of the hostages I was held with. It was passed down from all of the poison that the guerrillas created.

“Ingrid, you know I don’t believe in God,” said Pincho. I told him, “God doesn’t care. He’ll still help you.”

The third step was to learn how to develop faith — it is very important to me. Jhon Frank Pinchao was a police officer who had been a hostage for more than eight years. He was famous for being the biggest scaredy-cat of us all. But Pincho — I called him “Pincho” — had decided he wanted to escape, and he asked me to help him. By that point, I basically had a master’s degree in escape attempts.

We were delayed because, first, Pincho had to learn how to swim, and we had to carry out our preparations in total secrecy. When we finally had everything ready, Pincho came up to me and said, “Ingrid, suppose I’m in the jungle, and I go around and around in circles, and I can’t find the way out. What do I do?”

“Pincho, you grab a phone, and you call the man upstairs,” I said.

“Ingrid, you know I don’t believe in God,” he said.

I told him, “God doesn’t care. He’ll still help you.”

That evening, it rained all night. The following morning, the camp woke up to a big commotion because Pincho had fled. The guerrillas made us dismantle the camp, and we started marching. During the march, the head guerrilla told us that Pincho had died, and they’d found his remains eaten by an anaconda. Seventeen days passed — and believe me, I counted them, because they were torture for me — and on the seventeenth day, the news exploded from the radio: Pincho was free and obviously alive.

And this was the first thing he said: “I know my fellow hostages are listening. Ingrid, I did what you told me. I called the man upstairs, and he sent me the patrol that rescued me from the jungle.”

That was an extraordinary moment. Obviously, fear is contagious. But faith is, too. Faith isn’t rational or emotional. Faith is an exercise of the will. It is the discipline of the will. It’s what allows us to transform everything that we are — our weaknesses and our frailties — into strength and power. It’s truly a transformation. It’s what gives us the strength to stand up in the face of fear, look above it, and see beyond it. I know we all need to connect with that strength we have inside of us during the times when there’s a storm raging around our boat.

Yes, fear is part of the human condition, but it’s also the guide by which each of us builds our identity and our personality.

Many, many, many, many years passed before I could return to my house. But when they took us, handcuffed, into the helicopter that finally brought us out of the jungle, everything happened as quickly as when they had kidnapped me. In an instant, I saw the guerrilla commander at my feet, gagged, and the rescue leader, yelling, “We’re the Colombian army! You are free!” And the shriek that came out of all of us when we regained our freedom continues to vibrate in me to this day.

Now I know they can divide all of us; they can manipulate us all with fear. The “No” vote on the peace referendum in Colombia; Brexit; the idea of a wall between Mexico and the United States; Islamic terrorism — they’re all examples of using fear politically to divide and recruit us. We all feel fear. But we can all avoid being recruited by using the resources we have — our principles, unity, faith. Yes, fear is part of the human condition as well as being necessary for survival. But above all, fear is the guide by which each of us builds our identity and our personality.

I was 41 years old the first time I felt fear, and feeling it was not my decision. But it was my decision what to do with it. You can survive by crawling along, filled with fear. But you can also rise above that fear, spread your wings, and soar. You can fly high — so high until you reach the stars, where all of us want to go.

ANDA SUDAH MENIKAH? PERHATIKAN ATURAN MAIN BERSOSIAL MEDIA.

Ada pasangan yang santai, ada yang tidak peduli. Ada yang amat percaya, ada pula yang sangat sensitif. Semua itu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari Anda. Apa yang menurut Anda tidak penting, belum tentu tak penting bagi pasangan Anda. Apa yang remeh bagi Anda, bisa saja itu merupakan sumber sakit hati bagi pasangan Anda. Bijaksanalah dalam bersosial media. 

Bagi sebagian orang, sosial media mungkin masih dianggap sebagai sarana hiburan yang kurang penting. Tetapi bagi sebagian besar lainnya, sosial media saat ini telah menduduki posisi yang cukup serius dalam banyak bidang. Sebut saja seorang yang memiliki sebuah usaha, ia akan menggunakan sosial media sebagai portfolio bisnisnya. Atau seorang yang sedang melamar sebuah pekerjaan, pihak HRD sudah mulai memasukkan pertanyaan berikut sebagai sebuah pertanyaan wajib: “Anda memiliki akun sosial media apa saja?” 

Sebagai seorang yang menggeluti dunia sosial media sejak tahun 2003 (Oh, hello Friendster! Haha…), saya melihat fenomena yang luar biasa dalam dunia ini. Sosial media yang awalnya dianggap hanya hiburan biasa, bisa berubah menjadi ajang pertikaian, permusuhan, perpecahan, bahkan… perceraian! Tak percaya? Sebut saja si A, yang saat diam-diam berkencan dengan selingkuhannya, sejenak lupa diri, berfoto wefie bersama sang pacar, lalu tanpa atau dengan sengaja, sang pacar mengunggahnya ke sosial media. Foto itu kemudian di like oleh salah satu kawan yang ternyata berkawan juga dengan sang istri. Dapat dipastikan kemunculan foto itu di kolom explore menjadi sebuah ajang pertikaian seru yang berakhir tragis. 
Demikian luar biasanya efek sosial media. Melihat fenomena ini, saya pikir, ada baiknya pasangan yang telah menikah memahami aturan main bersosial media, agar terhindar dari keributan yang tak seharusnya terjadi. Menurut saya, ada 5 (lima) hal yang perlu diperhatikan dalam bersosial media bagi pasangan menikah:

1. Follow

Kita memang tak bisa mengontrol followers. Namun kita bisa mengontrol SIAPA yang kita follow. Hati-hati saat mem-follow akun lawan jenis. Pastikan Anda memiliki alasan tepat saat mengikuti akun tersebut. Temankah? Artis idola? Seseorang yang memiliki kesamaan hobi? Seseorang yang dapat menjadi sumber inspirasi? atau sumber informasi bermanfaat? Semoga hal-hal inilah yang menjadi alasan mengapa Anda mengikuti sebuah akun. Diluar itu? Sebaiknya jangan. Hindari mem-follow akun lawan jenis yang sering mengunggah foto-foto tak layak yang dapat menjadi sumber bencana dalam hubungan Anda. Ingat: Pasangan Anda akan sangat merasa sakit hati dan dilecehkan saat mengetahui pasangannya mengikuti akun lawan jenis dengan feed yang kurang senonoh. Last but not least, mem-follow akun pasangan Anda adalah sebuah KEWAJIBAN, bukan PILIHAN 🙂

2. Like

Masih berhubungan dengan akun lawan jenis. Poin ini terkesan sepele, namun ternyata, banyak pasangan yang akhirnya bertengkar karena masalah ini. “Kenapa sih akun si A selalu kamu like, sementara akun aku nggak pernah kamu like?” Bisa jadi, ini merupakan pertanyaan awal munculnya sebuah MUSIBAH GUNUNG MELETUS yang sebaiknya Anda sikapi dengan benar. Menyukai foto atau postingan pasangan Anda merupakan sebuah tindakan autopilot yang sebaiknya kita lakukan – bagus atau tidak bagus gambarnya – demi ketentraman hidup bersama. Haha… (Lagipula, apa susahnya? Tinggal click. Anda tak perlu mengeluarkan tenaga dan uang bukan?)

3. Comment

Satu lagi sumber malapetaka yang (ternyata) telah terbukti! Hati-hati meninggalkan komentar pada akun lawan jenis. Terutama apabila orang tersebut juga telah menikah. Banyak sekali pertengkaran dalam rumah tangga yang muncul dikarenakan hal ini. Hati-hati saat berkomentar terhadap postingan foto diri si lawan jenis. Kata-kata sesimple: “Kamu cantik…” bisa jadi akan membunyikan genderang perang di rumah Anda. Menjaga perasaan pasangan Anda jauh lebih penting daripada berkomentar di postingan orang lain. Mari menjaga keamanan dan ketertiban hidup bersama.

4. DM (Direct Message)

Mungkin Anda berpikir, agar terhindar dari masalah, sebaiknya saya berkomentar via DM saja. Ini pernah – kalau tak ingin disebut sering – terjadi pada saya pribadi. oleh karena itu, beberapa hari yang lalu saya mengeluarkan status kejam terhadap lawan jenis yang kurang beretika saat mengirimkan DM. Menjaga kepercayaan pasangan Anda jjauh lebih penting dari apapun juga! Ingat, orang yang Anda DM itu bukan siapa-siapa. Jangan mengorbankan hubungan demi memuaskan rasa iseng Anda!

5. Password

Ada baiknya pasangan suami istri saling mengetahui password masing-masing. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Belajar terbuka merupakan sebuah langkah penting dalam menjaga hubungan dengan pasangan Anda. Hal ini juga menunjukkan bahwa Anda tidak berusaha menyembunyikan apapun dari pasangan Anda. Bukan maksud untuk membuat diri tak percaya pada pasangan, namun untuk menjaga hati masing-masing. Suami saya tahu segala password dalam hidup saya. Hal ini membuat saya tenang sekaligus berhati-hati dalam melakukan segala hal. 

Akhir kata, semua ini tentu kembali kepada value dan tata cara Anda dalam menjaga hubungan dengan pasangan Anda. Ada pasangan yang santai, ada yang tidak peduli. Ada yang amat percaya, ada pula yang sangat sensitif. Semua itu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari Anda. Apa yang menurut Anda tidak penting, belum tentu tak penting bagi pasangan Anda. Apa yang remeh bagi Anda, bisa saja itu merupakan sumber sakit hati bagi pasangan Anda. Bijaksanalah dalam bersosial media. Seperti banyak orang berkata: “Jangan terlalu serius bersosial media. Ini hanya ajang hiburan belaka.” Nah, mari kita kembalikan sosial media pada fungsinya yang semula. Sebagai hiburan, tempat mencari informasi, berkawan dan berkreasi, dan bukan sebaliknya. Selamat bersosial media! Ingat: Pasanganmu, keluargamu, kawan-kawan sehari-harimu adalah pertemananmu yang sejati. (KB)

THE IMPORTANCE OF REST

Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjalankan tugas sebagai istri dan ibu membutuhkan energi lahir bathin yang tidak sedikit. Mungkin pekerjaan yang kita lakukan tak sehebat seorang direktur atau presiden. Tetapi percayalah, kesiapan lahir bathin yang
maksimal amat sangat dibutuhkan.

 Saya mencoba mengingat-ingat, seperti apa hari-hari awal saya saat  menjadi seorang ibu. Jujur saja, jika disuruh mengulang kembali masa itu, rasanya saya akan lebih memilih untuk mendaki gunung Himalaya daripada kembali ke masa itu. Bukan! Bukan karena saya tidak menyukai peran saya sebagai ibu. Tapi justru karena saya merasa melakukan itu semua benar-benar MEMBUTUHKAN fokus, keseriusan, dedikasi, kesungguhan hati, tenaga dan komitmen yang tiada akhirnya. Bayangkan jika kita
bekerja di sebuah perusahaan. Saat kita merasa tugas dan tanggung jawab yang
kita emban tak sesuai atau terlalu melelahkan, kita bisa saja mengajukan
pengunduran diri atau pemindahan posisi ke departemen lain bukan? Tetapi menjadi ibu? Kita takkan pernah dapat melakukan kedua hal itu bila kelelahan atau stres melanda.

 Lalu bagaimana kita dapat menjalani semua ini dengan penuh kekuatan, ketabahan dan kesabaran seratus persen? BERISTIRAHATLAH!

 Istirahat lebih dari sekedar tidur nyenyak di malam hari. Istirahat bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, beristirahat juga berarti melakukan hal-hal yang dapat menyegarkan pikiran, jiwa dan raga. Sesuatu yang membangkitkan suasana hati kita. Dan saya percaya, setiap kita memiliki cara tersendiri untuk melakukan ritual ‘istirahat’ ini.

 Beberapa orang sering menyalah artikan ritual istirahat sebagai sebuah bentuk kemalasan. Padahal beristirahat (apapun cara dan bentuknya) amat dibutuhkan secara fisik, emosi dan mental, demi kesehatan hubungan kita dengan anak-anak dan terutama kesehatan rumah tangga dan pernikahan. Memaksakan diri untuk terus memberi padahal hati, jiwa, pikiran dan fisik kita lelah dan kosong merupakan sebuah kesalahan besar dan serius, yang dapat menyebabkan ledakan bom waktu di saat yang kurang tepat nantinya. Kita perlu beristirahat, agar kita dapat siap melayani, mencintai dan merawat keluarga kita dengan limpahan cinta yang sehat, yang muncul dari – salah
satunya – istirahat yang cukup.

 Satu hal perlu kita ingat, istirahat yang sesungguhnya bukanlah aktifitas serupa minum kopi, nonton TV sambil bermalas-malasan, ngemil atau membuka-buka media sosial lewat perangkat gadget Anda. Tetapi lebih dari itu, beristirahat yang benar adalah dengan sungguh-sungguh menggali dan mencari hal-hal yang dapat menyegarkan tubuh dan pikiran kita yang lelah. Dan hal ini tidak akan kita dapatkan hanya dengan melakukan hal-hal diatas. Kita harus mampu mengidentifikasi dan menyediakan waktu khusus untuk hal-hal yang dapat menginspirasi dan membangun gairah, menghidupkan harapan-harapan kita, membawa kesembuhan jiwa dan mental, mengasah kreatifitas serta mengundang sukacita.

Beberapa hal sederhana yang mengandung unsur beristirahat
adalah: tidur nyenyak, berkebun, tertawa, meditasi, melukis, membaca dan menonton film-film berkualitas. Beberapa hal ini dapat menyegarkan pikiran,
hati, jiwa serta mengasah gairah kita dalam melakukan aktifitas rutin dan
tanggung jawab kita sehari-hari.  Temukan
aktifitas yang dapat memberikan istirahat yang sesungguhnya bagi fisik, mental
dan jiwa kita. So moms, start making your
list now and have a great rest!